Tapi, ... bung Ajeg, saya tidak berhasil menangkap dimana keterkaitan "Buku Merah" bahkan dianggap lebih penting sesungguhnya??? Padahal Novel sudah jelaskan juga, bahwa Tito yg mengira Novel penyidiknya itu juga SUDAH lebih dahlu menanyakan sendiri dan DISANGKAL Novel!

Lha, ... kalau sudah menanyakan dan dapatkan jawaban yang menyangkal dugaan semula, kenapa pula harus TETAP diyakini dan lakukan penyiraman air keras? Apa yang hendak dicapai??? Bukankah dengan demikian, akan lebih celaka bagi dirinya sendiri, karena dengan menyiram air-keras begitu, PASTI tidak mati dan bisa dengan mudah terungkap!

Makanya Novel sendiripun gunakan "MUNGKIN" dan "BARANGKALI", ... sedang bung merasa itu YAKIN, yg akan membuat Jokowi (apalagi Tito) tidak bakal tidur nyenyak 5 tahun! Entah darimana keyakinan itu???



ajeg [email protected] [GELORA45] 於 17/7/2019 21:21 寫道:
TPF bentukan Kapolri Tito Karnavian akhirnya mengumumkan hasil kerja mereka selama 6 bulan. Sesuai dugaan orang, tim ini justru cuma mencari-cari kesalahan Novel. Makanya TPF "menemukan" penyebab teror penyiraman air keras terhadap Novel yaiu, 6 kasus "high profile" yang sedang ditanganinya. Menurut TPF gara-gara menyidik 6 kasus kakap itulah Novel diserang balas dendam.

Novel langsung kasih skak, "mereka lupa ada kasus yang lebih menarik dari enam itu, yaitu kasus buku merah".

Semua orang tahu, kasus buku merah adalah kasus yang melibatkan si Tito (Kapolri).

Normalnya sih Jokowi (apalagi Tito) tidak bakal tidur nyenyak 5 tahun.

-
Rabu 17 Juli 2019, 17:51 WIB**

*Novel Baswedan Tambahkan Kasus High Profile: Mereka Lupa 'Buku Merah'*

Dhani Irawan - detikNews*
*
*
*
*Jakarta* - Tim pencari fakta (TPF) menduga adanya motif balas dendam di balik kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan. Balas dendam itu disebut tim bentukan Kapolri Jenderal Tito Karnavian tersebut diduga berkaitan dengan sejumlah kasus yang ditangani Novel di KPK.

Setidaknya TPF menyebut ada 6 kasus dengan kategori 'high profile' yang mungkin menjadi latar belakang penyerangan pada Novel. Menanggapi itu, Novel malah menambahkan satu kasus lagi. Apa itu?

"Mereka kan menyebut 6 kasus, aku hanya ingin menambahkan satu bahwa mereka lupa barangkali ada kasus yang lebih menarik dari enam itu, yaitu kasus 'buku merah', yang mana Pak Tito itu mengira saya penyidiknya, nah jadi ditambahkan satu itu saja barangkali," kata Novel kepada wartawan, Rabu (17/7/2019).

"Bukan 6 kasus, buku merah mereka lupa," imbuh Novel.

Menurut Novel, Tito pernah bertemu dengannya dan mengira dirinya sebagai penyidik yang menangani urusan itu. Padahal Novel menegaskan diri tidak turun tangan dalam pengusutan kasus itu.

"Pak Tito mengira, waktu pernah bertemu saya, Pak Tito mengira penyidiknya saya. Ya mereka mengiranya begitu. Padahal bukan, tapi mereka mengiranya begitu, mereka meyakini itu," kata Novel.

Kasus 'buku merah' merujuk pada dugaan perusakan barang bukti oleh 2 mantan penyidik KPK. Barang bukti yang dimaksud berupa buku catatan dengan sampul berwarna merah yang berkaitan dengan perkara Basuki Hariman, yang dihukum menyuap mantan hakim konstitusi Patrialis Akbar.*
*
*
*
*(dhn/fdn)*




---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com

Kirim email ke