Negara AMBURADUL??? Nampaknya mahasiswa dinegeri ini kurang cermat dalam
mempelajari jejak langkah perjalanan bangsa! Setidaknya bisa dikatakan
tidak berhasil melihat hakekat masalah yang harus dipecahkan dan
menemukan jalan terbaik memecahkan persoalan yang dihadapi. Bagaimana,
....???
Coba perhatikan, Partai POLITIK di Indonesia yang paling konsekwen
membela kepentingan RAKYAT BANYAK adalah PKI. Karena dimasa penjajahan
Jepang termasuk partai yg digempur hancur, dan terjadi pebedaan pendapat
didalam PKI, akhirnya TIDAK SIAP menampilkan diri, harus menerima
kenyataan menampilkan Soekarno-Hatta sebagai tokoh nasional yang bisa
diterima ketika Jepang menyerah dan proklamasikan Kemerdkaan RI!
Dalam perjalanan dikekuasaan Presiden Soekarno, PKI yang berani
menggunakan jalan parlemen, akhirnya terperosok menjadi parlementerisme
dan lagi-lagi TIDAK SIAP digempur jenderal Soeharto yang gunakan
peristiwa G30S memusnahkan komunisme di Indonesia, ...! PKI dibubarkan,
jutaan anggota dan rakyat tidak berdosa jatuh jadi KORBAN! Sampai
sekarang setelah lewat lebih 1/2 abad PKI yang sudah mati tetap saja
jadi momok yang dihitamkan dan sangat ditakuti. Ajaran
Marxisme-Leninisme diharamkan dan terlarang sampai sekarang ini.
Akibatnya, saat menghadapi perubahaan politik, krismon akhir tahun 1997,
jelang Soeharto lagi-lagi kekuatan kiri BELUM SIAP! Gerakan massa yang
sudah memanas, dengan kebangkitan pemuda-pemudi mewujudkan demokrasi
danmengakhiri kekuasaan otoriter jenderal Soeharto yg telah berkuasa
lebih 32 itu, ... Yang jadi masalah utama tentu saja siapa yang bisa
ditampilkan dan bisa diterima rakyat banyak ketika itu??? Dan untuk itu
tentu harus dimainkan Partai-politik yang berkemampuan menyusun
strategi-taktik perjuangannya dengan baik.
Melihat tokoh-tokoh yang tampil dalam perjuangan reformasi-demokrasi
ketika itu, yang paling menonjol Amin Rais, Gus Dur, ... sedang kekuatan
PRD yg juga bergerak ketika itu dituduh identik PKI yg digempur dan
ditolak, jadi belum bisa tumbuh berkembang dengan baik! Sudah cukup
bagus ketika itu terjadi "kesalahan" indah Amin Rais, sehingga Gus Dur
yang tampil jadi Presiden RI ke-3, walaupun singkat saja.
Pertarungan kekuatan-kekuatan yang ada tentu saja terjadi, begitu
kerasnya Gus Dur memperjuangkan kepentingan rakyat dan usaha keadilan
mencabut TAP-25 MPRS dan tap-33 MPRS, akhirnya terjungkel. Sedang
pemerintah yang dilanjutkan Megawati juga terjebak dengan banyak
kompromi, bahkan merubah sistem pemilihan Presiden melalui MPR menjadi
pemilihan Presiden secara langsung. Yang ketika itu dianggap pemilihan
langsung lebih DEMOKRATIS dan mengikuti jalan demokrasi negara-negara
maju, khususnya AS!
Yang terjadi selama SBY berkuasa 2 periode, 10 tahun ini pembangunan
ekonomi dan masyarakat Indonesia tidak banyak perubahan, kecuali makin
marak dan kentalnya kekuatan Islam radikal! Bahkan suasana intoleransi,
TIDAK bisa terima pimpinan tokoh Agama lain mencuat dipermukaan saat
Pilgub DKI Jakarta 2017 yl. dengan keberhasil memenjarakan Ahok!
Selanjutnya, juga nampak jelas dalam proses Pilpres-2019 kemarin ini,
nuansa Islam sangat atau bahkan makin kental terjadi di 2
Capres-cawapres. Jokowi jadi harus menggaet Maruf Amin jadi cawapres,
sedang kubu Prabowo berkoalisi dengan kekuatan Islam radikal, PA-212 dan
FPI-Habib Rizieq! Artinya apa? Kekuatan kiri, yang bisa dikatakan
pembela kepentingan RAKYAT banyak dalam arti sesungguhnya juga BELUM SIAP!
Jokowi sekalipun kader PDIP saja bukan ketua dan berpengaruh besar yg
bisa menentukan, jadi sulit menjadikan atau menggunakan PDIP sebagai
kendaraan yg menopang kekuasaan di pemerintah! Apalagi PDIP dalam
pemilu-2019 kemarin ini tidak mencapi 20% suara! Akibatnya, Jokowi
mutlak harus meraih parpol-parpol lain untuk berkoalisi, ... dan tak
terhindar adanya kompromi-kompromi harus dijalankan. Gejala-gejala hasil
kompromi2 yang dilakukan akhir-akhir inilah yg nampak seperti amburadul!
