Kenapa harus rusuh, sampai bakar-bakar Gedung Rakyat segala? Apa tidak bisa demo damai saja? Tidak mau?
Lalu, mana Mahfud si pembina Pancasila? Mahfud yang mengaku jengkel pada perusuh 21-23 Mei.Mana suara kejengkelanmu sekarang. Tunggu perintah boss? Hehe... --- ilmesengero@... wrote: https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-49391778 Manokwari rusuh: Gedung DPRD 'dibakar', massa gelar demo di Jayapura, Merauke dan Sorong - Bagikan artikel ini dengan Facebook 58 menit lalu Bagikan artikel ini dengan MessengerBagikan artikel ini dengan TwitterBagikan artikel ini dengan EmailKirim Hak atas fotoSAFWAN ASHARIImage captionUnjuk rasa yang semula berlangsung damai di Kota Manokwari, Papua Barat, Senin (19/08), berubah menjadi rusuh, setelah massa dilaporkan membakar gedung DPRD dan gedung dealer mobil. Massa membakar Gedung DPRD Papua Barat dan gedung ruang pamer mobil di Manokwari, Papua Barat, sementara massa menggelar longmarch di Kota Jayapura, Sorong, dan Merauke, Senin (19/08), memprotes tindakan kekerasan aparat atas aksi mahasiswa Papua di Jatim. "Kami tidak terima atas (perlakuan kepada) teman-teman kami yang ada di Jawa, yang menyatakan bahwa kami orang Papua sebagai monyet," kata salah-seorang pengunjukrasa, Isai Woniana, kepada kepada wartawan di Manokwari, Safwan Ashari, untuk BBC News Indonesia, Senin. Para pengunjukrasa juga menuntut agar sekelompok mahasiswa Papua yang ditahan di Surabaya agar dibebaskan. - Demo mahasiswa papua: Tindakan polisi tangani pengunjuk rasa diibaratkan 'menghalau asap, bukan api' - Korban meninggal akibat konflik di Nduga, Papua 182 orang: 'Bencana besar tapi di Jakarta santai-santai saja' - Pengungsi Nduga, Papua : Perempuan yang bertaruh nyawa melahirkan anak di tengah konflik senjata "Kita ini bagian dari NKRI. Kalau tidak bisa (merangkul kami), biarkan kami merdeka," kata salah-seorang perwakilan pendemo di Manokwari, Isai Woniana, mahasiswa STIH Manokwari, Hak atas fotoSAFWAN ASHARIImage captionMassa juga membakar kendaraan roda empat di salah-satu ruas di Kota Manokwari, Papua Barat, Senin (19/09). Walaupun kerusuhan di Manokwari dilaporkan mulai meredah, laporan-laporan media menyebutkan bahwa aksi unjuk rasa juga digelar oleh sekompok orang di Kota Merauke, Provinsi Papua dan Kota Sorong, Provinsi Papua Barat. Beberapa kendaraan, termasuk kendaraan milik kepolisian dilaporkan dibakar sejumlah orang, di area sekitar Bandara Deo Sorong. Sejumlah bagian bandara pun dikabarkan dirusak oleh massa. Saat ini kondisi di Sorong dilaporkan sudah mulai kondusif. Lalu lintas yang sempat lumpuh akibat aksi massa, berangsur-angsur normal kembali, seperti dilaporkan Kompas TV. Belum ada klarifikasi dari pejabat terkait atas informasi adanya unjuk rasa di Merauke dan Sorong. 'Masyarakat sudah dapat ditenangkan' Seusai Rapat Koordinasi tentang Masalah Keamanan Nasional (19/08), Menko Polhukam, Wiranto, mengapresiasi Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompimda) Papua Barat, yang kata Wiranto, telah mampu menenangkan masyarakat untuk menjaga stabilitas keamanan wilayah. Ia mengatakan pemerintah menyesalkan insiden pelecehan bendera merah putih di Jawa Timur yang disusul dengan pernyataan-pernyataan negatif oleh oknum-oknum tertentu, yang kemudian memicu aksi di beberapa daerah di Papua dan Papua Barat. "Telah diinstruksikan untuk melakukan pengusutan secara tuntas dan adil bagi siapapun yang dianggap melakukan pelanggaran hukum dalam peristiwa ini," ujar Wiranto. Hak atas fotoENGEL WALLYImage captionMassa bergerak menuju ke Kantor Gubernur Papua. Wiranto juga mengapresiasi ucapan maaf terbuka yang disampaikan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Sebelumnya, dalam konferensi pers bersama Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Khofifah mengatakan ia telah berkomunikasi dengan Gubernur Papua. "Kami telepon gubernur Papua, mohon maaf. Sama sekali itu bukan suara Jatim. Harus bedakan letupan bersifat personal dengan apa yang menjadi komiten