Resensi film <https://www.antaranews.com/slug/resensi-film>
Film "Bumi Manusia" hidupkan novel Pramoedya
Kamis, 15 Agustus 2019 09:33 WIB
Film "Bumi Manusia" hidupkan novel Pramoedya
Film "Bumi Manusia" (ANTARA News/Falcon Pictures)
Jakarta (ANTARA) - Saat pertama kali diumumkan bahwa "Bumi Manusia" akan
menjadi film layar lebar, muncul pro dan kontra di antara penggemar
Pramoedya Ananta Toer lantaran khawatir karya sang penulis legendaris
itu akan "ternodai", namun Hanung Bramantyo ternyata mampu menepis
keraguan itu.
"Bumi Manusia" akan tayang hari ini di seluruh bioskop Indonesia, perlu
diketahui bahwa film tersebut memiliki durasi yang cukup panjang yakni 2
jam 52 menit.
Meski demikian, Hanung menyajikannya dengan sangat menarik sehingga
durasi hampir tiga jam menjadi tidak terasa.
"Bumi Manusia" secara garis besar berkisah tentang percintaan antara
Minke (Iqbaal Ramadhan) seorang pribumi dan Annalies Mellema (Mawar de
Jongh) seorang blasteran Indonesia-Belanda dari ayah bernama Herman
Mellema dan ibu bernama Nyai Ontosoroh (Sha Ine Febriyanti).
Minke yang awalnya mengagungkan budaya Eropa, menjadi terbuka
pandangannya terhadap bangsa pribumi setelah mengenal Nyai Ontosoroh
yang selalu melakukan perlawanan pada penindasan, terlebih saat
memperjuangkan status Annalies sebagai anaknya di pengadilan.
*Cerita klasik yang menarik*
Meski berlatar belakang tahun 1800an, warna dalam film ini tidak lantas
menjadi sephia, seperti ciri khas Hanung pada film lainnya, di sini dia
juga menggunakan warna yang cerah dan menarik mata, khususnya pada
bagian awal film.
Menariknya, "Bumi Manusia" juga dibuat dengan proses penceritaan yang
santai, tutur bahasa yang digunakan tidak terlalu sastra sehingga mudah
dicerna oleh penonton meski tetap menggunakan bahasa Jawa dan Belanda.
Para pemainnya terlihat sangat fasih dalam berbahasa Jawa dan Belanda,
khususnya Iqbaal dan Jerome Kurniawan sebagai Robert Suurhoff yang
menjadi rekan Minke.
Yang terpenting, Hanung mampu menjadikan film ini tidak membosankan
walau berdurasi panjang. Sutradara "Habibie & Ainun" itu membuat
penonton tetap menikmati adegan per adegan tanpa perlu merasa kapan
filmnya akan berakhir.
*Baca juga:Pertama kalinya Hanung Bramantyo dapat "standing ovation"
<https://www.antaranews.com/berita/1003940/pertama-kalinya-hanung-bramantyo-dapat-standing-ovation>*
Semua berjalan dengan sangat halus dan mulus, ditambah permainan emosi
yang naik-turun dari bahagia, sedih hingga pedih membuat penonton enggan
beranjak meninggalkan kursi untuk sekadar ke toilet.
Salman Aristo sebagai penulis skenario dengan piawai menciptakan dialog
yang bisa menyentuh penonton dan mampu menerjemahkan sastra novel ke
dalam visual yang sarat dengan hal menghibur dan tidak membingungkan.
*Baca juga:Jelang rilis "Bumi Manusia", Hanung Bramantyo deg-degan
<https://www.antaranews.com/berita/1001814/jelang-rilis-bumi-manusia-hanung-bramantyo-deg-degan>*
*Didukung pemain berkualitas*
Film yang diambil dari novel itu, juga dikuatkan dengan deretan pemain
dengan kemampuan yang luar biasa. Pertama, Iqbaal mampu bertransformasi
menjadi Minke secara utuh, padahal sebelumnya banyak yang meragukan
mantan personel CJR itu bisa lepas dari karakter Dilan. Tapi di sini,
penonton dapat melihat perbedaan antara Minke dan Dilan.
Tak hanya Iqbaal, dalam "Bumi Manusia" juga melibatkan para pemain baru
di dunia film seperti Giorgino Abraham (Robert Mellema), Jerome
Kurniawan, Mawar de Jongh serta Bryan Domani (Panji Darma). Akting para
aktor dan aktris ini wajib diberi acungan jempol, khususnya Giorgino
yang mampu membuat penonton kesal dengan peran antagonisnya.
Jerome yang berperan sebagai orang Belanda pun seperti benar-benar
berasal dari Negara Kincir Angin dan begitu fasih menggunakan bahasa
Belanda. Sedangkan Mawar yang sebelumnya mengaku kesulitan berperan
sebagai Annalies, nyatanya dia begitu mendalami sosok tersebut.
Pemain lain yang tidak luput dari pujian adalah Sha Ine Febriyanti, dia
benar-benar menghidupkan sosok Nyai Ontosoroh yang begitu berkarisma
sekaligus misterius. Lalu satu pemain lagi yang tidak bisa dianggap
remeh adalah Whani Darmawan yang berperan sebagai Darsam atau pengawal
Nyai Ontosoroh. Tokoh tersebut sepertinya akan menjadi favorit di film ini.
"Bumi Manusia" menyajikan banyak hal di luar ekspektasi, jika sebelumnya
Hanung sempat diragukan saat menggarap film tersebut ditambah dengan
deretan pemain baru, tampaknya hari ini suami Zaskia Adya Mecca itu akan
mendapat banyak pujian.
Dalam gala premier yang berlangsung di Surabaya pada 9 Agustus lalu,
Hanung mendapat standing applause dari penonton. Menurutnya ini adalah
pengalaman pertama memperoleh apresiasi yang sangat besar dari penikmat
film.
*Baca juga:Sultan HB X terkesan kedalaman nilai film Bumi Manusia
<https://www.antaranews.com/berita/1009712/sultan-hb-x-terkesan-kedalaman-nilai-film-bumi-manusia>
Baca juga:"Bumi Manusia" bikin Sha Ine Febriyanti langgar kebiasaan
<https://www.antaranews.com/berita/1004260/bumi-manusia-bikin-sha-ine-febriyanti-langgar-kebiasaan>
Baca juga:Anak Pramoedya menangis tersedu lihat proses suntingan "Bumi
Manusia"
<https://www.antaranews.com/berita/995438/anak-pramoedya-menangis-tersedu-lihat-proses-suntingan-bumi-manusia>*
Cerita pemain Bumi Manusia mengenal karya Pramoedya
Play Video
Play
Unmute
Current Time 0:00
/
Duration 2:43
Loaded:0%
Seek to live, currently playing liveLIVEFullscreen
Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com