Tahun 1968 Soeharto membuka lebar-lebar investasi asing di Indonesia dengan 
bermodalkan UU No.1/1967 tentang penanaman modal asing. Sekitar sepuluh tahun 
kemudian Deng Xiaoping ikut mencopot tirai bambunya untuk investasi asing. 
Dalam kunjungannya ke Jepang, DXP langsung kepincut pabrik baja. Menurutnya, 
industri baja adalah tulang punggung pembangunan suatu negara. 

Tidak salah memang, tapi DXP kebingungan bagaimana memulainya. Sang wakil, Gu 
Mu, lalu mengusulkan gebrakan luarbiasa dalam politik RRC yaitu mengundang 
penasehat asing untuk mengajari pejabat-pejabat Cina tentang pembangunan 
ekonomi negara. Hal yang sebelumnya sangat tabu bagi RRC kecuali terhadap 
penasehat "serumpun", Uni Soviet. DXP merasa dapat dukungan. Dia pun tak ragu 
lagi untuk meminta Jepang membantu pembangunan pabrik baja Baoshan dengan Gu Mu 
sebagai sebutlah kepala proyeknya. 

Proses bantuan ini tidak jauh beda dengan syarat yang tercantum dalam UU 
No..1/1967 yaitu alih-pengtahuan ("belajar") dan alih-teknologi (untuk 
"berdikari"). Gu Mu bertugas mengatur segala sesuatunya dengan Nippon Steel, 
sebagaimana Sultan HB IX diberi sebarisan teknokrat untuk mengurus PMA 
(belakangan diketahui barisan itu ternyata mafia B). 

Kurang jelas apa alasan DXP tiba-tiba menghentikan pembangunan Baoshan (berikut 
belasan proyek pendukungnya). Yang pasti keputusan ini sangat mengganggu 
hubungan RRC-Jepang yang baru dirintis untuk pulih. Penghentian proyek juga 
membuat kikuk para ahli Jepang dan pekerja RRC yang mulai akrab di proyek 
Baoshan dan anak-anak proyeknya. 

Belakangan, atau sekarang, baru kita paham bahwa para ahli Jepang di proyek 
Baoshan yang tergila-gila kerja ditawari menetap untuk melanjutkan proyek. 
Mereka inilah sebenarnya kunci sukses RRC, bukan saja dalam industri baja tapi 
juga reformasi ekonomi secara mendasar. 

Nah, rupanya pola serupa tapi tak sama sedang diterapkan Jokowi di Indonesia. 
Serupa dalam arti memakai tenaga asing. Tetapi bukan cuma tenaga ahli 
sebagaimana amanat UU, melainkan juga tenaga kulinya sekalian - yang banyak 
melakukan kawin kontrak dengan perempuan Indonesia.
   --- SADAR@... wrote:
Sementara pakar melihat, kondisi ekonomi Indonesia sekarang ini sudah lebih 
baik ketimbang Tiongkok diakhir tahun 1970-an, ... Deng Xiaoping ketika itu 
dengan berani mengoreksi kesalahan yl., dan menentukan kebijakan "Reformasi dan 
Keterbukaan", mengundang masuk modal asing yg dimulai tahun 1980. Tentu,  
disamping bertujuan mengatasi masalah lapangan kerja dan makan rakyatnya, Deng 
juga berpandangan jauh, masuknya modal-asing itu digunakan untuk BELAJAR pada 
asing dan BERDIKARI dikemudian hari. Ada ketentuan modal-asing yang buka usaha 
harus mengoper keahlian, teknologi dan kecanggihan manajemen pada Tiongkok! 
Begitulah Tiongkok berhasil bangkit menjadi sejahtera, segera akan BEBAS dari 
kemiskinan dan 1,4 milyar rakyatnya memasuki taraf sedikit makmur, ... Bukan 
hanya bisa memproduksikan barang-barang yang sudah ada, tapi juga dengan 
BERDIKARI menciptakan barang-barang BARU yang lebih modern, canggih dan heibat 
teknologinya! 
Lupa saya bagaimana pengusaha Tiongkok yg mengerjakan pembangkit listrik di 
Jabar, juga menekankan akan mengoper teknologi dan manajemen pada tenaga 
Indonesia, dan sekarang sudah sepenuhnya dijalankan orang Indonesia sendiri! 
Begitu juga dengan usaha KA-Cepat Jakarta-Bandung, sekarang saja sudah dimulai 
kursus2 pada tenaga Indonesia untuk operasikan KA-Cepat itu, dengan sukarela 
mengoperkan teknologi-manajemen sepenuhnya pada tenaga Indonesia, ....! Sayang 
saya tidak berhasil menemukan tulisan yg menunjang, kecuali 2 tulisan dibawah 
yang mendekati saja, ...
 
