Secara nasional mestinya bisa dihitung, dalam 5 tahun terakhir siapa yang dapatkan manfaat kepresidenan Jokowi, Rakyat atau siapa.
- Gubernur Lukas Enembe: Orang Papua tak Pernah Lewat Jalan yang Dibangun Kamis, 22 Agustus 2019 14:08 WIB TRIBUNNEWS.COM - Pascaterjadinya kerusuhan selama dua hari, Gubernur Papua Lukas Enembe memberikan keterangan perihal Papua. Diketahui, kerusuhan di sejumlah tempat di Papua terjadi, yakni di Manokwari Senin (21/9/8/2019) dan Fakfak, Rabu (21/8/2019). Hal ini dipicu adanya penangkapan terhadap 43 mahasiswa Papua di Surabaya, dengan tudingan merusak bendera Indonesia, Sabtu (17/8/2019). Lukas menyampaikan berbagai hal tentang Papua itu saat hadir sebagai narasumber dalam program MataNajwa, Rabu (21/8/2019) malam. Gubernur Papua, Lukas Enembe memberi tanggapan soal pembangunan jalan trans Papua yang dilakukan oleh Presiden Jokowi. Awalnya, Lenis Kogoya, Stafsus Presiden Kelompok Kerja Papua mengatakan Jokowi sudah mencoba memberikan yang terbaik kepada Papua, salah satunya melalui pembangunan, seperti jalan Trans Papua. Jalan Trans-Papua adalah jalan nasional yang menghubungkan Provinsi Papua Barat dan Provinsi Papua, membentang dari Kota Sorong di Provinsi Papua Barat hingga Merauke di Provinsi Papua dengan total panjang mencapai 4.330,07 kilometer. Pernyataan Lenis Kogoya pun ditanggapi positif oleh Najwa Shihab. Menurut Najwa Shihab, Trans-Papua ini sebagai bagian dari kesuksesan Jokowi di era kepemimpinannya selama 5 tahun ini. "Pendekatan ekonomi, infrastruktur yang dilihat nyata di era pemerintahan Jokowi 5 tahun terakhir, itu saja belum cukup menjawab tantangan yang dihadapi Papua?" tanya Najwa Shihab. Pertanyaan Najwa Shihab justru malah dikritisi oleh Sekjen Federasi Kontras Andy Junaedi. Menurutnya jalan Trans Papua ini bermasalah. "Justru saya melihat itu yang bermasalah. Coba tanya pada orang Papua, apakah mereka butuh jalan Trans Papua?" tanya Andy Junaedi. Ketika ditanya seperti itu, Najwa Shihab terdiam. Gubernur Papua Lukas Enembe yang juga hadir jadi narasumber pun tak mampu menjawabnya. "Coba siapa yang butuh, orang Indonesia-kah atau orang Papua?" tanya Andy Junaedi lagi. Pertanyaan tersebut pun kembali tak dijawab oleh Najwa Shihab, Lukas Enembe dan narasumber lainnya. "Saya bilang pembangunan itu perlu. Tapi bagaimana proses perencanaan dan implementasi pembangunan itu dilakukan mengedepankan kemanusiaan," ujar Andy Junaedi lagi. "Jakarta belum melihat Papua dengan pendekatan itu. Papua memiliki tingkat kekerasan yang panjang. Papua punya cerita berbeda dibanding yang lain. Jika Papua disamakan dengan maka kita akan terjebak di cerita yang sama," tambahnya. "Isu separatisme muncul itu bukan tiba-tiba muncul. Coba kita tengok kasus kejahatan HAM. Berapa yang mandeg. Apa yang dilakukan Jakarta?" tegas Andy Junaedi. Kemudian, Andy Junaedi menyebutkan bahwa Papua ini butuh guru, bukan senjata.
