https://suaraislam.id/negara-amburadul-wajar-mahasiswa-turun-gunung/



*Negara Amburadul, Wajar Mahasiswa Turun Gunung*

 25 September 2019

 2 minutes read

Cetak

Bagi Via Email

Google+

Twitter

Facebook

Mahasiswa kembali bangkit. Sang penyala tungku peradaban kembali mengaung.
Aksi Mahasiswa menolak RUU bermasalah bergelora seantero negeri. Mereka
mulai unjuk gigi. Aksi yang berlanjut dari Senin (23/9/) hingga Selasa
(24/9) masih berlanjut.

Bermula dari gerakan mahasiswa #GejayanMemanggil di Yogyakarta merembet ke
berbagai daerah diantaranya Bandung, Bogor, Lampung, Malang, dan lainnya.
Tuntutan mereka sama. Menolak RUU KPK yang baru disahkan serta RUU
bermasalah seperti RUU Pertanahan, RUU KUHP, RUU Pemasyarakatan, RUU
Minerba, RUU Ketenagakerjaan, serta RUU P-KS. Mereka menganggap RUU itu
menyalahi amanat reformasi yang sudah berlangsung selama 21 tahun. Tagar
#ReformasiDikorupsi menjadi garis besar tuntutan mereka. Diantara tuntutan
mereka dalam aksi di DPR ialah:

Pertama, merestorasi upaya pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Kedua, merestorasi demokrasi, hak rakyat untuk berpendapat, penghormatan
perlindungan dan pemenuhan hak asasi manusia, dan keterlibatan rakyat dalam
proses pengambilan kebijakan. Ketiga, merestorasi perlindungan sumber daya
alam, pelaksanaan reforma agraria dan tenaga kerja dari ekonomi yang
eksploitatif. Keempat, merestorasi kesatuan bangsa dan negara dengan
penghapusan diskriminasi antaretnis, pemerataan ekonomi, dan perlindungan
bagi perempuan. (kompas.com, 24/9/2019)

Pergerakan mahasiswa kali ini patut diapresiasi. Sebab, gerakan mahasiswa
selama ini seperti mati suri. Tak nampak kepedulian terhada persoalan
negeri. Hanya sibuk urus diri sendiri dan kesenangan pribadi. Namun, hari
ini kita saksikan geliat kebangkitan pemuda mulai menggelora. Semangat
perubahan mulai terlihat. Artinya, ada perubahan sikap dalam diri mereka.
Bila dulu mereka hanya diam membisu. Berkat RUU KPK, semua eleman
masyarakat yang tak setuju mulai berani bersuara. Tak terkecuali mahasiswa
dan kaum akademisi. Korupsi memang sepantasnya menjadi musuh bersama bagi
bangsa ini.

Namun, pergerakan mahasiswa juga patut diwaspadai. Sebabnya, aksi serentak
menuntut pembatalan berbagai RUU bermasalah bisa ditunggangi kepentingan
tertentu. Sebagai contoh, dalam aksi penolakan RUU bermasalah, diantara
tuntutan itu adalah agar DPR segera mengesahkan RUU PKS. Bila tak segera
disahkan, DPR dianggap tidak mengakomodasi perlindungan terhadap perempuan.
Sebagaimana diketahui, RUU PKS masih mengandung pasal-pasal kontroversi
yang berindikasi melegalkan aborsi dan zina. Dalam RUU itu, pemaksaan
aborsi, pemaksaan pelacuran, baru dikenakan sanksi. Sementara yang tidak
dipaksa tak bisa dikenai sanksi. Belum lagi pasal-pasal ambigu yang memberi
celah pelegalann terhadap zina, aborsi, dan eljibiti. Istilah ‘kekerasan
seksual’ juga masih samar dan tidak jelas.

Sebagaimana poster-poster yang beredar dalam aksi mahasiswa hari ini,
aliansi perempuan yang mengatasnamakan mahasiswa menyusupkan pesan dukungan
segera disahkannya RUU PKS. Bisa jadi ada penumpang gelap dalam aksi
mahasiswa. Oleh karenanya, gerakan mahasiswa jangan sampai dibajak oleh
pihak manapun. Tak terkecuali elite penguasa dan politik.

Arah Perubahan Hakiki

Derasnya aksi mahasiswa dari berbagai kmapus swasta dan negeri menunjukkan
bahwa negeri ini masih memiliki generasi dambaan. Peran pemuda sebagai
agent of change sudah semestinya difungsikan. Sebab, di tangan pemudalah
masa depan negeri ini dipertaruhkan. Melihat negara amburadul, wajar
mahasiswa turun gunung. Menolak segala hal yang merugikan negara. Menuntut
keadilan dan perubahan. Hanya saja, arah perubahannya tak hanya restorasi,
tapi revolusi. Perubahan yang tak sekedar luapan amarah dan kekecewaan.
Namun, dorongan perubahan itu karena panggilan iman dan gatal melihat
kemungkaran. Idealisme mahasiswa harus murni terpanggil karena iman dan
nuraninya. Agar pergerakannya tak mudah dibelokkan oleh kepentingan
tertentu.

Menilik perjalanan panjang negeri ini, lebih dari sebelas kali pemilu,
perubahan seperti jalan di tempat. Dari orde lama hingga reformasi tak
kunjung menemui jalan restorasi hakiki. Berganti tujuh pemimpin berlatar
beda tak juga membuat negeri ini membaik. Dari kalangan patriotis hingga
melankolis Indonesia tetap terjajah. Penjajahan fisik memang sudah berlalu.
Sayangnya, penjajahan gaya baru tengah menghimpit negeri ini. Sadar atau
tidak, Indonesia masih berada dalam cengkeraman kapitalisme global, baik
Timur maupun Barat.

Adanya RUU bermasalah itu juga tidak lepas dari kepentingan kaum kapital.
RUU Pertanahan dan RUU KUHP misalnya. Bukannya menghilangkan kolonialisasi
justru RUU ini berpotensi membentuk kolonial gaya baru. Inilah yang harus
disadari oleh mahasiswa sebagai garda terdepan dalam perubahan. Tak cukup
hanya menuntut penolakan RUU bermasalah, namun juga harus menolak
penjajahan ala kapitalisme. Selama perubahan tak menyentuh akar
permasalahan, masalah baru lainnya akan terus bermunculan. Masalah terbesar
negeri ini adalah sistem yang menaunginya, yakni kapitalis-liberal. Bahkan
penguasaan sistem ini atas Indonesia diakui sendiri oleh elite politik.

Maka dari itu, perjuangan mahasiswa belumlah usai. Teruslah bersuara
melawan kebatilan. Teruslah berjuang mengungkap keculasan para penguasa dan
kaum kapital. Sampaikan kebenaran dengan lantang. Gerakkanlah arah
perubahanmu dengan perubahan mendasar. Perubahan hakiki bahwa Islamlah
satu-satunya solusi selamatkan negeri ini. Perubahan sistem yang akan
menghapus hegemoni kapitalisme di negeri ini. Restorasikan dengan Islam.
Dan perubahan itu adalah tegaknya sistem Islam yang akan membawa rahmat
bagi semesta alam.

*Chusnatul Jannah*
*Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban*

Kirim email ke