Idealnya istana adalah kebudayaan itu sendiri. Setidaknya 
menjadi etalase untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia, 
sukur-sukur menjadi kiblat budaya sebagaimana dulu bangsa ini 
sempat berkebudayaan antikolonialisme-imperialisme. Antara 
lain, kepada masyarakat dari dunia penjajah yang bertamu ke 
Indonesia, Soekarno menyediakan etalase keramahan bangsa 
merdeka ini di Hotel Indonesia melalui pernak-pernik kesenian 
dan ketrampilan nusantara. Bagi tamu yang tertarik memiliki 
benda-benda seni tsb. bisa membelinya di Toserba Sarinah yang 
tak jauh dari hotel. Lebih kurang begitulah budaya ekonomi mandiri 
yang dibangun. Sedangkan tamu kenegaraan dari dunia penjajah 
maupun dunia ketiga dijamin tidur pulas di Wisma Negara dan 
semua bakal kebagian cinderamata khas Indonesia. Kira-kira seperti 
itulah budaya bangsa merdeka yang tidak menaruh dendam kepada 
siapa pun. 

Sekarang, kebudayaan yang dikembangkan berbalik 180 derajat,Istana Merdeka 
seperti dijadikan sarang kaum pendendam terutama 
5 tahun terakhir. Ya, itulah cerminan budaya yang hidup di masyarakat 
yang dipecahbelah sejak 7 tahun lalu. Bisa dilihat terjadinya pilih bulu 
sebagai tontonan sehari-hari yaitu hanya kelompok-kelompok pro Jokowi 
yang diundang masuk ke dalam istana, baik itu seniman, atlet, petani, 
buruh, ojek, dll. Sedangkan kelompok sejenis yang tidak pro, semisal guru, 
pegawai honorer dll dibiarkan terhadang aparat. Bahkan petani Kendeng 
dan Kelompok Kamisan yang "terpaksa" diizinkan masuk hanya disuguhi 
janji-janji kosong. Itu pun setelah mereka berdemo ratusan minggu di 
depan istana! 

Betul-betul keterlaluanlah gelaran kesenian wayang kulit ini disebut untuk 
memperingati Kemerdekaan RI, wong lebih mirip malam hiburan menyambut 
"kemenangan" belaka persembahan kalangan seniman Solo-connection 
pro Joko Widodo.
--- lusi_d@... wrote:
Politik kebudayaan yang tepat yalah menyediakan panggung istana untuk
mempresentasikan kekayaan kebudayaan seluruh tanahair. Misalnya apakah
secara bergilir, periodik per provinsi yang juga diikuti oleh para ahli
maupun pekerja budaya. Jadi ada kegiatan saling belajar, mengenal dan
memperkenalkan seni dan budaya ciptaan daerahnya masing-masing. Dengan
cara ini kita bisa saling mengenal kebudayaan yang disenangi rakyat di
seluruh Indonesia. Kegiatan semacam ini akan saling mempererat kerukunan
dan saling menghargai kreasi antar sukubangsa.

Sebelum mengagresi dan menduduki Irak, Imperialis AS meruntuhkan lebihdulu 
patung Sadam Husein untuk mematahkan kebanggaan dan idola rakyat
Irak ketika itu. Demikian juga thd Gaddhafi di Libya, malah lebih sadis.
Am
Sun, 4 Aug 2019 00:01:28 +0200 schrieb Sunny ambon:

