https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190813075414-532-420757/perlambatan-ekonomi-di-depan-mata-peran-apbn-perlu-digeber


Perlambatan Ekonomi di Depan Mata, Peran APBN Perlu 'Digeber'

*Yuli Yanna Fauzie*, CNN Indonesia | Selasa, 13/08/2019 08:08 WIB

Bagikan :


Jakarta, CNN Indonesia -- Target *pertumbuhan ekonomi
<https://www.cnnindonesia.com/tag/pertumbuhan-ekonomi>* sebesar 5,3 persen
kian jauh panggang dari api. Buktinya, hingga semester I 2019, realisasi
pertumbuhan ekonomi cuma 5,06 persen. Sejumlah riset lembaga internasional
dan pengamat di dalam negeri juga sama pesimisnya *ekonomi
<https://www.cnnindonesia.com/tag/ekonomi>* RI bakal menyentuh 5,3 persen.

Yang terbaru, riset Morgan Stanley menyebutkan ekonomi RI hanya mampu
mencapai 5 persen pada tahun ini. Faktor pemberatnya, perang dagang AS dan
China.

Berdasarkan indikator pengeluaran yang membentuk perekonomian, Konsumsi
Lembaga Non Profit yang melayani Rumah Tangga (LNPRT) tumbuh paling tinggi,
yakni 15,27 persen. Pertumbuhan disumbang oleh perhelatan pilpres dan
pemilu pada April lalu.

Kemudian, pertumbuhan tinggi juga disumbang oleh indikator konsumsi
pemerintah sebesar 8,23 persen. Daya dorong Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara (APBN) kian besar ke ekonomi berkat program bantuan sosial (bansos)
dan kenaikan gaji serta Tunjangan Hari Raya (THR) Lebaran.

Sementara, dua indikator utama yang biasanya menyumbang ekonomi justru
tumbuh cukup moderat, yaitu konsumsi rumah tangga 5,17 persen dan investasi
5,01 persen. Sedangkan ekspor minus 1,81 persen dan impor minus 6,73 persen
akibat tekanan perlambatan ekonomi global dan ketidakpastian.
Lihat juga:

 Morgan Stanley: Ekonomi RI Cuma 5 Persen Karena Perang Dagang
<https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190812111857-532-420459/morgan-stanley-ekonomi-ri-cuma-5-persen-karena-perang-dagang/>

Dari realisasi ini, pemerintah sebetulnya menyadari bahwa perlambatan
ekonomi RI memang sudah di depan mata. Meski, pemerintah berdalih hal ini
sejalan dengan apa yang dirasa oleh mayoritas negara-negara di dunia.

Hanya saja, untuk menggeber laju ekonomi, pemerintah memang butuh upaya
ekstra. Sebab, menurut Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Kepala
Bappenas Bambang P.S. Brodjonegoro, Indonesia tidak bisa lagi bergantung
pada pertumbuhan indikator konsumsi rumah tangga.

Maklum, tingkat konsumsi masyarakat biasanya cenderung menurun setelah
Lebaran usai. Untuk itu, mau tidak mau, pertumbuhan harus bisa diupayakan
melalui indikator investasi dan ekspor, meski ketidakpastian masih
menyelimuti.

"Mau tidak mau, investasi harus didorong lebih besar lagi, karena konsumsi
tidak bisa dipacu lebih tinggi lagi," ungkap Bambang kepada
*CNNIndonesia.com*, Senin (12/8).

Untuk mendorong ekspor sendiri, pemerintah setidaknya sudah menyiapkan
beberapa langkah. Mulai dari pengembangan kawasan industri, pemberian
insentif fiskal, tata kelola keniagaan, hingga memperluas negara tujuan
ekspor ke negara nontradisional.
Lihat juga:

 Rizal Ramli: 24 Perusahaan 'Zombie' di BEI Picu Krisis 2020
<https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190812151706-532-420571/rizal-ramli-24-perusahaan-zombie-di-bei-picu-krisis-2020/>

*Nah*, untuk menggeliatkan investasi, pemerintah juga sudah menerbitkan
sistem perizinan terintegrasi (Online Single Submission/OSS), tebar
insentif fiskal, menerbitkan berbagai skema pembiayaan baru. Tetapi, bila
ini semua tak juga memberikan dampak signifikan, memang mau tidak mau
konsumsi pemerintah melalui APBN perlu ditambah.