 
http://gelora45.com/news3/JonanDorongPLNpelajariKelistrikanChina.pdf
 
 
http://gelora45.com/news3/KACepatJktBdgPenuhCinta.pdf
 
 
Saya beberapa tahun yl. di youtube juga pernah dengar pidato Jokowi 
menganjurkan masuknya modal-asing dijadikan anjang untuk belajar dan kemudian 
bisa mengerjakan sendiri, ... BERDIKARI. Hanya saja saya belum berhasil 
menemukannya kembali dimana Jokowi bicara. Dan tentunya sayang kalau pidato 
politik "Visi Indonesia" kali ini tidak kembali menekankan PENTINGNYA untuk 
BELAJAR dan BERDIKARI! Bisa betul-betul TETAP hanya menjadi bangsa KULI saja, 
....!

ajeg 於 17/7/2019 20:46 寫道:
 "BELAJAR" dan "BERDIKARI" itu istilahnya Chan. 
  
   --- djiekh@... wrote:   Kutipan : Tidak perlu berandai-andai "kalau betul.." 
karena dalam pidatonya dengan jelas Jokowi  mengungkap  visi dia soal investasi 
asing memang untuk lapangan kerja (cari makan), bukan  untuk belajar supaya 
bisa berdikari seperti diamanatkan UU PMA..  Di bagian mana dari pidato Jokowi, 
dia mengatakan bukan untuk belajar supaya bisa berdikari seperti diamanatkan 
UUPMA ? 
   
 Pada tanggal Sel, 16 Jul 2019 pukul 17.47 ajeg menulis: 
   Tidak perlu berandai-andai "kalau betul.." karena dalam  pidatonya dengan 
jelas Jokowi mengungkap 
  visi dia soal investasi asing memang untuk lapangan kerja  (cari makan), 
bukan untuk belajar supaya bisa berdikari seperti  diamanatkan UU PMA.. 
  
  Tapi ya baguslah Anda sekarang berani menyebut tokoh-tokoh  penguasa sebagai 
'budak'. Hanya saja tidak tegas siapa tokoh yang dimaksud. Hehe... 
  --- SADAR@... wrote: 
  Yaaa, ... kalau betul pemerintah Jokowi dalam usaha membuka masuk  investasi 
modal-asing sekadar peningkatan pertumbuhan ekonomi, penekanannya BUKAN untuk 
BELAJAR mengerjakan sendiri, ... untuk BERDIKARI! Apalagi  tokoh-tokoh politik 
bangsa ini masih saja hanya kejar-mengejar menggendutkan  perut sendiri, ... 
menunjukkan BANGSA ini pantaslah hanya  jadi bangsa BUDAK! 
Tapi, ... apa maksud bung "Pidato presiden rasa centeng...?" Apa maksud bung  
centeng disini? Penjaga perusahaan modal-asing, mandor atau penjaga bayaran 
saja, ...
 

 
 ajeg 於 15/7/2019 22:20 寫道: 
   Dalam pidatonya Jokowi tidak bicara investasi asing untuk belajar  apalagi 
berdikari, tapi untuk sekedar cari makan. Alias, menjadi buruh di kompeninya 
investor-investor asing.  
  Dan, bagi yang menghambat visi perbudakannya itu, "akan saya hajar kalau 
diperlukan," kata Jokowi. 
  Pidato presiden rasa centeng...
  
