https://news.detik.com/kolom/d-4651601/semakin-kita-gila-semakin-bahagia?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.250792710.1681597423.1564942246-399338203.1564942246
Minggu 04 Agustus 2019, 13:30 WIB
Jeda
Semakin Kita Gila, Semakin Bahagia
Mumu Aloha - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4651601/semakin-kita-gila-semakin-bahagia?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.250792710.1681597423.1564942246-399338203.1564942246#>
Mumu Aloha
<https://news.detik.com/kolom/d-4651601/semakin-kita-gila-semakin-bahagia?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.250792710.1681597423.1564942246-399338203.1564942246#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4651601/semakin-kita-gila-semakin-bahagia?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.250792710.1681597423.1564942246-399338203.1564942246#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4651601/semakin-kita-gila-semakin-bahagia?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.250792710.1681597423.1564942246-399338203.1564942246#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4651601/semakin-kita-gila-semakin-bahagia?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.250792710.1681597423.1564942246-399338203.1564942246#>
1 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4651601/semakin-kita-gila-semakin-bahagia?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.250792710.1681597423.1564942246-399338203.1564942246#>
Semakin Kita Gila, Semakin Bahagia Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
*Jakarta* - Ketika memimpin kanal *detikhot* di portal berita kesayangan
Anda ini, wakil saya Han Kristi selalu punya ide-ide yang terkesan
sepele namun sebenarnya cukup kreatif dan efektif --walau kadang ribet--
untuk menjaga kekompakan anggota tim. Pada momen-momen tertentu ia
meminta, dan biasanya disepakati bersama, tim untuk ke kantor dengan
"/dress code/" yang ditentukan.
Pernah suatu ketika, /dress code/ yang disepakati adalah "kembali ke
sekolah". Hasilnya memang lucu; pada hari itu seolah-olah ada sekelompok
"anak sekolah" yang bekerja di kantor. Ada yang mengenakan celana atau
bawahan abu-abu ala anak SMA, ada juga yang mengenakan warna merah ala
murid SD. Yang jelas, kemeja atau baju atasannya putih. Karena saya bos
(/ehm/!), maka saya cukup mengenakan batik. /Lho/, kok nggak kompak?
Siapa bilang?
Ketika kami foto bersama, maka tampaklah sederetan murid sekolah dengan
saya seolah-olah sebagai gurunya. Hehehe. Kami pun menjadi pusat
perhatian seluruh kantor; ada yang menatap aneh, ada yang sinis, ada
yang terinspirasi karena merasa mendapatkan pemandangan yang tak biasa,
lumayan buat menyegarkan suasana kantor agar tidak tegang, kaku, dan
serius melulu.
Yang jelas, apapun pandangan orang, kami merasa "pede" /aja/. Tidak ada
yang merasa canggung atau malu, karena memang itu sudah disepakati
bersama. Dan, yang jelas lagi, kami senang serta bahagia melakukannya.
Saya teringat kembali momen itu ketika awal pekan lalu menghadiri acara
peluncuran buku teman kami, Citra Yuliasari. Ketika diinterogasi oleh MC
saat mengantarkan peluncuran bukunya yang berjudul /Sosialijah/ itu,
Citra menceritakan salah satu pengalamannya, yang menjadi bagian dari
isi bukunya tersebut. Alkisah, ia punya sekelompok pertemanan ibu-ibu
muda yang rutin mengadakan arisan.
Baginya, setiap kali acara arisan itu tiba, seolah menjadi momen "uji
nyali". Waduh, kira-kira /dress code/ apa lagi yang nanti akan dipakai,
demikian pikirnya. Arisan kumpulan ibu-ibu yang terbentuk karena
sama-sama sebagai orangtua murid sekolahan anaknya itu memang unik.
Selalu ada-ada saja ide yang terlontar, dan herannya, kata Citra, "semua
satu frekuensi dalam hal kegilaan dan semangat untuk mensukseskannya".
Suatu kali, /dress code/ yang ditentukan membuat dia tersipu. Ibu-ibu
muda yang sebenarnya sudah tidak muda lagi itu --walau tetap tidak kalah
manis dengan yang muda, kata Citra-- harus sepakat menggunakan kostum
dengan tema 'Avangers'. Entah siapa yang memulai mencetuskan, tapi ide
itu disambut dengan gegap gempita. Citra pun kemudian mengenang, betapa
repotnya ia yang kala itu kebagian mengenakan kostum Spiderman.
Saat itu hanya terpikirkan topeng Spiderman milik anaknya. Sedangkan
untuk bajunya perlu perjuangan bongkar lemari, yang penting warnanya
merah-biru. Tidak lupa, ia membeli stiker laba-laba untuk ditempelkan di
bajunya. Karena seperti biasa Jakarta macet, dan ditambah hari itu juga
sangat panas, ia memutuskan memarkir kendaraannya di suatu tempat, dan
meneruskan perjalanan dengan ojek /online./
Sambil menunggu ojek andalannya datang, dia berdiri di tepi jalan, dan
banyak mata memandang ke arahnya. Dia "lupa" kalau saat itu sedang
berdandan aneh. Saat si tukang ojek datang, kalimat pertama yang keluar
adalah, "Wah, neng Spiderman kok pesen ojek, nggak pakai jaring
laba-laba aja biar cepet nyampe?" Saat itulah dia baru sadar, bahwa
dirinya sedang berdandan "tidak normal".
