IKLAN
<http://www.bbc.com/indonesia/institutional/2015/08/000000_advertising_faq>
https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-49391778
Manokwari rusuh: Gedung DPRD 'dibakar', massa gelar demo di Jayapura,
Merauke dan Sorong

   - 58 menit lalu


   - Bagikan artikel ini dengan Facebook
   <https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-49391778#>
   - Bagikan artikel ini dengan Messenger
   <https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-49391778#>
   - Bagikan artikel ini dengan Twitter
   <https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-49391778#>
   - Bagikan artikel ini dengan Email
   
<?subject=Shared%20from%20BBC%20Indonesia&body=https%3A%2F%2Fwww.bbc.com%2Findonesia%2Findonesia-49391778>

   - Kirim <https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-49391778#share-tools>

[image: Manokwari]Hak atas fotoSAFWAN ASHARIImage captionUnjuk rasa yang
semula berlangsung damai di Kota Manokwari, Papua Barat, Senin (19/08),
berubah menjadi rusuh, setelah massa dilaporkan membakar gedung DPRD dan
gedung dealer mobil.

Massa membakar Gedung DPRD Papua Barat dan gedung ruang pamer mobil di
Manokwari, Papua Barat, sementara massa menggelar longmarch di Kota
Jayapura, Sorong, dan Merauke, Senin (19/08), memprotes tindakan kekerasan
aparat atas aksi mahasiswa Papua di Jatim.

"Kami tidak terima atas (perlakuan kepada) teman-teman kami yang ada di
Jawa, yang menyatakan bahwa kami orang Papua sebagai monyet," kata
salah-seorang pengunjukrasa, Isai Woniana, kepada kepada wartawan di
Manokwari, Safwan Ashari, untuk BBC News Indonesia, Senin.

Para pengunjukrasa juga menuntut agar sekelompok mahasiswa Papua yang
ditahan di Surabaya agar dibebaskan.

   - Demo mahasiswa papua: Tindakan polisi tangani pengunjuk rasa
   diibaratkan 'menghalau asap, bukan api'
   <https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-49387852>
   - Korban meninggal akibat konflik di Nduga, Papua 182 orang: 'Bencana
   besar tapi di Jakarta santai-santai saja'
   <https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-49345664>
   - Pengungsi Nduga, Papua : Perempuan yang bertaruh nyawa melahirkan anak
   di tengah konflik senjata
   <https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-49233527>

"Kita ini bagian dari NKRI. Kalau tidak bisa (merangkul kami), biarkan kami
merdeka," kata salah-seorang perwakilan pendemo di Manokwari, Isai Woniana,
mahasiswa STIH Manokwari,
[image: Manokwari]Hak atas fotoSAFWAN ASHARIImage captionMassa juga
membakar kendaraan roda empat di salah-satu ruas di Kota Manokwari, Papua
Barat, Senin (19/09).

Walaupun kerusuhan di Manokwari dilaporkan mulai meredah, laporan-laporan
media menyebutkan bahwa aksi unjuk rasa juga digelar oleh sekompok orang di
Kota Merauke, Provinsi Papua dan Kota Sorong, Provinsi Papua Barat.

Beberapa kendaraan, termasuk kendaraan milik kepolisian dilaporkan dibakar
sejumlah orang, di area sekitar Bandara Deo Sorong. Sejumlah bagian bandara
pun dikabarkan dirusak oleh massa.

Saat ini kondisi di Sorong dilaporkan sudah mulai kondusif. Lalu lintas
yang sempat lumpuh akibat aksi massa, berangsur-angsur normal kembali,
seperti dilaporkan Kompas TV.

Belum ada klarifikasi dari pejabat terkait atas informasi adanya unjuk rasa
di Merauke dan Sorong.
'Masyarakat sudah dapat ditenangkan'

Seusai Rapat Koordinasi tentang Masalah Keamanan Nasional (19/08), Menko
Polhukam, Wiranto, mengapresiasi Forum Komunikasi Pimpinan Daerah
(Forkompimda) Papua Barat, yang kata Wiranto, telah mampu menenangkan
masyarakat untuk menjaga stabilitas keamanan wilayah.

Ia mengatakan pemerintah menyesalkan insiden pelecehan bendera merah putih
di Jawa Timur yang disusul dengan pernyataan-pernyataan negatif oleh
oknum-oknum tertentu, yang kemudian memicu aksi di beberapa daerah di Papua
dan Papua Barat.

"Telah diinstruksikan untuk melakukan pengusutan secara tuntas dan adil
bagi siapapun yang dianggap melakukan pelanggaran hukum dalam peristiwa
ini," ujar Wiranto.
[image: papua]Hak atas fotoENGEL WALLYImage captionMassa bergerak menuju ke
Kantor Gubernur Papua.

Wiranto juga mengapresiasi ucapan maaf terbuka yang disampaikan Gubernur
Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.

Sebelumnya, dalam konferensi pers bersama Kapolri Jenderal Tito Karnavian,
Khofifah mengatakan ia telah berkomunikasi dengan Gubernur Papua.

"Kami telepon gubernur Papua, mohon maaf. Sama sekali itu bukan suara
Jatim. Harus bedakan letupan bersifat personal dengan apa yang menjadi
komiten Jatim," kata Khofifah.