> Apakah wayang islamiyah?
> 
> https://rmco.id/baca-berita/pemilu-presiden/15018/ki-manteb-wayangan-di-istana-jokowi-disamakan-kresna
> 
> *Ki Manteb Wayangan Di Istana, Jokowi Disamakan Kresna*
> 
> -
> 
> *PEMILU PRESIDEN* <https://rmco.id/kategori-berita/pemilu-presiden>
> -
> 
> *Sabtu, 3 Agustus 2019, 06:25 WIB*
> 
> *Presiden Jokowi menerima wayang Kresna dari dalang Ki Manteb
> Sudarsono sebelum pertunjukan wayang kulit di Istana Merdeka,
> Jakarta, kemarin. Wayangan ini menyambut HUT Kemerdekaan ke-74 RI.
> (Foto: Randy Tri Kurniawan/Rakyat Merdeka).*
> 
> *RM**co.id <http://co.id>* Rakyat Merdeka - Memperingati HUT
> Kemerdekaan tahun ini, Istana menanggap wayang kulit semalam suntuk,
> malam tadi. Dalangnya Ki Manteb Sudarsono. Lakon yang dibawakan
> adalah Kresna Jumeneng Ratu atau Kresna menjadi raja. Sejumlah
> politisi menyebut, ada alasan tersendiri Ki Manteb membawakan lakon
> ini. Jokowi sama dengan Kresna yang bijaksana.
> 
> Selepas salat magrib, halaman depan Istana Merdeka mulai ramai
> didatangi pengunjung yang ingin menonton wayang. Acara wayangan ini
> memang dibuka untuk umum. Selain undangan, warga juga bisa ikut
> menonton dari dekat. Pengunjung yang hadir tampak antusias. Sebagian
> duduk di kursi yang disediakan, sebagian lagi duduk lesehan di atas
> rumput. Ada juga yang menonton dari jalan raya. Panitia menyiapkan
> dua layar besar untuk warga yang ingin menonton dari luar. Panitia
> juga menyediakan kudapan ringan, seperti rebusan ubi dan kacang serta
> wedang ronde.
> 
> Sekitar pukul 7.45 malam, Jokowi didampingi ibu Iriana keluar dari
> istana dengan mengenakan jaket bomber. Sebelum duduk di kursi, Jokowi
> menyalami penonton lebih dulu. Acara lalu dibuka dengan sambutan
> Mensesneg, Pratikno. Selanjutnya, ada penampilan Edo Kondologit dan
> penyanyi campursari, Didi Kempot.
> 
> *Berita Terkait : **Gempa Banten, Jokowi Perintahkan BNPB Bertindak
> Cepat
> <https://rmco.id/baca-berita/on-the-spot/15012/gempa-banten-jokowi-perintahkan-bnpb-bertindak-cepat>*
> 
> 
> Setelah penampilan Didi, Jokowi naik ke atas panggung. Di sana, ia
> memberikan cenderamata berupa wayang Kresna kepada Ki Manteb. Begitu
> juga sebaliknya. Ki Manteb memberikan cenderamata berupa wayang
> dengan tokoh Kresna kepada Jokowi. Jokowi tertawa saat menerima
> wayang tersebut. Ia lalu mengacungkan dan memainkan wayang tersebut.
> Hadirin menyambut dengan tepuk tangan. Jokowi kembali duduk di
> kursinya, sementara Ki Manteb duduk di depan kelir. Wayangan pun
> dimulai.
> 
> Kresna Jumeneng Ratu berkisah tentang Narayana yang ingin memiliki
> kerajaan sendiri. Narayana adalah nama kecil Kresna. Cerita dimulai
> saat saudara Narayana, Baladewa, diangkat menjadi raja di negeri
> kelahiran mereka, Mandura. Dari sini, niat Narayana muncul. Dia lalu
> pergi ke daerah Dwarawati. Di sana, Narayana mengalahkan Prabu
> Narasingha yang berwujud raksasa. Narayana merebut kekuasaan negara
> Dwarawati karena dulunya daerah itu direbut Narasingha dari tangan
> Prabu Basudewa, ayah Narayana. Setelah menjadi raja, Narayana pun
> mendapat gelar Sri Kresna.
> 
> Karakter Narayana dalam pewayangan merupakan seorang raja yang sangat
> sakti dan bijaksana. Kresna juga ahli stretegi. Seniornya, seperti
> Resi Bhisma dan Dharna, sebelum perang Bharatayuda pernah mengatakan
> bahwa satu-satunya tokoh yang mereka takuti di pihak Pandawa adalah
> Sri Kresna. Hal ini merupakan sebuah tanda dari generasi tua terhadap
> kehebatan generasi mudanya. Sri Kresna pantas ditakuti karena semua
> orang sadar bahwa dia adalah titisan dari Batara Wisnu. Dalam
> mitologi, Batara Wisnu ini bisa dikatakan sebagai utusan dari Batara
> Shiwa pimpinan para Dewa.
> 
> *Berita Terkait : **Hoaks, Ma`ruf Tak Dilibatkan Jokowi
> <https://rmco.id/baca-berita/on-the-spot/14859/soal-pilih-menteri-hoaks-maruf-tak-dilibatkan-jokowi>*
> 
> Jokowi sempat ditanya kenapa lakon Kresna yang dipilih. Namun, Jokowi
> menjawab diplomatis. “Tanya Ki Manteb dong,” katanya.
> 
> Sementara itu, pengawat pewayangan, Sindung Tjahyadi, menyatakan ada
> persamaan antara Jokowi dan tokoh Kresna. Kata dia, dua-duanya ahli
> strategi. “Dalam strategi, Pak Jokowi juaranya,” kata Sindung,
> kemarin.
> 
> Politikus PDIP, Eva Kusuma Sundari, ikut berkomentar. Kata dia, ada
> makna yang tersirat dalam lakon tersebut. Di antaranya, Jokowi ingin
> menunjukkan kepemimpinan yang tetap fokus pada kerja.
> 
> *Berita Terkait : **Minta Kebakaran Hutan Segera Diatasi, Jokowi
> Telepon Langsung Kepala BNPB
> <https://rmco.id/baca-berita/government-action/14806/minta-kebakaran-hutan-segera-diatasi-jokowi-telepon-langsung-kepala-bnpb>*
> 
> “Kresna titisan Wisnu, dewa yang memelihara kehidupan, atau
> membangun. Pak Jokowi menunjukkan kepemimpinan yang mengajak untuk
> kerja, kerja, kerja, membangun Indonesia Raya,” kata Eva, kemarin..
> 
> Hal senada disampaikan politikus PDIP, Aria Bima. Kata dia, lakon
> tersebut merepresentasikan seorang raja yang bijaksana dalam
> memerintan negara. Selain itu, sosok Kresna merupakan raja yang biasa
> memecahkan masalah dengan akal sehat. “Raja menolak pendekatan
> kekuasaan yang otoriter.. Hal tersebut tercermin dalam diri Kresna,”
> kata Aria, kemarin.
> 
> Menurut Aria, lakon Kresna Jumeneng Ratu memiliki makna di periode
> kedua, Jokowi bakal lebih mendengar aspirasi rakyat, memutuskan
> kebijakan dengan lugas dan demokratis demi kepentingan masyarakat.
> “Atau visioner partisipatif,” pungkasnya. [*BCG*]

  

Kirim email ke