Lalu?
TIDAK BISA main kekerasan dengan DOBRAK untuk bangun dan pilih tokoh
baru menggantikan Jokowi! Siapapun yg ditampilkan diera
reformasi-demokrasi sekarang ini, juga mutlak harus jalankan
kompromi-kompromi. TIDAK MUNGKIN jalan sendiri sesuai kehendak, karena
kenyataan tidak satu parpol pun yg berhasil meraih suara mayoritas!
MUTLAK harud ada koalisi dari beberapa parpol utk mencapai mayoaritas
suara! *Negara ini akan hancur berantakan kalau ada satu kekuatan yg
memaksakan kehendak sendiri, ...!*
Jadi, turun kejalan ajukan pendapat tentu boleh-boleh saja, ... namun
harus pandai temukan solusi terbaik yg masih bisa diterima bersama! Tapi
jangan sekali-kali gunakan kekerasan memaksakan kehendak/pendapat
sendiri, lalu main mendobrak, ... berusaha melumpuhkan kekuasaan yg sah!
Karena setelah kalian mendobrak pemerintah yg saha, kalian tetap akan
kesulitan menampilkan tokoh pimpinan yg bisa diterima semua pihak, dan
pertarungan kekuatan-kekuatan yang menjadi berkepanjangan dan makin
sengit! Yang PASTI dengan merusak ketentraman dan ketertiban masyarakat
sangat, sangat merugikan rakyat banyak! Lihatlah beberapa negara Arab
sana yg jalankan Revolusi Warna yg ditunggangi AS itu, ... Jangan
biarkan aksi-aksi demo-damai yg dilakukan bisa ditunggangi
kekuatan-kekuatan tidak bertanggungjawab apalagi kekuatan ASING untuk
kepentingan mereka sendiri saja!
Susunlah lebih dahulu dengan sebaik-baiknya organisasi Partai yg bisa
betul-betul membela kepentingan RAKYAT banyak, dan dengan demikian bisa
diterima mayoritas mutlak rakyat, ... menjadi Partai politik yg tidak
hanya mampu menampilkan tokoh pimpinan nasional sendiri (TANPA harus
berkualisi dgn parpol lain!), tapi juga partai yg berkemampuan menyusun
strategi-taktik perjuangan bangsa ini, ... membangun dan mewujudkan
masyarakat adil dan makmur di Nusantara!
Sunny ambon [email protected] [GELORA45] 於 26/9/2019 6:50 寫道:
https://suaraislam.id/negara-amburadul-wajar-mahasiswa-turun-gunung/
*Negara Amburadul, Wajar Mahasiswa Turun Gunung*
25 September 2019
2 minutes read
Cetak
Bagi Via Email
Google+
Twitter
Facebook
Mahasiswa kembali bangkit. Sang penyala tungku peradaban kembali
mengaung. Aksi Mahasiswa menolak RUU bermasalah bergelora seantero
negeri. Mereka mulai unjuk gigi. Aksi yang berlanjut dari Senin
(23/9/) hingga Selasa (24/9) masih berlanjut.
Bermula dari gerakan mahasiswa #GejayanMemanggil di Yogyakarta
merembet ke berbagai daerah diantaranya Bandung, Bogor, Lampung,
Malang, dan lainnya. Tuntutan mereka sama. Menolak RUU KPK yang baru
disahkan serta RUU bermasalah seperti RUU Pertanahan, RUU KUHP, RUU
Pemasyarakatan, RUU Minerba, RUU Ketenagakerjaan, serta RUU P-KS.
Mereka menganggap RUU itu menyalahi amanat reformasi yang sudah
berlangsung selama 21 tahun. Tagar #ReformasiDikorupsi menjadi garis
besar tuntutan mereka. Diantara tuntutan mereka dalam aksi di DPR ialah:
Pertama, merestorasi upaya pemberantasan korupsi, kolusi, dan
nepotisme. Kedua, merestorasi demokrasi, hak rakyat untuk berpendapat,
penghormatan perlindungan dan pemenuhan hak asasi manusia, dan
keterlibatan rakyat dalam proses pengambilan kebijakan. Ketiga,
merestorasi perlindungan sumber daya alam, pelaksanaan reforma agraria
dan tenaga kerja dari ekonomi yang eksploitatif. Keempat, merestorasi
kesatuan bangsa dan negara dengan penghapusan diskriminasi antaretnis,
pemerataan ekonomi, dan perlindungan bagi perempuan. (kompas.com
<http://kompas.com>, 24/9/2019)
Pergerakan mahasiswa kali ini patut diapresiasi. Sebab, gerakan
mahasiswa selama ini seperti mati suri. Tak nampak kepedulian terhada
persoalan negeri. Hanya sibuk urus diri sendiri dan kesenangan
pribadi. Namun, hari ini kita saksikan geliat kebangkitan pemuda mulai
menggelora. Semangat perubahan mulai terlihat. Artinya, ada perubahan
sikap dalam diri mereka. Bila dulu mereka hanya diam membisu. Berkat
RUU KPK, semua eleman masyarakat yang tak setuju mulai berani
bersuara. Tak terkecuali mahasiswa dan kaum akademisi. Korupsi memang
sepantasnya menjadi musuh bersama bagi bangsa ini.
