Begini, saya tidak menyimpulkan pendapat siapa pun tentang antiklimaks 
pembangunan Soeharto. Orang-orang pandai itu juga tidak menyimpulkan tapi 
mencoba menganalisis situasi terkait krisis multidimensi yang tiba-tiba datang 
dan berujung pada jatuhnya Soeharto. Saya mah cuma memperkirakan, cuma 
mengira-ngira, nekolim tidak bakal seenaknya menekan hingga merusak industri 
pesawat IPTN jika Indonesia punya senjata nuklir.

Kenapa?

Karena seperti kita tahu, industri pesawat adalah pertaruhan terakhir Soeharto 
di tengah tekanan nekolim yang anti Pangab M. Yusuf dan menuding Soeharto 
membiarkan Abdurrahman Wahid menjadi ketua NU. Dasar ndableg Soeharto malah 
membangkang dan dianggap melampaui batas ketika cengengesan berfoto-foto di 
Tembok Cina. Tentu saja saya tidak sepandai para analis itu makanya cuma bisa 
membayangkan serunya kombinasi antara kopignya Soeharto - pertaruhan terakhir 
(pesawat) - dan jendral klotokan dengan tombol nuklir di tangan. Dengan begitu 
saya kira nekolim akan sedikit sopan dan tidak berani menghancurkan proyek 
industri pesawat. 

Jadi, senjata nuklir yang saya maksud bukan sebagai ukuran kemajuan, melainkan 
sebagai payung atau posisi tawar, yah kira-kira seperti RRC atau Korut 
misalnya. Secara pribadi saya sih tidak berkepentingan dan tidak berharap 
Indonesia punya senjata nuklir. Biarlah Indonesia berjuang dengan segala 
kemampuan yang ada. Lebih baik mati karena keterbatasan mempertahankan hak 
ketimbang hancur lantaran bermurah hati menolong imperialis berkembang.  

    --- SADAR@... wrote:
Belajar dari SEJARAH, ...! Bung melihat reformasi yang didtempuh Deng "tidak 
jauh berbeda" dengan strategi pembangunan ORBA, masa Soeharto! Pada saat 
investasi modal asing, menekankan prinsip "belajar untuk BERDIKARI!". Tapi, 
KENYATAAN yang terjadi justru BERTOLAK BELAKANG! Mengapa? 
Dari banyak pendapat-pendapat yang membahas sebab-musabab kegagalan Soeharto 
dan melajunya Deng, bung simpulkan karena Indonesia tidak punya senjata nuklir! 
Padahal kenyataan juga cukup banyak negara-negara cukup maju TANPA senjata 
nuklir, kok! Ambil saja tetangga kita Singapore, Korea-Selatan dan juga  Jepang 
sendiri yg jadi GURU pabrik BAJA Tiongkok, Bao Gang itu! Nampak jelas tidak ada 
hubungan dengan ada tidak senjata nuklir, ...!
 
Dari sekian banyak tulisan yang bermunculan menyambut 70 Tahun berdirinya 
Republik Rakyat Tiongkok, adanya Partai Komunis Tiongkok yang TEGUH, KUAT dan 
sepenuhnya mengabdi RAKYAT itulah yang terangkat sebagai sebab UTAMA mereka 
simpulkan mengapa pembangunan masyarakat sosialisme Tiongkok bisa berhasil  
dengan baik. Tanpa Ketua Mao tidak ada Tiongkok baru, Tanpa PKT tidak ada 
Tiongkok yang besar dan kuat sekarang ini, ...! Sebaliknya di Indonesia Partai 
Komunis malah di basmi oleh Soeharto, ...! Ini pertama;
 
Kedua, dengan segala kekurangan dan kesalahan yang terjadi diawal 30 tahun 
pertama, (1949-1979) dimasa Mao, TETAP harus diakui Mao telah berhasil 
membangun dasar ekonomi yang cukup baik dan inilah yang jadi landasan untuk 
mencapai kemajuan cepat di 40 tahun berikut. Begitu kesimpulan Ketua Hu Jintao, 
ditahun 2009 saat memperingati 60 tahun RRT. Jadi,  adanya dasar ekonomi yang 
cukup baik sebagai syrat objektif, memungkinkan ahli-ahli Tiongkok mengerjakan 
sendiri! Tanpa ada dasar ekonomi yg mumpuni, masuknya industri canggih dinegeri 
itu benar-benar hanya akan menjadi tempat berproduksi dengan memanfaatkan 
tenaga-kerja murah saja, ... 
 