Malu? Tentu saja, ada sedikit rasa itu. Tapi, ketika ia sampai di lokasi
acara, dandanannya ternyata belum seberapa "memalukan" dibanding
lainnya. Salah seorang temannya ada yang menyulap panci dapur sebagai
atribut kostum Thor. Teman lainnya dengan kreatif menggunting-gunting
rafia sebagai efek api untuk kostum Scarlet Witch. Namun, yang paling
epik, ada yang rela menghijaukan seluruh wajah dan tangannya dengan /eye
shadow/ untuk berperan sebagai Gamora.
"Begitulah, punya teman-teman yang kadar /sedeng/-nya sama memang
mengasyikkan, setidaknya ada satu kelompok teman yang punya frekuensi
sama dan nggak jaim itu berkah," kata Citra seraya kemudian menyambung
dengan semacam kesimpulan, "Ternyata, semakin kita gila semakin bahagia.
Sosialita/beneran/ mana bisa kayak gitu!"
Dari situlah, Citra menciptakan istilah "solialijah" yang kemudian
menjadi judul bukunya itu, plesetan dari kata "solialita" yang
digabungkan dengan kata "ijah" yang merupakan nama poluler asisten rumah
tangga. Citra menamai dirinya dan teman-temannya sebagai "sosialijah",
yakni ibu-ibu kelas menengah yang masih suka sosialisasi untuk
eksistensi, tapi tugas utamanya masih "/ngijah/" alias bebenah rumah.
"Kalau di rumah seneng banget pakai daster yang adem, tapi kalau keluar
rumah lipstik harus tetap /on/," katanya.
Citra mengindentifikasi para sosialijah itu, termasuk dirinya ada di
dalamnya, rata-rata memiliki rasa percaya diri cukup tinggi. Mereka juga
apa adanya dalam menjalani hidup, bukan golongan BPJS alias /budget/
pas-pasan jiwa sosialita. Mereka bahagia dengan tugasnya antar-jempur
anak sekolah. Sesekali saat menunggu anak sekolah biasanya "ngopi-ngopi
cantik" di kafe atau resto sekitar sekolahan, tapi agak rempong kalau
sudah urusan anak. Mereka biasanya juga termasuk ibu-ibu produktif dalam
keahliannya masing-masing, punya jiwa sosial tinggi, dan juga dari latar
belakang pendidikan yang cukup tinggi.
Saya melihat sendiri setidaknya dari para hadirin yang diundang oleh
Citra ke acara peluncuran bukunya di Penang Bistro, Grand Indonesia itu.
Mereka hampir semuanya berjilbab, wajah mulus dan berkilau oleh
kosmetik, wangi, busana berlapis-lapis dengan aneka warna yang membuat
orang menoleh dua kali ke arahnya. Atau, dalam istilah Citra, mereka
punya karakter yang kuat. Dan, itu tadi, kegilaan yang spontan.
Apakah ini semacam bentuk perlawanan terhadap feminisme yang menolak
"peran ganda" perempuan, dan menyebutnya sebagai "beban ganda"? Saya
buru-buru menepis pikiran yang terlalu serius itu. Terngiang kembali
kata-kata Citra tadi, bahwa semakin kita gila semakin bahagia. Saya rasa
itu sudah mewakili semuanya dengan sangat tepat.
Hidup ini kadang (atau sering) tidak mudah. Minimal bagi sebagian orang.
Pemikiran bahwa hidup itu mudah adalah jebakan yang akan menyesatkan
kita dari waktu ke waktu. (Hidup) bahagia bukanlah perkara sepele.
Bahkan orang yang cerdas atau pun kaya raya pun sering tidak dapat
mengelolanya (/Sosialita beneran mana bisa!). /Ungkapan "bahagia itu
sederhana" yang populer di medis sosial sebenarnya terlalu
menyederhanakan persoalan, dan tak lebih dari sebentuk hiburan kosong.
Kita telah menciptakan dunia yang tidak lagi kita pahami. Dunia yang
penuh tekanan dan terlalu menuntut. Dunia yang menghendaki segalanya
serba cepat, dan kita harus terus berlari mengejarnya. Dunia yang penuh
kompleksitas, dan ketidakstabilan. Kita berusaha untuk mengarahkan
lingkungan yang rumit itu menggunakan otak kita yang sebenarnya tidak
pernah berkembang kapasitasnya sejak Zaman Batu. Evolusi tidak mampu
mengimbangi perkembangan peradaban yang sangat cepat. Saat lingkungan
kita berubah drastis selama sepuluh ribu tahun terakhir, perangkat batin
dan otak kita masih sama seperti ketika mamot masih hidup di Bumi.
Itulah alasan kita perlu menyediakan satu kotak perangkat mental --bukan
doktrin, ideologi, dan jargon-jargon yang kaku-- yang dapat kita gunakan
lagi dan lagi, secara fleksibel; perangkat mental yang memungkinkan kita
memandang dunia secara lebih objektif, bertindak lebih bijaksana, untuk
jangka panjang. Perangkat mental yang memungkinkan kita untuk sesekali
bertingkah "gila". Saya beruntung dan berterima kasih karena siang itu,
setelah sekian lama tidak bertemu, Citra mengingatkan hal itu.
*Mumu Aloha* /wartawan, penulis, editor/
*(mmu/mmu)*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*