Namun, pergerakan mahasiswa juga patut diwaspadai. Sebabnya, aksi
serentak menuntut pembatalan berbagai RUU bermasalah bisa ditunggangi
kepentingan tertentu. Sebagai contoh, dalam aksi penolakan RUU
bermasalah, diantara tuntutan itu adalah agar DPR segera mengesahkan
RUU PKS. Bila tak segera disahkan, DPR dianggap tidak mengakomodasi
perlindungan terhadap perempuan. Sebagaimana diketahui, RUU PKS masih
mengandung pasal-pasal kontroversi yang berindikasi melegalkan aborsi
dan zina. Dalam RUU itu, pemaksaan aborsi, pemaksaan pelacuran, baru
dikenakan sanksi. Sementara yang tidak dipaksa tak bisa dikenai
sanksi. Belum lagi pasal-pasal ambigu yang memberi celah pelegalann
terhadap zina, aborsi, dan eljibiti. Istilah ‘kekerasan seksual’ juga
masih samar dan tidak jelas.
Sebagaimana poster-poster yang beredar dalam aksi mahasiswa hari ini,
aliansi perempuan yang mengatasnamakan mahasiswa menyusupkan pesan
dukungan segera disahkannya RUU PKS. Bisa jadi ada penumpang gelap
dalam aksi mahasiswa. Oleh karenanya, gerakan mahasiswa jangan sampai
dibajak oleh pihak manapun. Tak terkecuali elite penguasa dan politik.
Arah Perubahan Hakiki
Derasnya aksi mahasiswa dari berbagai kmapus swasta dan negeri
menunjukkan bahwa negeri ini masih memiliki generasi dambaan. Peran
pemuda sebagai agent of change sudah semestinya difungsikan. Sebab, di
tangan pemudalah masa depan negeri ini dipertaruhkan. Melihat negara
amburadul, wajar mahasiswa turun gunung. Menolak segala hal yang
merugikan negara. Menuntut keadilan dan perubahan. Hanya saja, arah
perubahannya tak hanya restorasi, tapi revolusi. Perubahan yang tak
sekedar luapan amarah dan kekecewaan. Namun, dorongan perubahan itu
karena panggilan iman dan gatal melihat kemungkaran. Idealisme
mahasiswa harus murni terpanggil karena iman dan nuraninya. Agar
pergerakannya tak mudah dibelokkan oleh kepentingan tertentu.
Menilik perjalanan panjang negeri ini, lebih dari sebelas kali pemilu,
perubahan seperti jalan di tempat. Dari orde lama hingga reformasi tak
kunjung menemui jalan restorasi hakiki. Berganti tujuh pemimpin
berlatar beda tak juga membuat negeri ini membaik. Dari kalangan
patriotis hingga melankolis Indonesia tetap terjajah. Penjajahan fisik
memang sudah berlalu. Sayangnya, penjajahan gaya baru tengah
menghimpit negeri ini. Sadar atau tidak, Indonesia masih berada dalam
cengkeraman kapitalisme global, baik Timur maupun Barat.
Adanya RUU bermasalah itu juga tidak lepas dari kepentingan kaum
kapital. RUU Pertanahan dan RUU KUHP misalnya. Bukannya menghilangkan
kolonialisasi justru RUU ini berpotensi membentuk kolonial gaya baru.
Inilah yang harus disadari oleh mahasiswa sebagai garda terdepan dalam
perubahan. Tak cukup hanya menuntut penolakan RUU bermasalah, namun
juga harus menolak penjajahan ala kapitalisme. Selama perubahan tak
menyentuh akar permasalahan, masalah baru lainnya akan terus
bermunculan. Masalah terbesar negeri ini adalah sistem yang
menaunginya, yakni kapitalis-liberal. Bahkan penguasaan sistem ini
atas Indonesia diakui sendiri oleh elite politik.
Maka dari itu, perjuangan mahasiswa belumlah usai. Teruslah bersuara
melawan kebatilan. Teruslah berjuang mengungkap keculasan para
penguasa dan kaum kapital. Sampaikan kebenaran dengan lantang.
Gerakkanlah arah perubahanmu dengan perubahan mendasar. Perubahan
hakiki bahwa Islamlah satu-satunya solusi selamatkan negeri ini.
Perubahan sistem yang akan menghapus hegemoni kapitalisme di negeri
ini. Restorasikan dengan Islam. Dan perubahan itu adalah tegaknya
sistem Islam yang akan membawa rahmat bagi semesta alam.
**Chusnatul Jannah**
/Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban/
--
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com