  --- SADAR@... wrote:
  
   Sebenarnya saja, ... masalah investasi asing itu,  darimanapun datangnya 
tidak perlu ditolak! Yang lebih penting BANGSA ini  harus bisa menggunakan 
modal asing itu untuk BELAJAR dan merebut kesempatan mengerjakannya SENDIRI, 
untuk bisa  BERDIKARI dikemudian hari! Jangan TETAP saja berjiwa BUDAK, 
menjadikan modal-asing itu kesempatan untuk menggendutkan  sementara perut 
pejabat2 saja, ...! 
  bhjo@.... 於 15/7/2019 11:53 寫道:  
  Bagus poin2 nya Jokowi. Terutama:  "Jokowi meminta tak ada lagi yang alergi 
terhadap investasi. Yang menghambat investasi, semua harus dipangkas. Baik itu  
perizinan yang lambat, berbelit-belit, apalagi yang ada punglinya".  
  Sayang kurang satu poin yg sangat penting, yg hampir selalu  menjadi poin yg 
penting di banyak negara yaitu Kesehatan masyarakat harus  dijamin. 
 
 --- SADAR@..... wrote :
 
Enam Poin Pidato Visi Indonesia yang Disampaikan Jokowi
   Reporter:  
Fikri Arigi
  Editor:  
Amirullah
 Senin, 15 Juli 2019 08:57 WIBIndonesia's incumbent president Joko Widodo, who 
was re-elected on April's election gestures as he delivers a speech to 
highlight his vision for the  next five years in Bogor, West Java province, 
July 14, 2019. REUTERS/Willy Kurniawan

TEMPO.CO, Jakarta - Presiden terpilih Joko Widodo alias Jokowi pada Ahad 14 
Juli 2019 menyampaikan pidatonya dalam acara Visi Indonesia. Pada acara yang 
digelar di Sentul International Convention  Center (SICC), Bogor, Jawa Barat 
tersebut, Jokowi menyampaikan visi pemerintahannya bersama Ma'ruf Amin di 
periode ke depan.
Baca: Jokowi: Kalau Ada Lembaga yang Tak Bermanfaat, Akan Saya Bubarkan   –– 
ADVERTISEMENT ––    
Pada pidatonya tersebut Jokowi mengulas soal pembangunan infrastruktur yang 
akan terus ia lanjutkan. Selain itu Jokowi juga menjanjikan akan  fokus dalam 
pembangunan sumber daya manusia di periode ini. Berikut poin-poin pidato Visi 
Indonesia Jokowi:
 
1. Pembangunan dan Penyambungan Infrastruktur
 
Jokowi mengatakan akan meneruskan membangun infrastruktur. Menurut Jokowi, 
infrastruktur-infrastruktur besar seperti jalan tol, kereta api, pelabuhan, dan 
bandara, akan dihubungkan dengan pusat-pusat perekonomian, seperti pusat 
produksi masyarakat, kawasan ekonomi khusus, industri  kecil, dan pariwisata.
 
Dia juga berjanji bakal memastikan infrastuktur-infrastruktur besar dengan 
persawahan, perkebunan, dan tambak-tambak perikanan.
 
Mantan Wali Kota Solo ini memastikan bahwa dalam lima tahun ke depan program 
pembangunan infrastruktur masih akan terus berlanjut. Ke depan,  pembangunan 
bakal dipercepat untuk menyambungkan masing-masing infrastrukur yang telah 
dibangun agar terkoneksi. "Ke depan akan kita lanjutkan dengan lebih  cepat dan 
menyambungkan infrastruktur besar tersebut seperti jalan tol, kereta api, 
pelabuhan dan bandara," tuturnya.
 
2. Fokus ke Pembangunan SDM
 
Jokowi mengatakan pembangunan sumber daya manusia akan menjadi fokus. Caranya, 
kata Jokowi, ialah dengan menjamin kesehatan ibu hamil, bayi,  balita, dan anak 
sekolah. Dia juga berjanji bakal meningkatkan kualitas pendidikan dan 
vokasional.
 