Namun, Bambang menggarisbawahi, dukungan keuangan negara sebaiknya mengalir
melalui kebijakan pro investasi. Misalnya, menambah pembangunan
infrastruktur dan perluasan insentif pajak guna merangsang investasi
swasta.

"Kalaupun peran APBN mau diperlebar, itu masuknya harus lewat investasi,
bukan konsumsi. Namun, seberapa dampaknya terhadap defisit, itu tanyakan
(menteri) keuangan," katanya.

Hal senada disampaikan Ekonom sekaligus Kepala Pusat Penelitian Ekonomi
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2E LIPI) Agus Eko Nugroho. Menurut
dia, Indonesia akan sulit mengejar pertumbuhan ekonomi tahun ini apabila
cuma bergantung pada konsumsi rumah tangga.

Begitu pula bila ingin bermimpi mendapat pertumbuhan dari ekspor. Sebab,
perlambatan ekonomi dunia tidak akan berakhir dalam waktu dekat. Walhasil,
harga komoditas masih akan tertekan dan tidak bisa memperbesar nilai ekspor
yang mayoritas didominasi oleh komoditas mentah.
Lihat juga:

 Potensi Resesi Ekonomi Meningkat Akibat Perang Dagang
<https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190812120927-532-420470/potensi-resesi-ekonomi-meningkat-akibat-perang-dagang/>

Sementara, sekalipun ada peluang investasi meningkat, namun pengaruhnya
diperkirakan tetap tidak bisa menjadi harapan utama bagi perekonomian di
semester II nanti. "Maka, mungkin ada benarnya harus ekspansif menggunakan
APBN. Biarkan defisit melebar sedikit sehingga bisa memicu konsumsi dan
investasi di tengah lemahnya permintaan global," ungkapnya.

Menurut Agus, APBN memang perlu 'berkorban'. *Toh*, tingkat inflasi sudah
cukup rendah. Meskipun, hal itu tak bisa secara alamiah memicu konsumsi
masyarakat. Karenanya, ada upaya ekstra, seperti stimulus dari pemerintah.

Begitu pula dengan investasi. Meski, beberapa pembenahan di perizinan dan
kemudahan berusaha sudah dilakukan, namun ia melihat masih perlu beberapa
suntikan pelonggaran fiskal demi mengundang aliran dana para investor.

"Ketika pertumbuhan ekonomi sudah ada tendensi penurunan, para pengusaha
pun tidak bisa melawan rendahnya permintaan. Maka, mau tidak mau peran
pemerintah harus ditingkatkan, salah satunya lewat APBN," tuturnya.

Cara lain, menurut Agus, dengan mengutak-atik kebijakan moneter. Misalnya,
kembali menurunkan tingkat bunga acuan Bank Indonesia 7 Days Reverse Repo
Rate (BI 7DRRR). Apalagi, tren kebijakan moneter dari sejumlah bank sentral
di dunia sudah mengarah ke pelonggaran.

Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).

Ia menilai penurunan tingkat bunga acuan bisa menekan perbankan nasional
untuk segera menurunkan tingkat bunga kredit kepada dunia usaha dan
masyarakat. Dengan demikian, kedua pihak punya opsi sumber dana baru untuk
melakukan ekspansi dan konsumsi.

"Tapi perlu diingat, momen penurunan bunga acuan BI tetap harus
memperhitungkan kapan sekiranya tekanan depresiasi terhadap rupiah tengah
rendah. Kalau waktunya tepat, maka ruang penurunan bunga acuan BI bisa
sampai 50 basis poin sampai akhir tahun," ucapnya.

Perhitungannya, bila celah kebijakan fiskal dan moneter bisa dilakukan,
maka setidaknya dapat membuat ekonomi Indonesia berada di rentang 5,0
persen sampai 5,2 persen pada akhir tahun. Namun, patut dipahami, target
laju ekonomi 5,3 persen memang sudah tidak mungkin digenggam.

Senada, Ekonom Senior Standard Chartered Bank Indonesia Aldian Taloputra
bilang celah pertumbuhan ekonomi memang tersisa pada kinerja investasi dan
konsumsi pemerintah. Sebab, ekspor sudah tidak bisa diharapkan di tengah
tingginya tekanan perlambatan ekonomi dunia.

Meski demikian, tidak ada salahnya tetap mengupayakan berbagai kebijakan
untuk mendorong ekspor. Misalnya, menjalin kerja sama perdagangan,
diversifikasi produk ekspor, hingga membuka pasar baru.
Lihat juga:

 Rizal Ramli Ramal Ekonomi 2019 Anjlok ke Level 4,5 Persen
<https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190812141058-532-420551/rizal-ramli-ramal-ekonomi-2019-anjlok-ke-level-45-persen/>

Begitu pula ketika mengharapkan pertumbuhan ekonomi dari konsumsi rumah
tangga. Indonesia, katanya, memang akan selalu bisa mendapatkan topangan
dari indikator ini karena populasi penduduk yang tinggi.

