https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1538-asasinasi-politik
/*Asasinasi Politik*/
Penulis: *Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group* Pada: Kamis, 13 Jun
2019, 05:30 WIB podium <https://mediaindonesia.com/podiums>
<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1538-asasinasi-politik>
<https://twitter.com/home/?status=Asasinasi Politik
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1538-asasinasi-politik
via @mediaindonesia>
Asasinasi Politik
<https://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/podiums/2019/06/3284a6ca7e981fd11b1de0c109c0c85d.jpg>
/MI/
Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
TERUS terang hingga detik ini saya sulit memahami bahwa pilpres yang
demokratis menyimpan hasrat pembunuhan. Saya kiranya terlalu naif.
Pilpres ajang kontestasi dan kompetisi terbuka untuk memenangkan hati
warga yang punya hak suara. Pembunuhan rencana tertutup untuk menghabisi
nyawa. Di mana kiranya dua perkara itu bertemu?
Warga datang ke TPS membawa pilihan yang akan dicoblos. Untuk itu warga
merdeka, tidak ada paksaan yang bikin orang marah lalu berniat membunuh.
Karena itu tidak pernah terbayangkan bakal ada rencana pembunuhan
beberapa orang penting di negeri ini demi tujuan politik, demi
kemenangan salah satu capres.
Menurut polisi, tersangka utama ialah purnawirawan berpangkat jenderal.
Untuk sampai ke pangkat itu sang prajurit bukan saja melewati berbagai
penugasan dan ekspose sebagai tour of duty, tetapi terbentuk dan
tertempa jiwa kesatria.
Tentara dilatih untuk bertempur. Di medan tempur, pilihannya hidup atau
mati, membunuh atau dibunuh. Keberanian mempertaruhkan nyawa demi
membela negara itu diekspresikan antara lain dalam prinsip 'esa hilang,
dua terbilang'.
Akan tetapi, semua kehebatan bertempur, membunuh, atau dibunuh itu tidak
dipakai dalam damai, dalam supremasi sipil yang salah satu puncaknya
ialah rakyat menggunakan hak konstitusinya untuk memilih presiden yang
dipercaya dapat menjadikan Indonesia lebih baik 5 tahun ke depan.
Asasinasi politik bukan perkara baru dalam sejarah peradaban manusia.
Yang paling menonjol di masa sebelum masehi asasinasi Julius Caesar (44
SM), yang menonjol di masa modern asasinasi John F Kennedy (1963).
Yang dibunuh umumnya kepala negara atau kepala pemerintahan. Terhadap
Bung Karno beberapa kali ada yang ingin membunuhnya, namun gagal.
Rencana asasinasi berkaitan Pilpres 2019 digagalkan polisi. Kata polisi,
sasaran rencana asasinasi itu ialah tiga pejabat negara, bukan kepala
negara. Bahkan, termasuk rencana pembunuhan seorang sipil pimpinan
sebuah lembaga survei yang antara lain melakukan hitung cepat.
Studi menunjukkan asasinasi dilakukan pribadi yang jiwanya tidak stabil.
Bahkan, makin hebat mengidap delusi, makin tinggi keberhasilannya.
Delusi atau bukan yang diduga diidap tersangka biarlah domain psikiatri.
Urusan polisi ialah menuntaskannya sampai ke pengadilan dan biarlah
hakim yang bebas dan merdeka memutus apakah mereka bersalah atau tidak.
Yang jelas kasus rencana asasinasi itu menunjukkan demokrasi kita memang
dalam stagnasi, bahkan menyimpan krisis dan mesiu yang 'siap' meledak
entah kapan.
<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1538-asasinasi-politik>
<https://twitter.com/home/?status=Asasinasi Politik
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1538-asasinasi-politik
via @mediaindonesia>