Hahaha, mana Mahfud si pembina Pancasila?
Mosok takut menyebut berapa juta dollar yang dibawa imperialis radikal dengan 
modus mendukung media pemberitaan corong atau mendirikan media pamflet sendiri.
"Ngomong pancasila, mana itu pancasila." 
- Surya Paloh
   --- roeslan12@... wrote: 

REFLEKSI: 
INDONESIA ADALAH NEGARA PENDUKUNG SETIA KAPITALIS NEOLIBRAL

Suryopaloh sebut Indonesia Negara Kapitalis Liberal; menurut pengamatan saya 
pernyataan Suryo Paloh itu tidak sepenuhnya dapat di benarkan, yang benar 
adalah Indonesia di era ``reformsi`ini, telah masuk ke dalam jaringan  ideologi 
Neoliberalisme, jadi lebih tepat jika dikatakan bahwa Indonesia adalah negara 
pendukung setia Ideologi Kapitalis-neoliberal, yang kondesinya lebih buruk jika 
dibandingkan dengan kapitalisme dijalan yang lurus, menurut doktrin Adam Smith 
tentang adanya pasar sempuna yang diatur oleh ``Invisible hands``. Doktrin 
tersebut tidak akan terjadi dalam sistem kapitalis neoliberal. Dalam konteks 
ini sering dikiaskan  bahwa bukan invisible hand,  yang muncul, tapi yang 
muncul  adalah visible hand yang menyebabkan terjadinya jurang yang dalam 
antara  kaya dan miskin.

 
Mengapa Neoliberal begitu buruk?
Neoliberalisme adalah doktrin pasar yang tidak sempurna: kemakmuran mereka 
muncul karena kekuasaan politik berada di tangan para individu-individu yang 
egois dalam mengejar kepentingannya sendiri; dalam konteks ini kaum neoliberal 
(neolib) menghendaki agar supaya peranan negara harus kecil, ini tercermin 
dalam kebijakan rezim-rezim Neolib Indonesia di era ´´reformasi´´,yang hobinya 
menjual barang-barang dan aset milik Negara (BUMN) , untuk disesuaiakan dengan 
skema Priwatisasi di Indonesia  yang telah diprogram oleh IMF dan Bank Dunia, 
dalam konteks ini IMF dan Bank Dunia akan memberikan preoritas investasi kepda 
sektor swasta dalam bentuk Privatisasi di Indonesia, yang mengabdi kepada 
mekanisme globalisirung, dan Neoliberalisme, bukan pada preoritas sosial; atau 
secara singkat dapat dikatakan bahwa IMF dan Bank Dunia secara terang-terangan 
telah melakukan serangkaian interfensi langsung terhadap kedaulatan 
perekonomian Indonesia, ini tercermin dalam bebentuk penempatkan kedaulatan 
Pasar diatas kedaulatan Rakyat.
 
Dari uraian diatas jelas mengapa rezim ``reformasi``menolak tugasnya untuk 
melakukan Pasal 31 (ayat 1 dan2) yang isisnya (1) Tiap-tiap Warga Negara berhak 
mendapat pengajaran. (2) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu 
sistem pengajaran nasional yang teratur dengan  Undang-Undang; yaitu UUD 45 
Pasal 27 (ayat 2) yaitu Tiap-tiap Warga Negara berhak atas pekerjaan dan 
penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.  Yang intinya adalah HARUS 
mengutamakan URGENSI, yaitu membangun Kecerdasan kehidupan bangsa , yang 
berarti menaikkan derajat kehidupannya sebagai bagian dari SDM, meningkatkan 
kemampuan pikiran dan kemampuan budaya, menghapus sikap-sikap inlander, yang 
penuh dengan  minderwaardigheidscomplex. Jadi bukan tehnologinnya yang kita 
bangun tapi Rakyat-lah yang harus kita bangun, berarti manusianya yang harus 
kita bangun.
Selain dari pada itu pemerintah juga menolak melakukan sistem ekonomiu 
Pancasila yang berdasarkan pada pasal 33 UUD 45 asli.

Dalam ekonomi neoliberal tidak ada keseimbangan, sehingga mudah membakar 
terjadinya ledakan, seperti yang tercermin pada tahun 2008. Yang dalam buku 
Post Kapitaliosmus, yang ditulis oleh Paul Mason, ditunjukkan bahwa pada 
tanggal 15 September 2008, terjadilah penomena  runtuhnya centrale Leman 
Brother Bank investasi (Investmenbank), di New York.