 
Ketiga, masalah SDM nya, yaitu kesadaran masyarakat cukup kuat untuk menjadi 
TUAN dan TEGAK BERDIRI dinegerinya sendiri, untuk itu harus bisa mengerjakan 
sendiri! Semangat BERDIKARI yang tinggi, dengan disertai penguasaan ilmu, 
teknologi yang memadai, ... jadi memungkinkan belajar apa yang mereka kerjakan! 
Bukan hanya mencontoh, tapi juga berkemampuan mengembangkannya bahkan lebih 
lanjut mencipta sesuatu yang lebih canggih, ... sesuatu yang berbeda dan baru 
samasekali.  
 
 
Dan, kalau saya perhatikan bagaimana ambisi Tiongkok tidak henti-hentinya terus 
meningkatkan dan mengembangkan tenaga teknokrat, disamping tetap mengirimkan 
pemuda-pemudi nya sekolah diluarnegeri, negara-negara maju, padahal lulusan 
Universitas dalam negeri saja setiap tahunnya sudah 9 juta! Lalu, masih  saja 
berusaha keras menyedot masuk ahli-ahli asing, dengan memberi KEMUDAHAAN pada 
ahli-ahli asing untuk bekerja, dan hidup di Tiongkok! Sungguh luar biasa, ...!!!
 
 

 ajeg 於 19/7/2019 11:45 寫道:
   Begitulah sejarah. Tidak boleh dilupakan. Jalan reformasi yang ditempuh Deng 
jelas  tidak jauh berbeda dengan strategi pembangunan Orba, sama-sama membuka 
pintu  investasi asing dengan menekankan prinsip "belajar" untuk "berdikari" 
(alih-pengetahuan dan alih-teknologi). Hasilnya, ketika RRC baru menandatangani 
kontrak pembangunan pabrik baja, Indonesia sudah merintis pembuatan mobil 
nasional.
  
  Sialnya, kalangan taipan Indonesia pada berebut kue sehingga proyek mobnas 
seperti hidup segan mati tak mau. Sementara, pinjaman dari IGGI praktis hanya 
untuk penambal sektor konsumtif - dan tetap dipaksakan untuk diterima sekalipun 
Indonesia sempat mencapai swasembada pangan / beras.
  
  Ketika muncul ahli pesawat lulusan Jerman, Soeharto melihatnya sebagai 
peluang  untuk lompat ke era industri teknologi tinggi. Maka dialihkanlah dana 
reboisasi untuk memodali proyek pesawat N250. Tetapi seperti kita tahu, proyek 
ini bikin nekolim pening kepala, takut Indonesia lepas dari ketergantungan pada 
utang. Dengan segala cara mereka menekan Indonesia agar pesawat N250 dan 
produk-produk IPTN berikutnya tidak laku. Termasuk dengan cara mengganggu 
negara-negara pemesan N250 sampai dengan menyingkirkan Soeharto.
  
  Ini memang antiklimaks dari pembangunan Orba. Banyak pendapat yang membahas  
sebab-musabab kegagalan Soeharto dan melajunya Deng. Tetapi saya kira perbedaan 
utamanya cuma satu, Indonesia tidak punya senjata nuklir.   
  Lepas dari urusan nuklir, kekecewaan Anda terhadap Jokowi itu wajib hukumnya. 
Rapopo terlambat daripada tidak samasekali :) Lihat saja, orang itu sering 
tidak patuh pada peraturan, undang-undang, bahkan etika. Termasuk, menggilas  
UU PMA yang mengamanatkan alih-pengetahuan dan alih-teknologi. Alias hanya 
boleh mengundang tenaga ahli tanpa perlu mendatangkan tenaga kuli. Kebaikan  
hati Jokowi pada kuli-kuli asing itu jelas memperbesar peluang Indonesia  
menjadi negara gagal.
  
