https://mediaindonesia.com/read/detail/241540-mayoritas-rakyat-nilai-pemilu-jurdil
/*Mayoritas Rakyat Nilai Pemilu Jurdil*/
Penulis: *Putri Rosmalia Octaviyani* Pada: Senin, 17 Jun 2019, 06:30 WIB
Politik dan Hukum <https://mediaindonesia.com/politik-dan-hukum>
<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/read/detail/241540-mayoritas-rakyat-nilai-pemilu-jurdil>
<https://twitter.com/home/?status=Mayoritas Rakyat Nilai Pemilu Jurdil
https://mediaindonesia.com/read/detail/241540-mayoritas-rakyat-nilai-pemilu-jurdil
via @mediaindonesia>
Mayoritas Rakyat Nilai Pemilu Jurdil
<https://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/news/2019/06/88d284728028cc209e5c04af34b0afa1.jpg>
/MI/PIUS ERLANGGA/
Direktur Program SMRC Sirojudin Abbas.
HASIL survei yang dilakukan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC)
menunjukkan mayoritas rakyat Indonesia percaya bahwa Pemilu Serentak
2019 berlangsung jujur dan adil (jurdil). Sebanyak 69% responden menilai
pilpres berlangsung jurdil dan 68% berpandangan yang sama untuk pileg.
Dalam pemaparan di Jakarta, kemarin, Direktur Program SMRC Sirojudin
Abbas mengatakan hasil survei nasional bertajuk Kondisi Demokrasi dan
Ekonomi Politik Nasional Pascaperistiwa 21-22 Mei: Sebuah Evaluasi
Publik itu mementahkan sorotan negatif dari sebagian kalangan terhadap
pelaksanaan pemilu.
Salah satu pihak yang meyakini pemilu tidak jurdil ialah pasangan
capres-cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Mereka
menilai pilpres sarat kecurangan dan menggugat ke Mahkamah Konstitusi
untuk mendiskualifikasi pasangan terpilih Joko Widodo-Ma'ruf Amin. "Jadi
anggapan bahwa pemilu tidak berlangsung jurdil tidak sejalan dengan
penilaian mayoritas warga Indonesia," ujar Sirojudin.
Dari responden yang memberikan penilaian baik, imbuhnya, 14% menganggap
Pilpres 2019 berjalan sangat jurdil dan 55% lainnya menganggap cukup jurdil.
Penilaian itu tidak jauh berbeda dengan di Pemilu 2009 dan 2014. Pada
Pemilu 2009, sebanyak 67% responden menilai pemilu berlangsung jurdil,
sementara pada 2014 lebih tinggi lagi, yakni 70,7%.
Sama halnya dengan penilaian terhadap pemilu, kata Sirojudin, masyarakat
yang percaya terhadap sistem demokrasi Indonesia juga masih mendominasi.
Sebanyak 82% responden menganggap demokrasi ialah pilihan terbaik untuk
Indonesia.
Sebanyak 66% masyarakat juga masih menganggap positif kondisi demokrasi
di Indonesia. Angka itu memang menurun bila dibandingkan dengan sebelum
kerusuhan 21-22 Mei yang mencapai 74%. "Namun, angka yang ada saat ini
membuktikan bahwa masyarakat secara umum masih percaya dan belum
menyerah dengan sistem demokrasi yang ada."
Direktur Eksekutif Perludem, Titi Anggraini, menyatakan survei tersebut
membuktikan bahwa meski mengalami berbagai tantangan, demokrasi di
Indonesia masih memiliki tempat strategis di masyarakat. "Itu yang harus
dijaga oleh semua pihak, khususnya pemerintah," tandasnya.
Menurut sosiolog UI, Thamrin Amal Tamagola, hasil survei SMRC merupakan
modal yang sangat baik bagi perkembangan kehidupan demokrasi Indonesia
ke depan.
*Tepis anggapan*
Juru bicara Tim Kampanye Nasional Jokowi-Amin, Jerry Sambuaga,
menyatakan hasil survei SMRC secara tidak langsung menepis anggapan kubu
Prabowo-Sandi bahwa Pemilu 2019 penuh kecurangan.
"Pihak yang kalah pasti mengatakan kecurangan. Itu biasa. Kami rasa
isu-isu kecurangan hanya ramai di media sosial yang tidak mencerminkan
suara rakyat. Faktanya, masyarakat bisa menerima apa pun hasil pemilu,"
tandasnya.
Di lain sisi, juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Sandi,
Faldo Maldini, menyatakan hasil survei SMRC tidak fair. "Survei itu kan
mau bilang yang merasa pemilu kurang jurdil hanya pendukung paslon 02."
Faldo juga meminta SMRC menjelaskan kenapa hanya 14% yang menyatakan
pemilu berjalan sangat jurdil. (Pol/Mir/X-8)