Artikel <https://www.antaranews.com/slug/artikel>
Mengembalikan roda kehidupan masyarakat Palu
Oleh Moh Ridwan/Muhammad ArshandiSabtu, 28 September 2019 12:20 WIB
Mengembalikan roda kehidupan masyarakat Palu
ARSIP: Warga korban bencana gempa dan likuefaksi berada disekitar bilik
mereka pada salah satu blok Hunian sementara (Huntara) bantuan
pemerintah melalui Kementerian PUPR di Petobo, Palu, Sulawesi Tengah,
Selasa (13/3/2019). ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah/am.
Palu (ANTARA) - Setahun telah berlalu bencana dahsyat gempa bumi,
tsunami dan likuefaksi melanda Provinsi Sulawesi Tengah khususnya di
Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Donggala atau dikenal dengan wilayah
Pasigala, 28 September 2018.
Berbagai upaya yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah
bersama pemerintah kabupaten kota yang disertai dukungan pemerintah
pusat untuk memulihkan semua sendi-sendi kehidupan di masyarakat.
Pemerintah Kota Palu sebagai ibu kota provinsi berkomitmen untuk tidak
berlarut-larut dalam kesedihan bencana. Semua lapisan masyarakat harus
bangkit, membangun kembali daerah sebagaimana perayaan hari ulang tahun
(HUT) kota, hanya berselang sehari sebelum bencana.
Peringatan HUT Kota Palu ke 41 di halaman kantor Wali Kota Palu, 27
September 2019 juga ditandai dengan peringatan setahun bencana Sulteng
yang masih meeninggalkan kedukaan bagi warga akibat dahsyatnya bencana itu.
Wali Kota Palu Hidayat menegaskan bencana setahun lalu merupakan ujian
kesabaran sebagai manusia dari Allah SWT yang harus dilalui, sebagai
pembuktian untuk menjadi manusia yang beriman dan bertakwa.
Tahapan-tahapan pemulihan sudah dilakukan dimulai dari tanggap darurat,
masa transisi darurat menuju pemulihan hingga tahapan rehabilitasi dan
rekonstruksi.
Masa tanggap darurat bencana, berbagai uluran tangan dari organisasi,
lembaga kemanusiaan dalam maupun luar negeri ikut terlibat membantu
pemulihan korban bencana Palu dan sekitarnya termasuk organisasi
Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).
Dalam kondisi serba keterbatasan, para penyintas saat itu masih
mengandalkan bantuan dari berbagai pihak, meskipun pemenuhan hak dasar
menjadi kewajiban pemerintah namun di sisi lain pemerintah setempat juga
memiliki ketersediaan logistik.
Ketersediaan logistik menjadi langkah alternatif sementara dilakukan di
shelter-shelter pengungsian agar warga korban bencana bisa makan dan
menyambung hidupnya.
Memasuki masa transisi darurat menuju pemulihan, Wali Kota Palu Hidayat
mengatakan Pemkot menggunakan anggaran bersumber dari dana tak terduga
sebesar Rp1,6 miliar dan anggaran pada BPBD Kota Palu serta pergeseran
anggaran dalam APBD 2018 sebesar Rp63,5 miliar.
Pemkot Palu terus merampungkan data kebencanaan yang meliputi data
pengungsi, data korban bencana dan data kajian pascabencana serta
penyusunan rencana aksi rehabilitasi dan rekonstruksi.
Pemerintah dan para pihak yang terlibat mulai menyediakan hunian
sementara (Huntara) sebagai rumah singgah untuk para penyintas yang
bersifat jangka pendek beserta sarana pendukung lainnya.
Tahapan transisi darurat menuju pemulihan turut pula melibatkan
pemerintah pusat melalui masing-masing kementerian, badan dan lembaga.
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menjadi salah
satu kementerian teknis berkaitan dengan penyediaan sarana dan prasarana
infrastruktur.
*Rehabilitasi dan Rekonstruksi*
Masa rehabilitasi dan rekonstruksi saat ini terus bergulir untuk
pemulihan setahun pascabencana. Pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi
melalui jaminan hidup terus dilakukan Pemkot Palu, selain persiapan
pembangunan hunian tetap bagi pengungsi.
Pemkot Palu memastikan akan terbangun hunian tetap di sana sebanyak
2.200 hunian dari sejumlah pihak untuk para pengungsi di lokasi relokasi
Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore.
Pembangunan hunian tetap salah satunya disediakan Yayasan Buddha Zhu Chi
yang dibangun sekitar 1.000 hunian di atas lahan seluas 50 hektare lebih.
“Mengenai model bisa saja berbeda, tetapi intinya hunian harus tahan
gempa. Ukuran hunian tipe 36, satu hunian kami sediakan lahan 10x15
meter,” jelas Hidayat.
Selain Yayasan Buddha Tzu Chi, para pihak yang melaksanakan tahap
pembangunan hunian tetap, yakni bantuan pemerintah Kota Surabaya hingga
bantuan dua negara anggota ASEAN yaitu Filipina dan Brunei Darussalam
melalui AHA Center.