  --- SADAR@... wrote: 
    Sepengetahuan saya ditahun 60-an, untuk menilai kekuatan satu negara itu 
dilihat hasil produksi baja, tekstil  dan beras, ... jadi, pantaslah saat Deng 
tahun 1977 diangkat kembali menjadi wk. Ketua PKT dan wk. PM, keluar negeri 
pertama ke Jepang ditahun itu juga, minta meninjau  pabrik baja Jepang 
terbesar, Nippon Steel. Dalam perbincangan dengan kepala pabrik, Deng 
mengajukan  kehendaknya membangun pabrik baja sekaliber Nippon Steel itu di 
Tiongkok, ... Rupanya gayung bersambut! Pihak Jepang siap membantu seluruh 
perlengkapan dan teknologi  modern yg mereka gunakan itu, ... Tahun 78 surat 
kontrak pembangunan pabrik Bao Gang di Shanghai  ditandatangi, tahap pertama, 
tahun 80 Tanur pertama sudah bisa produksi, dan seluruh rencana pembangunan yg 
3 tahap itu dalam 7 tahun selesai.               
Ditahun 2000 produksi baja Bao Gang sudah setara dengan Nippon Steel, tapi  
memasuki tahun 2010 sudah jauh melebihi, saya tidak ingat berapa juta 
ton/tahunnya. Tapi, darimana dengar Deng tiba-tiba menghentikan pembangunan 
proyek  Bao Gang dan membuat hubungan RRT-JP terganggu?  TIDAK! Tahun 2017 yl. 
tokoh-tokoh Nippon Steel, termasuk Presdir yg  pertama menerima Deng juga hadir 
memperingati Bao Gang 40Tahun, dan pejabat2 Bao Gang tetap memanggilnya bapak 
GURU! Sedang sang GURU pun tidak ragu-ragu  memuji MURID yang heibat berhasil 
melampaui gurunya! Satu pertemuan kembali yang sangat  bersahabat dan saling 
menghormati!
 
Sedang hubungan RRT-JP memburuk setelah golongan kanan JP, dengan PM. Shinzo 
Abe  sekitar tahun 2012 menjual pulau Diao Yu yg jadi sengketa itu pada 
konglomerat yg hendak bangun pelabuhan disana, ...
 
   ajeg 於 18/7/2019 16:15 寫道: 
    Tahun 1968 Soeharto membuka lebar-lebar investasi  asing di Indonesia 
dengan bermodalkan UU No.1/1967 tentang  penanaman modal asing. Sekitar sepuluh 
tahun kemudian Deng Xiaoping ikut mencopot tirai bambunya untuk investasi  
asing. Dalam kunjungannya ke Jepang, DXP langsung kepincut pabrik baja. 
Menurutnya, industri baja adalah  tulang punggung pembangunan suatu negara.. 
  
  Tidak salah memang, tapi DXP kebingungan bagaimana  memulainya. Sang wakil, 
Gu Mu, lalu mengusulkan gebrakan luarbiasa dalam politik RRC yaitu mengundang 
penasehat  asing untuk mengajari pejabat-pejabat Cina tentang pembangunan 
ekonomi negara. Hal yang sebelumnya sangat tabu bagi RRC  kecuali terhadap 
penasehat "serumpun", Uni Soviet. DXP merasa  dapat dukungan. Dia pun tak ragu 
lagi untuk meminta Jepang membantu pembangunan pabrik baja Baoshan dengan Gu Mu 
 sebagai sebutlah kepala proyeknya. 
  
  Proses bantuan ini tidak jauh beda dengan syarat yang  tercantum dalam UU 
No.1/1967 yaitu alih-pengtahuan ("belajar") dan  alih-teknologi (untuk 
"berdikari"). Gu Mu bertugas mengatur segala  sesuatunya dengan Nippon Steel, 
sebagaimana Sultan HB IX diberi sebarisan teknokrat untuk mengurus PMA 
(belakangan diketahui barisan itu ternyata  mafia B). 
  
  Kurang jelas apa alasan DXP tiba-tiba menghentikan  pembangunan Baoshan 
(berikut belasan proyek pendukungnya). Yang  pasti keputusan ini sangat 
mengganggu hubungan RRC-Jepang yang baru dirintis untuk pulih.. Penghentian  
proyek juga membuat kikuk para ahli Jepang dan pekerja RRC yang mulai akrab di 
proyek Baoshan dan anak-anak  proyeknya. 
  
  Belakangan, atau sekarang, baru kita paham bahwa para ahli  Jepang di proyek 
Baoshan yang tergila-gila kerja ditawari menetap untuk melanjutkan proyek. 
Mereka inilah sebenarnya kunci sukses RRC, bukan saja dalam industri baja tapi 
juga  reformasi ekonomi secara mendasar. 
  
