Zus Titiek, Program Petani Milennial itu tidak sama semuanya. Ada yang hanya untuk tanaman horticultura, ada yang hanya untuk pelihara ayam pedaging atau petelur saja untuk petani yang tidak punya tanah luas. Saya pernah omong-omong dengan crew kapal Holland American Line, dan karena saban hari dia yang melayani beberapa meja tetap di makan sore, pagi harinya saya sempat ngobrol dengan dia sama-sama wong Solo. jadi seperti ada ikatan oran sekota. Dia cerita, wah dulu waktu dia mulai kerja, anaknya masih kecil. Waktu dia balik, si anak sudah agak besar, tetapi tidak kenali dia. Tanya pada ibunya, Oom ini siapa. Wah, dia sampai jatuh air mata , trnyuh dengari anaknya omong begitu. Tepi sekarang lain, dengan hubungan pakai laptop, dan di kapal bisa pakai internet, jadi tiap hari bisa ada kontak. Saya tanya, kalau pulang bawa uang, uangnya untuk usaha apa? Yang dari Solo cerita, dia usaha telur ayam, yang dikerjakan istrinya kalau dia kerja beberapa bulan di kapal.. Ini paling gampang, karena semua obat2an, makanan ayamnya disediakan oleh agen besar seluruh Jateng, yang juga terima telur hasil produksinya. Dia cerita kalau dia bikin kandang ayam bertingkat dua, jadi produksinya dua kali lipat dari pada kandang2 biasa. Yang penting ya harus suntiki ayam sejak kecil menurut petunjuk supaya bebas penyakit. Waktu itu ada dua crew asal Solo yang sama2 punya usaha ayam petelur, yang diurus istri mereka. Kalau program petani milennial umum, saya tak tahu, bagaimana masalah penjualannya. Ya, kalau pesantren mungkin lebih mudah, karena punya jaringan dengan haji-haji NU yang punya toko di pinggir kota Ada juga crew kapal yang punya usaha bikin sedotan minuman dari plastik bekas. Dia beli mesinnya dan sudah ada orang lever plastik-plastik bekasnya. Sedotan plastik bekasnya istrinya lever ke perusahaan minuman. Crew2 kapal Indonesia maju banyak. Dulu hanya boleh layani bawa makanan ke meja. Sekarang bahasa Inggris nya jauh lebih bagus, dan boleh memimpin regu. Ada juga yang boleh memimpin beberapa regu. Dulu ini dijabat orang2 India saja, atau orang kulit putih dari Eropa Timur. Di crew kapal Holland American Line, crew bagian tekniknya semuanya orang dari Indonesia, lulusan STM. Kepalanya, insinyur Belanda ,lulusan Delft. Saya dan teman dari Amerika diijinkan lihat dan dijelaskan sendiri oleh insinyur Belanda itu bagaimana cara bikin air mandi dan air minum dalam kapal dari air laut. Dia bilang, hanya beli air minum di pelabuhan2 kalau di situ harganya murah. Selebihnya buat sendiri dengan proses destillatie seperti orang bikin aqua destillata tetapi agar energie efficient pakai multiple effect evaporators seperti di pabrik2 gula, dengan vacuum, yang makin kuat pada evaporator selanjutnya. Tetapi aqua dest. itu tidak enak rasanya, dan tidak ada mineralnya. Jadi untuk air minum, aqua dst.nya dilewatkan dulu di batu-batu mineral. Dia pesan2 jangan beritahu penumpang kapal lain, nanti dia tidak bisa kerja didatangi banyak penumpang. Di Indonesia itu yang paling laku sekolah perhotelan. Dan yang lulus gampang dapat kerja. Kalau tidak di hotel, sementara kerja di restaurant2 besar. Salam, KH
Pada tanggal Rab, 3 Jul 2019 pukul 17.28 [email protected] < [email protected]> menulis: > Bung Chan, > > Saya sengaja ambil berita “Asa….pertanian” dari site antaranews yang > merupakan salah satu media pers pemerintah. Benar bung Chan, ulasan bung > samalah dengan yang terlintas dalam pikiranku. Dengan tambahan beberapa > artikel terkait tema juga dari bung Djie saya ucapkan terima kasih. > > Apa yang tersembunyi/disembunyikan dalam ‘program strategis’ itu adalah > kunci dasar bahwa yang namanya petani itu tidak lepas dari tanah. Saya > tidak akan memasuki masalah tanah yang rumit ini, tapi tidak boleh > dilupakan bahwa berkaitan dengan tema, kebanyakan petani di Indonesia > adalah petani kecil rata-rata memiliki 0,35 ha, malahan banyak pula yang > tak punya lahan – tunakisma; Nah mereka ini termasuk yang bagaimana? Yang > bukan santri mau diapakan, diabaikan ( pinjam istilah bung Chan)? Dirangkul > atau sebaliknya, malahan semakin dipojokkan sampai semarginal mungkin? Akan > terjadikah diskriminasi yang semakin parah terutama pada kelompok lemah > ini? Megapa hal-hal demikian malahan tidak disiarkan program kongkrit > pelaksanaan perlindungan ataupun bantuan terhadap mereka? Mereka juga > adalah Sumber Daya Manusia yang sama dengan yang lainnya. > > Untuk selanjutnya memang perlu pengawalan pelaksanaan program petani > milenial yang tidak diskriminatif apalagi yang dilatarbelakangi SARA. > > Salam, > > Titiek Maslam > *Dari:* ChanCT [email protected] [GELORA45] <[email protected]> > *Kepada:* "[email protected]" <[email protected]>; > [email protected] <[email protected]>; Kh Djie <[email protected] > > > *Terkirim:* Rabu, 3 Juli 2019 02.29.55 GMT+2 > *Judul:* Re: [GELORA45] Asa Jokowi menggenjot modernisasi pertanian [3 > Attachments] > > GRATIS animaties voor je e-mail door IncrediMail! > <http://www.incredimail.com/?id=621135&did=10501&ppd=2817,201207081212,19,1,748381452807962623&rui=163732520&app_test_id=0&sd=20190703> > > <http://www.incredimail.com/?id=621135&did=10501&ppd=2817,201207081212,19,1,748381452807962623&rui=163732520&app_test_id=0&sd=20190703> > Klik hier! > <http://www.incredimail.com/?id=621135&did=10501&ppd=2817,201207081212,19,1,748381452807962623&rui=163732520&app_test_id=0&sd=20190703> > <http://www.incredimail.com/?id=621135&did=10501&ppd=2817,201207081212,19,1,748381452807962623&rui=163732520&app_test_id=0&sd=20190703> > ► > <http://www.incredimail.com/?id=621135&did=10501&ppd=2817,201207081212,19,1,748381452807962623&rui=163732520&app_test_id=0&sd=20190703> > <http://www.incredimail.com/?id=621135&did=10501&ppd=2817,201207081212,19,1,748381452807962623&rui=163732520&app_test_id=0&sd=20190703> > > <http://www.incredimail.com/?id=621135&did=10501&ppd=2817,201207081212,19,1,748381452807962623&rui=163732520&app_test_id=0&sd=20190703> > <http://www.incredimail.com/?id=621135&did=10501&ppd=2817,201207081212,19,1,748381452807962623&rui=163732520&app_test_id=0&sd=20190703> >