"Tapi kalau mau tumbuh lebih cepat, bukan indikator ini (konsumsi rumah
tangga) yang jadi motor, melainkan investasi dan ekspor," tutur Aldian.

Khusus investasi, ia mengakui upaya yang dilakukan pemerintah. Sayangnya,
dampaknya kembali lagi kepada tren investasi itu sendiri. "Tapi mungkin
kalau pemerintah bisa reform kebijakan lebih cepat, mungkin dampaknya tetap
lebih baik kepada investasi," jelasnya.

Dengan kondisi seperti ini, Aldian melihat perlu daya geber tambahan dari
pemerintah melalui APBN. Hal ini, katanya, bisa dilakukan dengan
memaksimalkan belanja negara maupun tebar insentif.

Opsi ini bisa dilakukan lantaran ruang pelebaran defisit masih cukup aman.
Per semester I 2019 misalnya, defisit keuangan negara baru mencapai Rp135,8
triliun atau 0,84 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Lihat juga:

 Sri Mulyani: AS, Eropa, China 'Bersin', Dunia Kena 'Flu'
<https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190811092159-532-420209/sri-mulyani-as-eropa-china-bersin-dunia-kena-flu/>

"Rasanya sedikit melebar dari yang sekarang masih tidak apa pengaruhnya.
Berdasarkan undang-undang, pemerintah punya ruang sampai 3 persen dari PDB.
Jadi risikonya masih bisa dikendalikan," terang dia.

Sementara, daya geber peningkatan ekonomi melalui kebijakan moneter, ia
nilai akan memakan waktu untuk melihat hasilnya. Apalagi, BI tetap harus
berhati-hati dalam menyeret turun tingkat bunga acuan.

Perhitungannya, bank sentral nasional memiliki ruang penurunan bunga acuan
sampai 50 bps, namun sampai kuartal I 2020. Artinya, kemungkinan penurunan
bunga acuan pada tahun ini hanya satu kali terjadi lagi. Itu pun bergantung
pada langkah bank sentral AS, The Federal Reserve.

Kalaupun BI menurunkan bunga acuan lagi, Aldian tak yakin akan berdampak
pada penurunan bunga kredit yang cepat pula dari para bank. "Penurunan
tetap ada, tapi gradual, itu pun dampaknya ke ekonomi biasanya ada jarak
mungkin dua sampai tiga kuartal baru terasa. Tidak bisa dirasakan pada
tahun ini," katanya.

Ekonom sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia (UI)
Telisa Aulia Falianty memandang dampak pelonggaran bunga acuan bank sentral
nasional dan penurunan bunga kredit bank paling cepat baru terasa sekitar
satu sampai dua kuartal.
Lihat juga:

 BI Tegaskan Ekonomi Global Belum Krisis
<https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190809174308-532-419950/bi-tegaskan-ekonomi-global-belum-krisis/>

"Moderatnya dua kuartal baru terlihat, karena transmisi kebijakan moneter
memang pengambilan keputusannya cepat, tapi dampaknya ada jeda, cukup
lama," jelasnya.

Kendati begitu, ia tak sependapat dengan Agus dan Aldian soal peningkatan
daya geber APBN yang merelakan pelebaran defisit keuangan negara.
Menurutnya, hal ini justru bisa memberi risiko baru pengelolaan APBN ke
depan.

"Tentu tidak mau kan menambah utang, sementara penerimaan pajak kurang bisa
diharapkan juga di tengah perlambatan ekonomi ini. Kuncinya memang mengejar
pertumbuhan, tapi stabilitas harus dijaga," tekannya.

Apabila ingin menambah daya geber ekonomi dari APBN, ia menambahkan, hal
yang bisa dilakukan adalah mengoptimalkan hasil aliran uang negara. Tetapi,
bukan semata-mata memperbesar nominalnya saja.

"Yang terpenting adalah bagaimana pemerintah bisa menggunakan kebijakan
fiskal berupa insentif untuk menghasilkan inovasi, sehingga swasta ikut
bergerak. Kalau mengutamakan nominal pengeluaran saja, takutnya tidak
efisien," pungkasnya.

Kirim email ke