https://bisnis.tempo.co/read/1214433/sri-mulyani-asumsi-makro-apbn-2019-bakal-meleset-dari-target/full&view=ok
Sri Mulyani: Asumsi Makro APBN 2019 Bakal
Meleset dari Target
Reporter:
Muhammad Hendartyo
Editor:
Rr. Ariyani Yakti Widyastuti
Kamis, 13 Juni 2019 22:25 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan keterangan pers mengenai
Pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) 2019 di Kementerian Keuangan,
Jakarta, Jumat, 24 Mei 2019. ANTARA
<https://statik.tempo.co/data/2019/05/24/id_844270/844270_720.jpg>
Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan keterangan pers mengenai
Pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) 2019 di Kementerian Keuangan,
Jakarta, Jumat, 24 Mei 2019. ANTARA
*TEMPO.CO*, *Jakarta* - Menteri Keuangan Sri Mulyani
<https://bisnis.tempo.co/read/1214083/tiket-pesawat-mahal-sri-mulyani-minta-perjalanan-dinas-efisien>
Indrawati memperkirakan asumsi makro ekonomi pada Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara atau APBN 2019 akan meleset dari target. Hal itu
karena melihat kondisi perekonomian global yang masih dalam gejolak
ketidakpastian.
*Baca: *Sri Mulyani Pastikan Gaji ke-13 PNS Cair 1 Juli 2019
<https://bisnis.tempo.co/read/1214363/sri-mulyani-pastikan-gaji-ke-13-pns-cair-1-juli-2019>
"Jika melihat APBN 2019 ini, maka asumsi makro yang kami gunakan di
dalam APBN 2019, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan mengalami
tekanan, sehingga terjadi downside risk," kata Sri Mulyani di kompleks
Dewan Perwakilan Rakyat, Jakarta, Kamis, 13 Juni 2019.
Sri Mulyani mengatakan risiko untuk tahun 2019 telah sudah terjadi
downside risk akibat adanya perang dagang. Selain itu, terdapat
faktor-faktor lain yang juga memberikan kontribusi negatif terhadap
kondisi ekonomi dunia, seperti kondisi Brexit yang masih terus terjadi
ketidakpastian.
Selain itu, ada fluktuasi harga minyak dan harga komoditas, juga kondisi
geopolitik yang juga mengalami tensi dan juga moderasi pertumbuhan
ekonomi Cina. "Kami kemarin baru saja menghadiri pertemuan G20 dan ini
masih terkonfirmasi faktor-faktor yang merupakan downside risk saat ini
masih cukup terlihat di dalam interaksi di antara para menteri keuangan
dan Gubernur Bank Sentral G20," ujar Sri Mulyani.
Dalam APBN, kata Sri Mulyani, khususnya untuk inflasi masih akan tetap
sama akan mengalami penguatan dibandingkan asumsi. Untuk Surat
Perbendaharaan Negara atau SPN tiga bulan, dia memprediksi mengalami
sedikit tekanan. Hal itu akan terjadi meskipun pada semester kedua 2019
tekanan kenaikan suku bunga global akan berkurang secara drastis.
Sri Mulyani juga memperkirakan asumsi lifting minyak dan gas bakal
meleset dari target. "ICP (harga minyak mentah) yang US$ 70 per barel
juga diperkirakan akan mengalami tekanan ke bawah. Sedangkan lifting
minyak dan gas juga dua-duanya diperkirakan tidak tercapai atau ada
risiko mengalami pencapaian yang lebih rendah dari asumsi dengan kondisi
tersebut," ujarnya.
Tak hanya itu, Sri Mulyani memprediksi bakal terjadi tekanan terhadap
pendapatan negara, di mana hal itu akan terlihat dari sisi hibah
perpajakan. Hal itu terjadi bisa berasal dari risiko global penurunan
ekspor, investasi dan penurunan dari pendapatan perusahaan yang
mengandalkan pada komoditas.
*Baca: *Genjot Pertumbuhan, Sri Mulyani: Butuh Investasi Rp 5.823
Triliun
<https://bisnis.tempo.co/read/1214376/genjot-pertumbuhan-sri-mulyani-butuh-investasi-rp-5-823-triliun>
Tekanan terhadap pendapatan negara juga berasal dari sisi penerimaan
negara bukan pajak atau PNBP, yang masih dominan dari sumber daya alam.
"Sisi belanja kita masih melihat tren dari belanja pemerintah yang masih
cukup sesuai dengan asumsi awal, yaitu realisasi belanja pada kisaran
antara 94 hingga 97 persen," kata Sri Mulyani
<https://www.tempo.co/tag/sri-mulyani>.
------------------------------------------------------------------------