Jatim," kata Khofifah. Lebih lanjut, Wiranto mengimbau warga untuk tidak terpancing dengan berita-berita yang tidak benar terkait dengan peristiwa ini. Kapolri: Dipicu penangkapan mahasiswa di Jatim Adapun Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengakui mobilisasi massa di Manokwari dan Jayapura dipicu dari kasus penangkapan mahasiswa Papua di Malang dan Surabaya, Sabtu (17/08) lalu. "Ini sekali lagi kejadian di Surabaya dan Malang, itu hanya peristiwa kecil semula yang saat ini sudah dilokalisir, dan diselesaikan oleh Muspida setempat, baik Ibu Gubernur, Kapolda atau Pangdam," jelas Tito kepada media, Senin (19/08). - Demo mahasiswa papua: Tindakan polisi tangani pengunjuk rasa diibaratkan 'menghalau asap, bukan api' - Korban meninggal akibat konflik di Nduga, Papua 182 orang: 'Bencana besar tapi di Jakarta santai-santai saja' - Pengungsi Nduga, Papua : Perempuan yang bertaruh nyawa melahirkan anak di tengah konflik senjata Namun, kata Tito, terjadi kesimpangsiuran informasi. Berita bohong atau hoaks pun tersebar hingga ke Papua. Salah satu hoaks adalah berita mengenai kematian seorang warga Papua. "Ini hoaks. Nah, ini berkembang, ada yang mengembangkan di Manokwari berkembang kemudian di Jayapura, dan kemudian terjadi mobilisasi massa," kata Tito. Hak atas fotoDOKUMEN KOMPAS TV/KOMPAS.COMImage captionUnjuk rasa semula berjalan damai, namun belakangan menjadi rusuh, demikian lapor Safwan, setelah terjadi bentrokan antara aparat keamanan dan massa. Lebih lanjut Tito mengeklaim adanya pihak-pihak yang mengembangkan informasi seputar dugaan ucapan rasial terhadap mahasiswa Papua. "Dan ada pihak-pihak yang mengembangkan informasi-informasi seperti itu untuk kepentingan mereka sendiri," katanya sambil meminta warga di Papua dan Papua Barat tidak terpancing oleh berita bohong. Massa turun ke jalan di Jayapura Sementara, ribuan orang dari berbagai distrik berbondong-bondong bergerak ke pusat kota Jayapura, menuju ke Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP), sebagaimana dilaporkan wartawan Engel Wally. Engel mengatakan gerakan tersebut tidak diakomodir satu komando, tapi bersifat spontan dan cair. Hak atas fotoENGEL WALLYImage captionRibuan orang dari berbagai distrik berbondong-bondong bergerak ke pusat kota Jayapura, menuju ke Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP), Senin (19/08).Hak atas fotoKOMPAS.COM/ISTIMEWAImage captionSampai pukul 12.00 WIB, massa di Jayapura berdemonstrasi sambil membawa spanduk-spanduk yang berisi ujaran menentang apa yang mereka sebut sebagai rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang.Hak atas fotoENGEL WALLYImage captionRatusan orang yang berkumpul di pertigaan bandara Sentani itu mengutarakan sembilan tuntutan, diantaranya mereka meminta Presiden dan Kapolri untuk menindak oknum aparat hukum yang terlibat aksi rasisme. Sampai pukul 12.00 WIB, mereka berdemonstrasi sambil membawa spanduk-spanduk yang berisi ujaran menentang apa yang mereka sebut sebagai rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang. Unjuk rasa juga terjadi di Sentani. Aksi itu diinisasi Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) dan Gerakan angkatan muda Kristen Indonesia (GAMKI), juga terjadi di Sentani. Ratusan massa yang berkumpul di pertigaan bandara Sentani itu mengutarakan sembilan tuntutan. Salah satunya, mereka meminta presiden dan Kapolri untuk menindak oknum aparat hukum yang terlibat aksi rasisme. Aksi pembakaran di Manokwari Di Jalan Yos Sudarso, sekitar pukul 10.00 WIB, seperti dilaporkan wartawan di Manokwari, Safwan Ashari, sebagian massa dilaporkan melakukan pembakaran gedung penjualan mobil. Sebelumnya, sekelompok orang dilaporkan melakukan pembakaran Gedung DPRD Papua Barat di Manokwari, Senin (19/08) pagi. Aksi pembakaran ini terjadi setelah unjuk rasa ini berakhir rusuh, setelah sekelompok orang menggelar unjuk rasa memprotes tindakan aparat kepolisian terhadap aksi demo mahasiswa Papua di sejumlah kota di Jawa dan tempat lainnya.