Lebih lanjut, Wiranto mengimbau warga untuk tidak terpancing dengan
berita-berita yang tidak benar terkait dengan peristiwa ini.
Kapolri: Dipicu penangkapan mahasiswa di Jatim

Adapun Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengakui mobilisasi massa di
Manokwari dan Jayapura dipicu dari kasus penangkapan mahasiswa Papua di
Malang dan Surabaya, Sabtu (17/08) lalu.

"Ini sekali lagi kejadian di Surabaya dan Malang, itu hanya peristiwa kecil
semula yang saat ini sudah dilokalisir, dan diselesaikan oleh Muspida
setempat, baik Ibu Gubernur, Kapolda atau Pangdam," jelas Tito kepada
media, Senin (19/08).

   - Demo mahasiswa papua: Tindakan polisi tangani pengunjuk rasa
   diibaratkan 'menghalau asap, bukan api'
   <https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-49387852>
   - Korban meninggal akibat konflik di Nduga, Papua 182 orang: 'Bencana
   besar tapi di Jakarta santai-santai saja'
   <https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-49345664>
   - Pengungsi Nduga, Papua : Perempuan yang bertaruh nyawa melahirkan anak
   di tengah konflik senjata
   <https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-49233527>

Namun, kata Tito, terjadi kesimpangsiuran informasi. Berita bohong atau
hoaks pun tersebar hingga ke Papua. Salah satu hoaks adalah berita mengenai
kematian seorang warga Papua.

"Ini hoaks. Nah, ini berkembang, ada yang mengembangkan di Manokwari
berkembang kemudian di Jayapura, dan kemudian terjadi mobilisasi massa,"
kata Tito.
[image: Gedung DPRD Papua Barat]Hak atas fotoDOKUMEN KOMPAS TV/KOMPAS.COMImage
captionUnjuk rasa semula berjalan damai, namun belakangan menjadi rusuh,
demikian lapor Safwan, setelah terjadi bentrokan antara aparat keamanan dan
massa.

Lebih lanjut Tito mengeklaim adanya pihak-pihak yang mengembangkan
informasi seputar dugaan ucapan rasial terhadap mahasiswa Papua.

"Dan ada pihak-pihak yang mengembangkan informasi-informasi seperti itu
untuk kepentingan mereka sendiri," katanya sambil meminta warga di Papua
dan Papua Barat tidak terpancing oleh berita bohong.
Massa turun ke jalan di Jayapura

Sementara, ribuan orang dari berbagai distrik berbondong-bondong bergerak
ke pusat kota Jayapura, menuju ke Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Papua
(DPRP), sebagaimana dilaporkan wartawan Engel Wally.

Engel mengatakan gerakan tersebut tidak diakomodir satu komando, tapi
bersifat spontan dan cair.
[image: Jayapura]Hak atas fotoENGEL WALLYImage captionRibuan orang dari
berbagai distrik berbondong-bondong bergerak ke pusat kota Jayapura, menuju
ke Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP), Senin (19/08).[image:
Jayapura]Hak atas fotoKOMPAS.COM/ISTIMEWAImage captionSampai pukul 12.00
WIB, massa di Jayapura berdemonstrasi sambil membawa spanduk-spanduk yang
berisi ujaran menentang apa yang mereka sebut sebagai rasisme terhadap
mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang.[image: Jayapura]Hak atas fotoENGEL
WALLYImage captionRatusan orang yang berkumpul di pertigaan bandara Sentani
itu mengutarakan sembilan tuntutan, diantaranya mereka meminta Presiden dan
Kapolri untuk menindak oknum aparat hukum yang terlibat aksi rasisme.

Sampai pukul 12.00 WIB, mereka berdemonstrasi sambil membawa
spanduk-spanduk yang berisi ujaran menentang apa yang mereka sebut sebagai
rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang.

Unjuk rasa juga terjadi di Sentani. Aksi itu diinisasi Gerakan Mahasiswa
Kristen Indonesia (GMKI) dan Gerakan angkatan muda Kristen Indonesia
(GAMKI), juga terjadi di Sentani.

Ratusan massa yang berkumpul di pertigaan bandara Sentani itu mengutarakan
sembilan tuntutan.

Salah satunya, mereka meminta presiden dan Kapolri untuk menindak oknum
aparat hukum yang terlibat aksi rasisme.
Aksi pembakaran di Manokwari

Di Jalan Yos Sudarso, sekitar pukul 10.00 WIB, seperti dilaporkan wartawan
di Manokwari, Safwan Ashari, sebagian massa dilaporkan melakukan pembakaran
gedung penjualan mobil.

Sebelumnya, sekelompok orang dilaporkan melakukan pembakaran Gedung DPRD
Papua Barat di Manokwari, Senin (19/08) pagi.

Aksi pembakaran ini terjadi setelah unjuk rasa ini berakhir rusuh, setelah
sekelompok orang menggelar unjuk rasa memprotes tindakan aparat kepolisian
terhadap aksi demo mahasiswa Papua di sejumlah kota di Jawa dan tempat
lainnya.

Kirim email ke