https://news.detik.com/kolom/d-4620154/gertak-sambal-as-terhadap-iran?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.108557569.245490067.1562866954-1479429192.1562866954
Kamis 11 Juli 2019, 16:02 WIB
Analisis Zuhairi Misrawi
Gertak Sambal AS terhadap Iran
Zuhairi Misrawi - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4620154/gertak-sambal-as-terhadap-iran?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.108557569.245490067.1562866954-1479429192.1562866954#>
Zuhairi Misrawi
<https://news.detik.com/kolom/d-4620154/gertak-sambal-as-terhadap-iran?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.108557569.245490067.1562866954-1479429192.1562866954#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4620154/gertak-sambal-as-terhadap-iran?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.108557569.245490067.1562866954-1479429192.1562866954#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4620154/gertak-sambal-as-terhadap-iran?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.108557569.245490067.1562866954-1479429192.1562866954#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4620154/gertak-sambal-as-terhadap-iran?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.108557569.245490067.1562866954-1479429192.1562866954#>
2 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4620154/gertak-sambal-as-terhadap-iran?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.108557569.245490067.1562866954-1479429192.1562866954#>
Gertak Sambal AS terhadap Iran Zuhairi Misrawi (Ilustrasi: Edi
Wahyono/detikcom)
*Jakarta* - Langkah Amerika Serikat (AS) menekan Iran mendapat perhatian
banyak pihak. Kira-kira manuver apa yang akan diambil oleh Presiden
Donald Trump dalam rangka meredam pengaruh Iran di Timur-Tengah?
Pada mulanya Trump memutuskan untuk menyerang Iran pasca-jatuhya pesawat
tanpa awak AS di teritori udara Iran. Tapi keputusan tersebut dicabut
sebelum aksi militer dilancarkan ke Iran. Trump berdalih pembatalan
keputusannya terkait dengan upaya menghindari jatuhnya korban dalam
jumlah yang besar. Namun, para analis memandang sikap Trump tersebut
sebenarnya terkait dengan kalkulasi politik yang dapat menyudutkan
posisinya jelang Pemilu Presiden AS pada 2020.
Di dalam negeri AS, isu Iran ini ibarat ujung pisau yang bisa
menguntungkan sekaligus merugikan. Kubu konservatif yang menjadi basis
dukungan Trump selalu menjadikan isu Iran sebagai bagian dari kampanye
politik luar negeri yang menjadikan Iran sebagai musuh utama AS. Ancaman
Iran terhadap Israel semakin mengukuhkan sikap kubu konservatif untuk
menoleransi seluruh upaya negosiasi dan dialog dengan Iran. Karenanya,
menurut kubu Trump, berdialog dengan Iran sangat tidak menguntungkan
secara politik, karena jika itu dilakukan khawatir dapat menggerus basis
kubu konservatif.
Sementara itu, kubu demokrat memandang dialog dengan Iran dapat meredam
dan mengurai benang kusut konflik di kawasan. Mengingat Iran menjadi
salah satu pihak yang paling menentukan arah politik di Timur-Tengah.
Karena itu, Obama selama memimpin AS sangat terbuka, bahkan melakukan
dialog dan membangun kesepakatan bersejarah yang saling menghormati dan
menguntungkan, baik bagi AS maupun Iran.
Sampai saat ini, kubu demokrat di AS masih bersikukuh menentang segala
aksi militer terhadap Iran. Kalkulasi politik dan ekonomi sama sekali
tidak menguntungkan AS. Jika AS bersikukuh menyerang Iran, maka akan
menciptakan masalah besar, sebagaimana serangan ke Irak dan beberapa
konflik politik yang belakangan terjadi di kawasan Timur-Tengah.
Dalam konteks tersebut, gertak sambal Donald Trump tidak semudah
membalikkan kedua belah tangan. Langkah Trump membatalkan serangan AS ke
Iran semakin mengukuhkan posisi Iran di kawasan sekaligus AS. Iran tidak
bisa dianggap sebelah mata, karena posisi politik dan militer Iran sudah
terbukti mampu memperluas pengaruh Iran di kawasan. Sebaliknya, pengaruh
AS terus melemah di tengah amburadulnya peta jalan politik luar negeri
AS di kawasan. Trump terjepit pada tekanan Israel dan Arab Saudi yang
menyebabkan sikap AS tidak populer.
