http://www.sinarharapan.co/ekonomi/read/10815/catatan_ekonomi__kemiskinan_dan_penurunan_daya_beli_buruh_tani



Catatan Ekonomi: Kemiskinan dan Penurunan Daya Beli Buruh TaniSelasa , 16
Juli 2019 | 10:11


JAKARTA--Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja mengeluarkan data angka
kemiskinan penduduk yang menurun, namun lembaga pemerintan ini juga
mengungkapkan terus melemahnya daya beli petani dan buruh. Data-data
tersebut semestiya perlu dicermati secara mendalam lagi agar pengambilan
kebijakan pemerintah lebih tepat sasaran.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan jumlah penduduk
miskin turun dari posisi September 9,66% menjadi 9,41% pada Maret. "Kalau
dibandingkan September 2018 ada penurunan dari 9,66% ke 9,41% dan jumlah
penduduk miskinnya turun," kata Suhariyanto, Senin (15/7). Dijelaskan bahwa
penurunan angka kemiskinan tersebut karena adanya bantuan sosial dari
pemerintah.

Namun BPS juga mempublikasikan terjadinya penurunan nilai tukar petani
(NTP) dan buruh yang memperlihatkan melemahnya daya beli mereka selama Juni
lalu. Upah riil yang menurun ini karena kenaikan upah nominal tidak
sebanding dengan kenaikan harga-harga umum yang berlaku, atau biasa disebut
inflasi. Dengan demikian, meski buruh mengalami kenaikan pendapatan, mereka
mengalami pelemahan daya beli.

Suhariyanto mengingatkan bahwa upah buruh bangunan terus mengalami
penurunan daya beli, bahkan lebih rendah dibanding tahun lalu. Upah riil
buruh bangunan turun 0,34 persen dibanding Juni 2018 yang sebesar Rp64.425
per hari. "Tentu hal-hal seperti ini perlu diawasi oleh pemerintah,"
katanya.

Kita sependapat dengan Suhariyanto agar masalah ini harus diwaspadai oleh
pemerintah. Kita bahkan ingin mengingatkan pemerintah agar tidak selalu
mendengung-dengungkan penurunan angka kemiskinan tersebut sebagai
pencapaian yang bagus. Sebab ada beberapa indikator yang sebenarnya masih
menimbulkan tanda tanya, apakah penurunan angka kemiskinan tersebut riel
atau semu.

Hal tersebut perlu diperjelas. *Pertama*, menurut beberapa pengamat, ukuran
garis kemiskinan yang digunakan pemerintah terlalu rendah bila dibadingkan
kriteria Bank Dunia yang menetapkan standar pengeluaran US$2 per hari.
*Kedua,* peran bantuan sosial berupa uang dan beras sangat besar dalam
membantu penduduk miskin. *Ketiga,* pemerintahan presiden Jokowi telah
menetapkan target penurunan penduduk miskin menjadi 6-8% pada 2019, yang
nyatanya tidak tercapai.

Maka, pemerintah masih harus bekerja sangat keras untuk mengatasi masalah
kemiskinan tersebut dan tidak perlu terjebak dalam angka-angka yang semu.
Ini tantangan yang harus diatasi oleh Presiden Jokowi dalam lima tahun ke
depan, sekaligus beban yang tidak bisa diabaikan. Bila tidak memberikan
perhatian serius terhadap masalah ini, tampaknya bisa diperkirakan pada
akhir periode kedua pemerintahan Jokowi nanti problem kemiskinan akan tetap
sama.

Ekonom Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri pernah menyoroti masalah ini
sebagai fakta kegagalan upaya pemerintah untuk menyejahterakan masyarakat
kelas bawah. Kenaikan kesejahteraan hanya dirasakan oleh masyarakat kelas
menengah lantaran perkembangan sejumlah sektor misalnya sektor jasa
keuangan. Namun nasib 40 persen masyakarat terbawah justru
stagnan. "Pemerintah ini gagal untuk mendongak nasib 40 persen (masyarakat)
yang terbawah yang mayoritas itu petani," ujar Faisal Basri dalam sebuah
diskusi beberapa waktu lalu.

Problem di sektor pertanian tampaknya memang semakin rumit. Hasil
penelitian International Rice Research Institute (IRRI) beberapa waktu lalu
menunjukkan bahwa biaya produksi beras kita termahal diantara negara-negara
agraris. Biaya produksi per kilogram beras Rp 4.079, sedangkan Vietnam
hanya Rp1.700, India sebesar Rp2.306 per kg, Filipina sebesar Rp3.224 per
kg dan China sebesar Rp3.661 per kg. Salah satu unsur biaya produksi yang
mahal adalah honor buruh lepas, di Indonesia sebesar Rp1.115 per kg padi,
sedangkan Vitenam hanya Rp120 per kg. Selain itu, biaya sewa tanah juga
memberatkan harga produksi. Di Indonesia Rp1.719 per kg padi, sedangkan di
Vietnam hanya Rp387 per kg padi.

Sektor pertanian pernah menjadi kebanggaan dan andalan dalam pembangunan
nasional karena sebagian besar penduduk menggantungkan hidup di wilayah
pertanian. Namun kontribusi sektor ini makin menurun karena lahan pertanian
makin terdesak oleh berbagai kepentingan lain, sedangkan tenaga kerja yang
masih bertahan juga terus berkurang.

Harga sewa tanah semakin mahal karena bersaing dengan sektor lain yang lebh
kompetitif seperti properti dan industri, sehingga petani makin sulit
menyewa lahan. Sektor pertanian makin tidak menjanjikan untuk menopang
penghidupan yang layak akibatnya makin banyak petani yang tidak lagi fokus
bercocok tanam, melainkan melakukan usaha sampingan untuk menopang
kehidupan mereka.

Kita membutuhkan politik pertanian yang lebih jelas. Pengendalian alih
fungsi lahan pertanian harus dilakukan secara ketat agar petani tidak
kehilangan sandaran kehidupannya. Pemerintah harus membantu petani dalam
menurunkan biaya produksi, melalui penyuluhan, teknologi tepat guna,
mekanisasi petanian, subsidi dan sebagainya. Sektor pertanian harus tetap
dijaga dan dikembangkan agar bisa lebih kompetitif dan mampu bersaing
dengan sektor pembangunan lainnya.

Kirim email ke