  Nah, rupanya pola serupa tapi tak sama sedang  diterapkan Jokowi di 
Indonesia. Serupa dalam arti memakai tenaga  asing. Tetapi bukan cuma tenaga 
ahli sebagaimana  amanat UU, melainkan juga tenaga kulinya sekalian - yang 
banyak  melakukan kawin kontrak dengan perempuan Indonesia. 
              --- SADAR@... wrote: 
  Sementara pakar melihat, kondisi ekonomi Indonesia sekarang ini sudah lebih 
baik ketimbang Tiongkok diakhir tahun 1970-an, ... Deng Xiaoping ketika itu 
dengan berani mengoreksi kesalahan yl., dan menentukan kebijakan "Reformasi dan 
 Keterbukaan", mengundang masuk modal asing yg dimulai tahun 1980. Tentu, 
disamping bertujuan mengatasi masalah lapangan kerja dan makan rakyatnya, Deng 
juga berpandangan jauh, masuknya modal-asing itu digunakan untuk BELAJAR pada  
asing dan BERDIKARI dikemudian hari. Ada ketentuan modal-asing yang buka usaha 
harus mengoper keahlian, teknologi dan kecanggihan manajemen pada Tiongkok! 
Begitulah Tiongkok berhasil bangkit menjadi sejahtera, segera akan BEBAS dari 
kemiskinan dan 1,4 milyar rakyatnya memasuki taraf sedikit makmur, ... Bukan 
hanya bisa memproduksikan barang-barang yang sudah  ada, tapi juga dengan 
BERDIKARI menciptakan barang-barang BARU yang lebih modern, canggih dan heibat 
teknologinya!
  
  Lupa saya bagaimana pengusaha Tiongkok yg mengerjakan pembangkit listrik di 
Jabar, juga menekankan akan mengoper teknologi dan manajemen pada tenaga 
Indonesia, dan sekarang sudah sepenuhnya dijalankan orang Indonesia sendiri! 
Begitu juga  dengan usaha KA-Cepat Jakarta-Bandung, sekarang saja sudah dimulai 
kursus2 pada tenaga Indonesia untuk operasikan KA-Cepat itu, dengan sukarela 
mengoperkan teknologi-manajemen sepenuhnya pada tenaga Indonesia, ...! Sayang 
saya tidak  berhasil menemukan tulisan yg menunjang, kecuali 2 tulisan dibawah 
yang mendekati saja, ...
  
http://gelora45.com/news3/JonanDorongPLNpelajariKelistrikanChina.pdf
 
 
http://gelora45.com/news3/KACepatJktBdgPenuhCinta.pdf
 
 
Saya beberapa tahun yl. di youtube juga pernah dengar pidato Jokowi 
menganjurkan masuknya modal-asing dijadikan anjang untuk belajar dan kemudian 
bisa mengerjakan sendiri, ... BERDIKARI. Hanya saja saya belum berhasil 
menemukannya kembali dimana Jokowi bicara. Dan tentunya sayang kalau pidato 
politik "Visi Indonesia" kali ini tidak kembali menekankan PENTINGNYA untuk 
BELAJAR dan BERDIKARI! Bisa betul-betul TETAP hanya menjadi bangsa KULI saja, 
....!
 
  ajeg 於 17/7/2019 20:46 寫道: 
   "BELAJAR" dan "BERDIKARI" itu istilahnya Chan. 
  
   --- djiekh@... wrote:
Kutipan : Tidak perlu berandai-andai "kalau betul.." karena dalam pidatonya 
dengan jelas Jokowi mengungkap  visi dia soal investasi asing memang untuk 
lapangan kerja (cari makan), bukan untuk belajar supaya bisa berdikari seperti 
diamanatkan UU PMA..  Di bagian mana dari pidato Jokowi, dia mengatakan bukan 
untuk belajar supaya bisa berdikari seperti diamanatkan UUPMA ?  
  Pada tanggal Sel, 16 Jul 2019 pukul 17.47 ajeg menulis:   
  Tidak perlu berandai-andai "kalau betul.." karena dalam pidatonya dengan 
jelas Jokowi mengungkap 
  visi dia soal investasi asing memang untuk lapangan kerja (cari makan), bukan 
untuk belajar supaya bisa  berdikari seperti diamanatkan UU PMA.. 
  