Pemkot Palu menyediakan lahan seluas 146,80 hektare di Kelurahan Tondo
dan Talise serta Kelurahan Duyu seluas 38,60 hektare. Lahan itu terbagi
dalam tiga zona dan dapat menampung semua korban bencana di 13 kelurahan
terdampak tsunami, maupun dua kelurahan yang terdampak likuefaksi
termasuk warga bermukim di garis patahan atau sesar Palu Koro.
Wali Kota Hidayat menyatakan kebutuhan hunian tetap untuk warga korban
gempa, tsunami dan likuefaksi di Palu sekitar 7.000 unit, tersebar di
sejumlah lokasi yang telah disediakan pemerintah.
*Baca juga:Setahun bencana Sulteng - Pemkot Palu bangun ketahanan
ekonomi korban
<https://www.antaranews.com/berita/1078084/setahun-bencana-sulteng-pemkot-palu-bangun-ketahanan-ekonomi-korban>
Baca juga:Setahun bencana Sulteng, perhotelan di Palu mulai bangkit
<https://www.antaranews.com/berita/1078038/setahun-bencana-sulteng-perhotelan-di-palu-mulai-bangkit>*
*Dukungan para pihak*
PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Palu turut menyatakan
dukungan untuk sumber kelistrikan pada pembangunan hunian tetap, salah
satunya yang dibangun Yayasan Buddha Tzu Chi.
"Kami sudah memasang dua transformator atau trafo di lokasi tersebut.
semuanya siap difungsikan jika hunian itu sudah ditempati," kata Manager
PLN UP3 Palu, Abbas Saleh.
"Jika nanti trafo yang sudah disediakan tidak mampu mengangkat beban
pemakaian, kami akan tambah trafo baru tetapi di lihat dulu perkembangan
ke depan," ujar Abbas.
ia menjelaskan kemungkinan penggunaan meteran listrik hunian
tetap tersebut berdaya 900 Watt. Hal itu dikarenakan para penghuni
merupakan keluarga normal dalam artian penggunaan energi listrik cukup
besar, dan tidak menutup kemungkinan berbagi barang elektronik digunakan
setiap kepala keluarga.
*Menunggu Relokasi*
Setahun bencana di Kota Palu telah berlalu, dimana pembangunan hunian
tetap terus digenjot untuk para korban melalui verifikasi dan validasi
data yang bersedia direlokasi ke tiga zona yang ditetapkan pemerintah.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palu Presly
Tampubolon mengatakan pemerintah telah menyebarkan formulir kesiapan
relokasi kepada para korban. Data sementara yang mengembalikan formulir
ke BPBD Kota Palu sekitar 4.000 jiwa, namun tidak semua menyatakan
bersedia direlokasi.
Para korban yang bersedia direlokasi sesuai formulir sebanyak 2.990
jiwa. Relokasi ke hunian tetap di Tondo sebanyak 1.860 jiwa, sisanya
memilih direlokasi ke Talise dan Duyu sekitar 250 jiwa sampai 300 jiwa.
“Kami baru membuka validasi warga yang direlokasi ke Tondo, karena baru
lokasi itu yang siap pembangunannya. Dari 1.860 jiwa yang bersedia
kurang lebih 1.400 jiwa datang melapor untuk penyesuaian administrasi
bersifat final,” kata Presly.
Pemindahan korban bencana ke tempat lebih layak, sebagai upaya
pemerintah untuk memberikan jaminan kehidupan lebih baik. Selain itu,
relokasi dimaksudkan menjaga keselamatan warga dari ancaman bencana,
khususnya mereka yang saat ini masih tinggal di zona merah pada peta
zona rawan bencana berdasarkan hasil kajian ilmiah.
Relokasi tahap awal disediakan sebanyak 200 hunian untuk menampung
sekitar 1.800 jiwa korban bencana Palu di Kelurahan Tondo, Kecamatan
Mantikulore. Namun kata Presly, saat ini hunian tetap yang rampung
terbangun sebanyak 20 unit dari 200 unit target Yayasan Buddha Zhu Chi.
“Sudah rampung, namun belum memiliki air bersih dan belum tersambung
listrik,” ungkap Presly.
Dia menyatakan hunian tetap tersisa akan segera rampung, guna mengejar
target yang sudah ditetapkan pihak pendonor. Begitu banyak upaya
dilakukan pemerintah Kota Palu untuk membenahi daerah mereka setahun
pascabencana.
Apapun hasilnya nanti, semua pihak berharap Kota Palu dapat kembali
menjadi palu kota jasa berbudaya dan beradat dilandasi iman dan takwa
sesuai visi misi Pemerintah Kota Palu periode 2016-2021.
*Baca juga:Setahun bencana Sulteng - Gereja-gereja se-Kota Palu gelar
doa bersama
<https://www.antaranews.com/berita/1077838/setahun-bencana-sulteng-gereja-gereja-se-kota-palu-gelar-doa-bersama>*
Oleh Moh Ridwan/Muhammad Arshandi
Editor: Zita Meirina
--
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com