apakah ini?
 

 

---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote :

 Memangnya penggeseran ibukota ke utara (Kaltim) ini apa bukan untuk mendekati 
3 kawasan ekonomi khusus (KEK) yang diserahkan Jokowi ke RRC? - soal 3 KEK ini 
sudah sering saya singgung.  

 Jadi, bukan mustahil lokasi pilihan Jokowi di Penajam itu bakal jadi "ibukota" 
bagi 3 KEK tsb. dsk., termasuk kawasan nikel di Morowali. Bukan rahasia lagi 
semua megaproyek itu investor, manajer proyek, sopir truk, sampai tukang 
paculnya serba impor dari Cina. 
 

 Rasisme? Ya tinggal ditimbang-timbang saja antara opini si penulis dan 
tindakan Jokowi terkait investor asing.
 

 --- jonathangoeij@... wrote: Kutipan artikel: "Minimal keturunan Beijing. 
Maksudnya? Yah.., pakai nanya lagi!"

 

 Apakah maksud si penulis wong cino?
 Opini yg dilandasi rasisme.
 

 


 On Thursday, August 29, 2019, 12:45:05 PM PDT, Lusi D. wrote:
 

 Berikut sementara ulasan masalah tema pindah ibukota. 

 Lusi: Yang dicukongi Podomoro?

 

 

 1.-

 

 IBU KOTA PINDAH ke KALIMANTAN, KENAPA GAK ke BEIJING?

 

 Redaksi HARIANACEH

 22/08/2019 - 19:43 WIB

 

 Penulis: Tony Rosyid* 

 

 KOK judulnya begitu? Ya, begitulah. Judul ini menggambarkan apatisme,

 bahkan mewakili kekesalan begitu banyak warga negara terhadap program

 pindah ibu kota. Pertama, ekonomi lagi morat marit kok mau pindah ibu

 kota.

 

 Tahunya ekonomi morat marit? Hutang negara terus membengkak. Aset-aset

 BUMN sedang dipasarkan. Harga-harga naik dan subsidi mulai pada

 dicabutin. Kurang data? Sementara pindah ibu kota tidak seperti

 mindahin lemari. Butuh anggaran cukup besar. 486 triliun dana yang

 harus tersedia untuk pindah ibu kota. Kabarnya 93,5 triliun dari APBN.

 Sisanya? jual atau sewain apa kek. Ini bukan dana yang sedikit untuk

 kondisi ekonomi bangsa seperti sekarang.

 

 Kedua, kemana mau pindah? Kalimantan? Kalimantan mana? Tengah atau

 Timur? Ini saja belum diputuskan. Ini menunjukkan belum ada kajian

 wilayah yang serius dengan segala dampak dan risikonya. Kok sudah minta

 ijin DPR? 

 

 Ketiga, apa alasannya pindah? Jakarta macet? Banjir? Karena polusi?

 Atau karena Jakarta dipimpin oleh Anies Baswedan, lawan politik dan tak

 bisa diajak kompromi? Tidakkah Anies orang yang paling mudah diajak

 kompromi? Yang penting rasional, tak ada aturan yang dilanggar dan tak

 merugikan negara. Anies pasti bisa berkompromi. Kalau tiga syarat itu

 tak terpenuhi, Anies sepertinya memang tipe gubernur yang tak pernah

 mau buka pintu belakang.

 

 Tidakkah kemacetan dan banjir Jakarta sudah berangsur-angsur mulai

 berkurang saat ini? Kenapa tidak dibantu untuk semakin cepat lagi

 mengatasi masalah-masalah itu? Kok malah pindah.

 

 Teringat ketika Jokowi mau nyagub di DKI. Untuk mengatasi macet

 sepertinya gak susah-susah amat, katanya. Ini namanya optimisme. Bagus

 dan harus diapresiasi. Dan ketika jadi Gubernur DKI, Jokowi

 berpandangan akan lebih mudah mengatasi macet dan banjir kalau jadi

 presiden. Tuhan berbaik hati dan memberi peluang Jokowi jadi presiden.

 Lah, setelah jadi presiden, kenapa ibu kota harus dipindah karena

 alasan banjir, macet dan polusi pak? Tidakkah lebih mudah mengatasi itu

 semua ketika jadi presiden? Ini pertanyaan awamnya.

 

 Demi pemerataan. Bagus! Pertanyaannya: apa hubungan pemerataan dengan

 pindah ibu kota? Bagaimana kalau masyarakat Papua protes: belum merata

 buat kami karena ibu kota tidak di tempat kami. Demikian juga dengan

 masyarakat Sumatera, Sulawesi dan Maluku.

 

 Kalau semua pada protes, pindah ke Baijing saja. Nah, makin ngawur.

 Tidak! Yang dimaksud Beijing itu terkait dengan orang-orangnya.