Faktor Rusia dan Turki yang memberikan dukungan penuh pada Iran semakin
mengukuhkan posisi Iran. Intinya, saat ini Iran tidak sendirian.
Dukungan yang solid dari mitra strategis, khususnya warga Iran merupakan
salah satu kekuatan penuh Iran yang setiap saat pimpinan tertinggi Iran
dalam mengambil langkah-langkah penting dalam konteks melawan AS dan
sekutunya di kawasan.
Karena itu, AS berpikir seribu kali untuk menyerang Iran. Setidaknya
hingga Pemilu 2020, Trump dipaksa untuk mengambil opsi yang sangat
realistis, yaitu memilih jalur sanksi ekonomi terhadap Iran. Opsi ini
sangat realistis bagi AS untuk melemahkan posisi politik dalam negeri Iran.
Meskipun langkah tersebut tidak selamanya benar, karena setiap sanksi
ekonomi yang diberikan AS biasanya justru dapat membangkitkan kesadaran
revolusiner warga Iran. Revolusi 1979 telah menjadi inspirasi bagi Iran
untuk menyingsingkan lengan, memberikan perlawanan yang bermartabat
terhadap AS. Faktanya, dukungan warga Iran terhadap Ayatullah Ali
Khamenei terus membesar karena sikap AS secara umum tidak berubah, yaitu
memusuhi Iran.
Dalam hal ini, gertak sambal AS terhadap Iran ibarat buah simalakama
yang makin mempermalukan wajah AS yang selama ini dikenal sebagai negara
adidaya itu. AS di bawah kepemimpinan Trump terbukti gagal memahami peta
politik Timur-Tengah yang terus mengalami perubahan, khususnya gagal
dalam memahami Iran.
AS memandang Iran sebagai negara yang mampu didikte dan digertak begitu
saja untuk mengikuti kemauan AS. Faktanya sekarang berbeda seratus
persen, ketika Iran digertak, justru Iran menunjukkan kehebatannya dari
segi persenjataan militer. Iran mampu menjatuhkan pesawat tanpa awak
tercanggih yang dimiliki AS. Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, Iran
mampu menjatuhkan rudal-rudal Israel yang ingin menyerang pangkalan
militer Iran di Suriah.
Maka dari itu, faktanya Iran tidak bisa dianggap sebelah mata oleh AS
dan sekutunya di Timur-Tengah. Iran telah terbukti memperluas
pengaruhnya di kawasan, meningkatkan kapasitas militernya, serta
membangun kemitraan strategis dengan Eropa, Rusia, China, India, Jepang
dan lain-lain.
Ironisnya, negara-negara lain mampu membangun kemitraan strategis dengan
Iran, tapi kenapa AS justru mengambil jarak, bahkan bersikap keras
terhadap Iran. Di sini dapat dipahami, bahwa sebenarnya yang bermain
bukan hanya AS, tetapi Israel dan Arab Saudi yang tidak ingin melihat
Iran menjadi negara besar.
Yang aneh memang Arab Saudi yang justru memilih bermitra dengan Israel
daripada Iran. Bahkan Arab Saudi bertahun-tahun melobi AS untuk menekan
dan menyerang Iran. Ironisnya lagi, Arab Saudi justru menjadikan isu
Palestina sebagai pertaruhan untuk melemahkan Iran.
Dengan demikian, konflik AS-Iran ini tidak akan mereda. Sampai 2020, AS
akan terus menekan Iran, khususnya sanksi ekonomi yang saat ini
diperlakukan bagi Iran. Sementara, Iran terus membangun kemitraan
strategis dengan Rusia, China, dan Jepang. Belakangan Iran berharap
negara-negara Eropa masih dalam jalur kesepakatan nuklir, sehingga
sanksi ekonomi AS tidak memberikan dampak yang luas.
*Zuhairi Misrawi* /intelektual muda Nahdlatul Ulama, analis pemikiran
dan politik Timur-Tengah di The Middle East Institute, Jakarta
/
*(mmu/mmu)*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*