  Tapi ya baguslah Anda sekarang berani menyebut tokoh-tokoh penguasa sebagai 
'budak'. Hanya saja tidak tegas siapa  tokoh yang dimaksud. Hehe... 
  --- SADAR@... wrote: 
  Yaaa, ... kalau betul pemerintah Jokowi dalam usaha membuka masuk investasi 
modal-asing sekadar peningkatan pertumbuhan ekonomi, penekanannya BUKAN untuk 
BELAJAR mengerjakan sendiri, ... untuk BERDIKARI! Apalagi tokoh-tokoh politik 
bangsa ini masih saja hanya  kejar-mengejar menggendutkan perut sendiri, ... 
menunjukkan BANGSA ini pantaslah hanya jadi bangsa BUDAK! 
Tapi, ... apa maksud bung "Pidato presiden rasa centeng...?" Apa maksud bung 
centeng disini? Penjaga perusahaan modal-asing, mandor atau penjaga bayaran 
saja, ...
 
  ajeg 於 15/7/2019 22:20 寫道: 
  Dalam pidatonya Jokowi tidak bicara investasi asing untuk belajar apalagi 
berdikari, tapi untuk sekedar cari makan. Alias, menjadi buruh di kompeninya 
investor-investor asing.  
  Dan, bagi yang menghambat visi perbudakannya itu, "akan saya hajar kalau 
diperlukan," kata Jokowi. 
  Pidato presiden rasa centeng...
  
  --- SADAR@... wrote:
  
   Sebenarnya saja, ... masalah investasi asing itu, darimanapun datangnya 
tidak perlu ditolak! Yang lebih penting BANGSA ini harus bisa menggunakan modal 
asing itu untuk BELAJAR dan merebut kesempatan mengerjakannya SENDIRI, untuk 
bisa BERDIKARI dikemudian hari! Jangan TETAP saja berjiwa BUDAK, menjadikan 
modal-asing itu kesempatan untuk menggendutkan sementara perut pejabat2 saja, 
...! 
  bhjo@.... 於 15/7/2019 11:53 寫道:  
  Bagus poin2 nya Jokowi. Terutama:  "Jokowi meminta tak ada lagi yang alergi 
terhadap investasi. Yang menghambat investasi, semua harus dipangkas. Baik itu 
perizinan yang lambat, berbelit-belit, apalagi yang ada punglinya".  
  Sayang kurang satu poin yg sangat penting, yg hampir selalu menjadi poin yg 
penting di banyak negara yaitu Kesehatan masyarakat harus dijamin. 
 
 --- SADAR@..... wrote :
 
Enam Poin Pidato Visi Indonesia yang Disampaikan Jokowi
  Reporter:
  Fikri Arigi  Editor:
  Amirullah
  