 Kontraktornya dari Baijing, investornya dari Beijing, dan para

 pekerjanya dari Beijing. Minimal keturunan Beijing. Maksudnya? Yah..,

 pakai nanya lagi!

 

 Ada kesan bahwa pemindahan ibu kota dipaksakan. Setidaknya itu dilihat

 dari aspek substansialnya. Tapi, secara politis ini seperti menyelam

 sambil minum air. Artinya, pemindahan ibu kota secara politis akan

 sangat strategis. Pertama, sebagai pengalihan isu. Situasi politik yang

 lagi tak menentu dan ekonomi yang sedang terus mengalami masalah, maka

 isu pemindahan ibu kota akan jadi hiburan media dan medsos. Sedangkan

 masalah ekonomi, hiruk pikuk rekonsiliasi dan transaksi struktur

 kabinet untuk sementara terlupakan.

 

 Kedua, pemindahan ibu kota akan jadi kebijakan mercusuar bagi Jokowi.

 Suatu saat, Jokowi akan dikenang sepanjang masa sebagai “Bapak Pemindah

 Ibu Kota.” Ini akan jadi sejarah. Karena mindahin Ibu Kota tergolong

 kebijakan fundamental dan bahkan radikal.

 

 Sejarah akan mencatat bahwa Indonesia pernah punya Ibu Kota di Jakarta.

 Lalu pindah ke Kalimantan “di era Jokowi”. Sekali lagi “di era Jokowi”.

 Sejarah ini akan diingat dan dikenang oleh anak bangsa di masa depan.

 Dengan catatan, perpindahan ini jadi dan sukses. Jika gagal, masyarakat

 akan memaklumi. Ah, itu mah biasa. Toh Jokowi selama ini juga sering

 gagal. Mobil Esemka gagal, biasa aja. Banyak janji yang tak

 terealisasi, biasa saja. Tak ada yang mengejutkan. Dan masyarakat

 mamaklumi dan memaafkannya. Tetap memberi Jokowi kesempatan untuk jadi

 presiden kedua kali. Ini bukti betapa masyarakat Indonesia adalah

 pemaaf. Pemaaf atau lupa? Entahlah. Jangan bilang dungu. Awas! Itu

 kata-kata yang gak bagus. Biar jadi hak paten Rocky Gerung saja. Jangan

 ikut-ikutan. Gak elok.

 

 Kalau ada yang khawatir bagaimana nasib gedung DPR-MPR yang ada di

 Jakarta, gedung-gedung pemerintahan, istana, dan lain-lain, hemat saya

 itu orang terlalu serius. Tinggal sewakan saja gedung-gedung itu,

 beres! Buat studio film atau arena teater. Tidakkah selama ini banyak

 anggota legislatif yang pandai bermain drama di gedung DPR? Cocok untuk

 pentas teatrikal.

 

 Ketiga, banyak pihak mengkaitkan perpindahan ini sebagai bagian dari

 manuver untuk 2024. Maksudnya? Untuk mendegradasi Anies Baswedan yang

 namanya sedang digaungkan rakyat menjadi presiden masa depan. Seolah

 ingin mengesankan bahwa Anies gagal mengurus Ibu Kota. Karena itu, Ibu

 Kota dipindah. Oh ya? Ada-ada aja anda ini. Terlalu jauh tafsirnya.

 Tapi, kalau toh iya, emang rakyat Indonesia sepicik itu bisa dikelabui?

 Tentu tidak!

 

 Keempat, banyak pihak bertanya: siapa pemilik lahan terbesar di

 Kalimantan, tempat dimana Ibu Kota akan dipindah? Emang ada

 hubungannya? Ini yang lagi jadi perbincangan publik. Belum lagi pihak

 mana yang akan mendapatkan proyek-proyek pembangunan di Ibu Kota baru

 itu. Silahkan direnungkan!

 

 --------

 

 

 2.

 

 DULU KERAS TOLAK PINDAH IBU KOTA, KINI AHOK MANUT JOKOWI

 

 Redaksi HAI

 30/08/2019 - 00:49 WIB

 

 –  Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok

 merespons soal rencana pemindahan Ibu Kota dari Jakarta ke Kalimantan

 Timur. Menurut Ahok, dirinya mengikuti apa keputusan Presiden Joko

 Widodo, mengingat hal itu memang menjadi kewenangan pemerintah pusat.

 

 “Saya ikut presiden,” kata Ahok, Rabu (28/8) malam.

 

 Ahok mengakui dirinya pernah memiliki pendapat terkait pemindahan Ibu

 Kota. Saat menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahok mengatakan

 permasalahan Jakarta tak bisa diselesaikan hanya dengan memindahkan Ibu

 Kota.

 









 










Kirim email ke