Artikel <https://www.antaranews.com/slug/artikel>
Asa Jokowi menggenjot modernisasi pertanian
Senin, 1 Juli 2019 00:45 WIB
Asa Jokowi menggenjot modernisasi pertanian
Presiden terpilih Jokowi dan Wakil Presiden terpilih KH Maruf Amin
(Antara /Hanni Sofia)
Jakarta (ANTARA) - Sektor pertanian saat ini masih menjadi sendi utama
perekonomian Indonesia. Setidaknya empat dari sepuluh komoditas ekspor
andalan berasal dari produk pertanian, yakni karet, sawit, kakao dan kopi.
Joko Widodo, presiden terpilih periode 2019-2024, menilai sektor
pertanian menjadi industri yang penting dan strategis, tidak hanya
sebagai tulang punggung perekonomian, tetapi juga ketahanan pangan
masyarakat Indonesia.
Selama periode kepemimpinannya sejak 2014, janji swasembada pangan
memang belum terealisasi sempurna. Namun begitu, Indonesia juga harus
siap menghadapi tantangan revolusi industri 4.0, di mana penguasaan
teknologi menjadi krusial.
Semangat dan asa Jokowi untuk memodernisasi dan mendigitalisasi sektor
pertanian sudah ditekankan dalam debat capres-cawapres beberapa waktu
lalu. Ia berharap kesiapan petani dalam memasarkan produk pertaniannya
ke dalam sebuah "marketplace".
"Skarang anak muda sudah mengembangkan ekosistem 'online'. Kita akan
sambungkan dengan 'offline'. Itu juga untuk pertanian dan perikanan,"
kata Jokowi dalam debat capres-cawapres putara kelima.
Mantan Gubernur DKI Jakarta itu menekankan pentingnya mengembangkan
teknologi dan kemampuan wirausaha petani saat pascapanen agar memperoleh
keuntungan sebanyaknya. Transaksi produk pertanian melalui situs
marketplace bahkan dapat mengurangi rantai pasok sampai ke tingkat
konsumen dan memperluas wilayah pemasaran.
Saat ini setidaknya sudah ada 5 marketplace yang bisa digunakan para
petani untuk memasarkan hasil panennya secara online, yakni Agromaret,
TaniHub, aplikasi Petani, Sayurbox dan LimaKilo.
Dari marketplace yang disebutkan di atas, Jokowi dalam debat capres juga
pernah menyinggung kehadiran TaniHub, perusahaan rintisan (startup) yang
didirikan pada 2015 sebagai layanan "on-demand" untuk pengiriman produk
pertanian dari lahan hingga ke rumah tangga.
TaniHub merupakan salah satu lini bisnis yang dimiliki TaniGroup,
perusahaan teknologi rintisan yang didirikan oleh Ivan Arie dan Pamitra
Wineka. Melalui TaniHub, petani dapat langsung menjual produk
pertaniannya dengan pembeli, baik individu maupun korporasi
(supermarket, hypermarket, hotel, dan restoran).
Selain Tanihub, lini bisnis yang dikelola TaniGroup adalah TaniFund,
sebuah crowdfunding platform yang menyediakan sarana investasi bagi
masyarakat umum serta pembiayaan bagi kelompok tani yang ingin
mengembangkan usahanya.
"Program ini menghubungkan petani yang kekurangan dana dengan publik,
baik individu maupun institusi yang ingin mendanai program-program
pertanian," kata Business Partner Lead TaniGroup Lutfia Aisya.
Menurut Lutfia, ada tiga faktor yang menghambat pertumbuhan industri
pertanian di Indonesia, yakni perubahan konsumsi masyarakat, pola
budidaya para petani yang masih tradisional dan tantangan distribusi
hasil produksi pertanian.
*Baca juga: Masuki era Industri 4.0, Kementan kembangkan layanan
karantina digital
<https://www.antaranews.com/berita/769891/masuki-era-industri-40-kementan-kembangkan-layanan-karantina-digital>
Baca juga: Di depan 500-an petani, Jokowi tekankan pentingnya
digitalisasi pertanian
<https://www.antaranews.com/berita/716841/di-depan-500-an-petani-jokowi-tekankan-pentingnya-digitalisasi-pertanian>*
Kebanyakan petani melakukan budidaya tani yang tradisional dan belum
mengikuti permintaan pasar sehingga selalu ada 'gap' antara ketersediaan
dan permintaan barang.
Selain itu, sering kali petani harus melewati jalan curam dan tidak
terjangkau oleh kota besar. Namun, lewat TaniHub, permintaan pasar dapat
disesuaikan dengan sentra produksi terdekat.
Di sisi lain, Pengamat pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi
Andreas Santosa menilai pemanfaatan marketplace untuk mengurangi rantai
pasok pertanian justru berpotensi menghadirkan "middleman" atau pedagang
perantara yang mengambil keuntungan petani.
Pasalnya, petani yang memiliki fasilitas internet dan mengakses pasar
daring sangatlah kecil atau berkisar 1 persen dari total petani di
Indonesia.