  Senin, 15 Juli 2019 08:57 WIB Indonesia's incumbent president Joko Widodo, 
who was re-elected on April's election gestures as he delivers a speech to 
highlight his vision for the next five years in Bogor, West Java province, July 
14, 2019. REUTERS/Willy Kurniawan
  TEMPO.CO, Jakarta - Presiden terpilih Joko Widodo alias Jokowi pada Ahad 14 
Juli 2019 menyampaikan pidatonya dalam acara Visi Indonesia. Pada acara yang 
digelar di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat 
tersebut, Jokowi menyampaikan visi pemerintahannya bersama Ma'ruf Amin di 
periode ke depan. Baca: Jokowi: Kalau Ada Lembaga yang Tak Bermanfaat, Akan 
Saya Bubarkan
  Pada pidatonya tersebut Jokowi mengulas soal pembangunan infrastruktur yang 
akan terus ia lanjutkan. Selain itu Jokowi juga menjanjikan akan fokus dalam 
pembangunan sumber daya manusia di periode ini. Berikut poin-poin pidato Visi 
Indonesia Jokowi:
  1. Pembangunan dan Penyambungan Infrastruktur
  Jokowi mengatakan akan meneruskan membangun infrastruktur. Menurut Jokowi, 
infrastruktur-infrastruktur besar seperti jalan tol, kereta api, pelabuhan, dan 
bandara, akan dihubungkan dengan pusat-pusat perekonomian, seperti pusat 
produksi masyarakat, kawasan ekonomi khusus, industri kecil, dan pariwisata. 
Dia juga berjanji bakal memastikan infrastuktur-infrastruktur besar dengan 
persawahan, perkebunan, dan tambak-tambak perikanan.
  Mantan Wali Kota Solo ini memastikan bahwa dalam lima tahun ke depan program 
pembangunan infrastruktur masih akan terus berlanjut. Ke depan, pembangunan 
bakal dipercepat untuk menyambungkan masing-masing infrastrukur yang telah 
dibangun agar terkoneksi.  "Ke depan akan kita lanjutkan dengan lebih cepat dan 
menyambungkan infrastruktur besar tersebut seperti jalan tol, kereta api, 
pelabuhan dan bandara," tuturnya.
  2. Fokus ke Pembangunan SDM
  Jokowi mengatakan pembangunan sumber daya manusia akan menjadi fokus. 
Caranya, kata Jokowi, ialah dengan menjamin kesehatan ibu hamil, bayi, balita, 
dan anak sekolah. Dia juga berjanji bakal meningkatkan kualitas pendidikan dan 
vokasional.
  Selain itu, Jokowi mengatakan akan membentuk manajemen talenta nasional. Dia 
berujar, hal ini demi menyiapkan sumber daya manusia Indonesia yang siap 
menghadapi diaspora dan persaingan global. "Pemerintah akan mengidentifikasi, 
memfasilitasi, dan memberikan dukungan bagi pengembangan talenta Indonesia," 
kata Jokowi.
  3. Membuka Keran Investasi Seluas-luansya
  Selanjutnya Jokowi mengatakan akan membuka keran investasi seluas-luasnya.. 
Dia mengklaim investasi menjadi salah satu kunci membuka lapangan kerja yang 
seluas-luasnya. Jokowi meminta tak ada lagi yang alergi terhadap investasi.
  "Yang menghambat investasi, semua harus dipangkas. Baik itu perizinan yang 
lambat, berbelit-belit, apalagi yang ada punglinya. Hati-hati ke depan, ke 
depan saya pastikan akan saya kejar. Akan saya kejar, akan saya kontrol, akan 
saya cek, akan saya hajar  kalau diperlukan," kata Jokowi.
  4. Reformasi Birokrasi
  Untuk periode keduanya Jokowi mengatakan memiliki visi melakukan reformasi 
birokrasi. Ia mengancam bakal mencopot pejabat yang terlibat dan terbukti 
melakukan pungutan liar atau pungli. Ia pun menyebut bakal membubarkan 
lembaga-lembaga yang tak efisien dan bermasalah.
  Jokowi mengatakan, di periode kedua nanti dia bakal memastikan birokrasi 
efektif dan efisien. Dia ingin nantinya lembaga-lembaga menjadi lebih 
sederhana, simpel, dan lincah. Jokowi pun mewanti-wanti agar pola pikir para 
birokrat diubah dalam rangka reformasi struktural ini. Menurut Jokowi, kunci 
dari reformasi birokrasi ialah kecepatan pelayanan dan perizinan. Jokowi 
berujar bakal mengecek dan mengontrol sendiri jalannya birokrasi di bawah 
pemerintahannya.
  "Kalau ada lembaga yang tidak bermanfaat dan bermasalah, akan saya bubarkan," 
ucap mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut.
  5. APBN Tepat Sasaran
  Selanjutnya Jokowi mengatakan bakal menjamin Anggaran Pendapatan dan Belanja 
Negara (APBN) yang digunakan fokus dan tepat sasaran. "Karena setiap rupiah 
yang keluar semua harus dipastikan memiliki manfaat ekonomi, meningkatkan 
kesejahteraan rakyat," ucapnya.
  
  6. Oposisi Mulia Tanpa Dendam
  
  Selain visi pemerintahan, ia juga sedikit mengulas soal visi politiknya. 
Menurut Jokowi menjadi oposisi juga hal mulia dalam demokrasi. "Dalam 
demokrasi, mendukung mati-matian seorang kandidat itu boleh. Mendukung dengan 
militansi yang tinggi itu juga boleh. Menjadi oposisi itu juga sangat mulia. 
Silakan," kata Jokowi dalam pidatonya.
  
  Namun Jokowi meminta agar pilihan oposisi itu tak menimbulkan dendam dan 
kebencian. Dia meminta agar pilihan itu tak disertai dendam, kebencian, cacian, 
hinaan, dan makian. Jokowi beralasan, Indonesia adalah negara yang memiliki 
norma agama, etika, tata krama, dan budaya yang luhur.
  
  Baca: Jokowi: Oposisi Itu Sangat Mulia, Asal Jangan Menimbulkan Dendam  "Saya 
yakin, kita semua berkomitmen meletakkan demokrasi yang berkeadaban, yang 
menjunjung tinggi kepribadian Indonesia, yang menunjung tinggi martabat 
Indonesia, yang akan membawa Indonesia menjadi Indonesia Maju, Adil dan 
Makmur," ujarnya.
  FIKRI ARIGI | BUDIARTI UTAMI PUTRI | DIAS PRASONGKO
  

Kirim email ke