Selain itu, Jokowi mengatakan akan membentuk manajemen talenta nasional. Dia 
berujar, hal ini demi menyiapkan sumber daya manusia Indonesia yang siap  
menghadapi diaspora dan persaingan global. "Pemerintah akan mengidentifikasi, 
memfasilitasi, dan memberikan dukungan bagi pengembangan talenta Indonesia," 
kata Jokowi.
 
3. Membuka Keran Investasi Seluas-luansya
 
Selanjutnya Jokowi mengatakan akan membuka keran investasi seluas-luasnya. Dia 
mengklaim investasi menjadi salah satu kunci membuka lapangan kerja  yang 
seluas-luasnya. Jokowi meminta tak ada lagi yang alergi terhadap investasi.
 
"Yang menghambat investasi, semua harus dipangkas. Baik itu perizinan yang 
lambat, berbelit-belit, apalagi yang ada punglinya. Hati-hati ke  depan, ke 
depan saya pastikan akan saya kejar. Akan saya kejar, akan saya kontrol, akan 
saya cek, akan saya hajar kalau diperlukan," kata Jokowi.
 
4. Reformasi Birokrasi
 
Untuk periode keduanya Jokowi mengatakan memiliki visi melakukan reformasi 
birokrasi. Ia mengancam bakal mencopot pejabat yang terlibat dan  terbukti 
melakukan pungutan liar atau pungli. Ia pun menyebut bakal membubarkan 
lembaga-lembaga yang tak efisien dan bermasalah.
 
Jokowi mengatakan, di periode kedua nanti dia bakal memastikan birokrasi 
efektif dan efisien. Dia ingin nantinya lembaga-lembaga menjadi lebih  
sederhana, simpel, dan lincah. Jokowi pun mewanti-wanti agar pola pikir para 
birokrat diubah dalam rangka reformasi struktural ini. Menurut Jokowi, kunci 
dari reformasi birokrasi ialah kecepatan pelayanan dan perizinan. Jokowi 
berujar bakal mengecek dan mengontrol sendiri jalannya birokrasi di bawah  
pemerintahannya.
 
"Kalau ada lembaga yang tidak bermanfaat dan bermasalah, akan saya bubarkan," 
ucap mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut.
 
5. APBN Tepat Sasaran
  
ADVERTISEMENT
  
Selanjutnya Jokowi mengatakan bakal menjamin Anggaran Pendapatan dan Belanja 
Negara (APBN) yang digunakan fokus dan tepat sasaran. "Karena setiap rupiah  
yang keluar semua harus dipastikan memiliki manfaat ekonomi, meningkatkan 
kesejahteraan rakyat," ucapnya.
 
6. Oposisi Mulia Tanpa Dendam
 
Selain visi pemerintahan, ia juga sedikit mengulas soal visi politiknya. 
Menurut Jokowi menjadi oposisi juga hal mulia dalam demokrasi. "Dalam  
demokrasi, mendukung mati-matian seorang kandidat itu boleh. Mendukung dengan 
militansi yang tinggi itu juga boleh. Menjadi oposisi itu juga sangat mulia. 
Silakan," kata Jokowi dalam pidatonya.
 
Namun Jokowi meminta agar pilihan oposisi itu tak menimbulkan dendam dan 
kebencian. Dia meminta agar pilihan itu tak disertai dendam, kebencian,  
cacian, hinaan, dan makian. Jokowi beralasan, Indonesia adalah negara yang 
memiliki norma agama, etika, tata krama, dan budaya yang luhur.
 Baca: Jokowi: Oposisi Itu Sangat Mulia, Asal Jangan Menimbulkan Dendam
"Saya yakin, kita semua berkomitmen meletakkan demokrasi yang berkeadaban, yang 
menjunjung tinggi kepribadian Indonesia, yang menunjung tinggi martabat  
Indonesia, yang akan membawa Indonesia menjadi Indonesia Maju, Adil dan 
Makmur," ujarnya.
 FIKRI ARIGI | BUDIARTI UTAMI PUTRI | DIAS PRASONGKO

Kirim email ke