Pada hari itu menurut Paul, ada resesi (kemerosotan, keruntuhan) besar dalam 
Leman Brother: kemerosotan itu tercrmin dalam, sebuah laporannya tentang 
penutupan 600 gerai (filiale) Starbucks. Yang mencerminkan adanya tekanan dalam 
sistem keuangan global, yang sudah enam minggu lamanya dilaporkan, bahwa akan 
terjadi keruntuhan bank besar. Yang dampaknya akan menyebabkan merosotnya 
Immobilionmark (real astate) Amerika  mencapai titik terrendah. Keadaan seperti 
itu tercermin dalam harga rumah, yang ditawarkan seharga 8..000 US Dolar, dalam 
bentuk tunai. Keadaan seperti itu telah memberi kesan kuat bahwa  kapitalisme 
dalam bentuknya yang sekarang ini, yaitu kapitalisme neoliberal akan 
menghancurkan dirinya sendiri (bunuh diri)..
Neoliberalalisme telah mendorong dunia untuk kembali ke zamannya yang serupa 
dengan periode``Social Darwinism`` pada gelombang ke II dari evolusi kebudayaan 
manusia, yang menghalalkan penjahahan dan pemusnahan banyak negara. Perusakan 
hutan-hutan untuk ditanami sawit, karet dan Teh secara monokultur, untuk 
memenuhi kebutuhan bahan baku di negara-negara maju. Dari sini dapat kita 
ketahui bahwa sistem kapiktalis yang klasikpun menentang ideologi 
Neoliberalisme.  Tapi  mengapa NKRI yang berideologi Pamcasila bisa menerima 
edeologi Neoliberalisme. Aneh bukan????? . Oleh karena itu sungguh relevan jika 
kita mengharapkan bahwa Pemilu 2019 harus dapat menegakkan pimpinan (Presiden) 
yang benar-benar Iklas dan Jujur , dan siap untuk memahami secara hakiki 
Konstitusi Negara kita , yaitu UUD 45 asli, dan Pancasila 1 Juni 1945, kususnya 
Pasal 33 UUD 45. Tinggalkan Ideologi Neoliberalisme dan kembali ke jalan 
ekonomi Pamcasila yang sejalan dengan Pasal 33 UUD 45.

Kita harus belajar juga penomena yang terjadi di di Yunani, pemerintah di mana 
pun akan menentang politik Austerritäts (penghematan) a´la neoliberal, karena 
dampaknya telah menyebabkan terjadinya krisis Austerritäts spirale yang 
mematikan.

 Austeritäts (austerity) adalah projekt penghematan model neoliberal, yang di 
maksud adalah :  Pengusaha neoliberal yang mempunyai jutaan keuangan, secara 
terbuka tanpa malu-malu megatakan bahwa: Memberikan hak-hak pada pekerja dan 
upah yang layak bagi penghidupan, brarti akan menghidupkan kembali kapitalisme 
di jalan yang lurus, oleh karena itu menurut ekonom neoliberal harus dicegah. 
Demikianlah apa yang dimaksud oleh para ekonom neoliberal tentang Austeritäts.
Bisa dipercaya bahwa projek Austerität yang di gagas oleh para ekonom 
neoliberal seperti tersebut diatas itu lah yang  juga diberlakukan oleh 
kelompok oligarki ekonomi yang menguasai NKRI ini.

Roeslan


Von: na
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190814184758-32-421367/surya-paloh-sebut-indonesia-negara-kapitalis-liberal?utm_source=notifikasi&utm_campaign=browser&utm_medium=desktop
 
Surya Paloh Sebut Indonesia Negara Kapitalis Liberal

CNN Indonesia | Rabu, 14/08/2019 18:55 WIB

Bagikan :    

Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh. (CNN Indonesia/Abi Sarwanto)

  

Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh menyebut 
Indonesia merupakan negara ini telah menganut sistem kapitalis yang liberal. 
Namun, Indonesia, malu untuk mengakuinya.

Negara ini, kata Surya, selalu mendeklarasikan diri sebagai negara Pancasila 
lantaran malu-malu kucing untuk mengakui bahwa sistem yang dianut sesungguhnya 
adalah kapitalis liberal.


"Kita ini malu-malu kucing untuk mendeklarasikan Indonesia hari ini adalah 
negara kapitalis, yang liberal, itulah Indonesia hari ini," kata Surya dalam 
diskusi bertajuk Tantangan Bangsa Indonesia Kini dan Masa Depan di Universitas 
Indonesia, Salemba, Jakarta Pusat, Rabu (14/8).

| 
Lihat juga:

 Surya Paloh soal Jaksa Agung Bukan dari Parpol: Terserah
 |


Sistem negara kapitalis liberalis ini, menurut Surya sangat jelas terlihat saat 
ada kompetisi politik dalam negara ini. Namun dia tak menjelaskan kompetisi apa 
yang dia maksud.



Saat berkompetisi, hal pertama yang ditanyakan kata Surya adalah istilah wani 
piro yang berarti soal banyaknya uang yang dimiliki. Yang jelas saat ini yang 
berkuasa bukan lagi pengetahuan tetapi uang. 

"Ketika kita berkompetisi, wani piro. Saya enggak tahu lembaga pengkajian UI 
ini sudah mengkaji wani piro itu saya enggak tahu, praktiknya yang saya tahu 
money is power, bukan akhlak, bukan kepribadian, bukan juga ilmu pengetahuan. 
Above all, money is power," kata Surya.

| 
Lihat juga:

 Jokowi Rombak Kabinet, Surya Paloh Belum Dapat Kabar
 |


Dia kemudian mempertanyakan mengapa hingga saat ini tak ada satu pun lembaga 
peneliti, lembaga ilmiah hingga pengamat yang memperhatikan sistem kapitalis 
liberal yang tengah terjadi di Indonesia. 

Semua pihak, kata dia, terus menerus berbicara soal Pancasila tapi sesungguhnya 
justru negara ini telah masuk dalam kategori negara kapitalis.
 

"Enggak ada pengamat, lembaga peneliti, lembaga ilmiah, kenapa tidak 
diperhatikan, eh,  you tahu enggak bangsa kita ini adalah bangsa kita ini 
bangsa yang kapitalis hari ini, you tau enggak bangsa kita ini bangsa yang 
sangat liberal hari ini," kata Surya.



"Ngomong pancasila, mana itu pancasila. Tanpa kita sadari juga, kalau ini 
memang kita masuk dalam tahapan apa yang dikategorikan negara kapitalis," 
katanya.


  

Kirim email ke