Selain itu, proses penjualan produk pertanian secara daring memang
selalu ada pihak perantara yang mengumpulkan produk-produk tersebut dari
petani kemudian dipasarkan ke konsumen dengan margin yang menguntungkan
mereka.
"Justru 'middleman' yang menampung produk-produk petani kemudian
memasarkannya lewat online. Itu yang perlu jadi perhatian karena
kenyataannya akses petani kecil di 'on farm' terhadap internet masih
kecil," kata Dwi.
*Modernisasi dari SDM hingga alsintan*
Pada kenyataannya, jumlah di sektor pertanian mayoritas diisi oleh para
petani senior yang tentunya masih harus menyesuaikan diri dalam
perubahan teknologi termasuk akses terhadap internet.
Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber
Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) menargetkan dapat mencetak 1 juta
petani milenial yang nantinya dapat menjadi pengusaha atau agripreneur
hingga tahun 2020.
"Target BPPSDMP untuk tahun 2019-2020, diarahkan membentuk 40 kelompok
pengusaha muda atau agripreneur yang diharapkan bisa mencakup 1 juta
pengusaha," kata Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian BPPSDM Pertanian Siti
Munifah.
BPPSDM Pertanian melakukan berbagai upaya untuk mencetak 1 juta
agripreneur yang bertujuan meregenerasi sektor pertanian. Regenerasi
pertanian dinilai penting lantaran kebutuhan pangan di masa depan akan
semakin besar seiring laju pertumbuhan penduduk.
Sejak awal Januari 2019, Kementan telah meluncurkan program santri
milenial. Program ini menggerakkan para santri untuk terjun dalam
produktivitas pertanian dengan bantuan benih unggul dari pemerintah,
seperti hewan ternak, unggas dan alat mesin pertanian (alsintan).
*Baca juga: Peneliti apresiasi modernisasi alat pertanian untuk
ketahanan pangan
<https://www.antaranews.com/berita/829953/peneliti-apresiasi-modernisasi-alat-pertanian-untuk-ketahanan-pangan>*
Gerakan Petani Milenial ini dilakukan dengan pendekatan per kelompok
yang terbagi dalam 40 ribu kelompok petani. Kelompok tani tersebut
dibagi ke dalam zona kawasan jenis komoditas pertanian, antara lain
tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan.
Selain dari santri milenial, Kementan juga memberikan bantuan modal
usaha kepada mahasiswa pertanian maupun sarjana pertanian perguruan
tinggi melalui program Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian (PWMP).
"Bantuan modal stimulan ini untuk mengawali usaha bidang pertanian,
khususnya bagi para 'fresh graduate' sehingga program 'start up' mereka
bisa berkembang," kata Siti.
Upaya menarik milenial untuk terjun langsung menggarap lahan pertanian
juga didorong dengan bantuan mekanisasi alat dan mesin pertanian
(alsintan). Menteri Pertanian Andi Amran mengatakan pemberian alsintan
dapat mengubah pola pikir calon petani muda bahwa bisnis pertanian dapat
dilakukan secara modern.
"Kami ingin hadirnya petani milenial nanti bisa segera menjalankan
digitalisasi. Jadi nanti garap tanahnya itu tidak lagi manual, sudah
pakai remote control semua dari mekanisasi ini," kata Menteri Amran.
Mekanisasi alsintan juga terbukti menghemat biaya produksi, contohnya
pengolahan tanah dengan cangkul membutuhkan tenaga kerja sebanyak 30-40
orang per hari dengan lama kerja 240-400 jam per hektar, dengan biaya
mencapai Rp2 juta-Rp2,5 juta.
Namun, dengan mekanisasi menggunakan traktor, tenaga yang dibutuhkan
hanya dua orang dengan waktu kerja 16 jam per hektar, dengan biaya hanya
Rp900.000 hingga Rp1 juta.
Berdasarkan catatan Kementerian Pertanian (Kementan), pada periode
2015-2018 pemberian alsintan dengan beragam jenis telah dibagikan kepada
petani dengan masing-masing berjumlah 157.493 unit pada 2015, 110.487
unit pada 2016, 321 ribu unit pada 2017 dan 80 ribu unit pada 2018.
*Baca juga:CIPS ingatkan kebijakan pangan bukan hanya soal swasembada
<https://www.antaranews.com/berita/868118/cips-ingatkan-kebijakan-pangan-bukan-hanya-soal-swasembada>
Baca juga:Ekonom nilai tekan defisit lewat swasembada pangan dan energi
populis
<https://www.antaranews.com/berita/829492/ekonom-nilai-tekan-defisit-lewat-swasembada-pangan-dan-energi-populis>*
Pramono Anung sebut rekonsiliasi politik terus berlanjit
Play Video
Play
Unmute
Current Time 0:00
/
Duration 2:05
Loaded:0%
Seek to live, currently playing liveLIVEFullscreen
Pewarta: Mentari Dwi Gayati
Editor: Royke Sinaga
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com