Sampai tahun 1999 ada beberapa penduduk beragama Kristen berdiam di Batumerah, tetapi dengan kejadian 20 tahun lalu, tidak ada lagi. Batumerah menjadi pusat Laskar Jihad wwaktu konflik, dan disini pertama kali dilaksanakan hukuman ranjam dalam sejarah kotaa Ambon dan Maluku pada umumnya. Tidak aneh kalau protistusi penganti penganti Laskar Jihad. Bagi yang mau senam badan ada waktu sebelum ditutup pada November. hehehehe
https://www.gatra.com/detail/news/451985/milenial/tempat-prostitusi-di-ambon-tutup-november Tempat Prostitusi di Ambon Tutup November Gatra.com | 19 Oct 2019 22:42 - Ambon, Gatra.com- Walikota Ambon Richard Louhenapessy turun langsung memberikan sosialiasi penutupan tempat prostitusi atau Lokalisasi Tanjung di Desa Batu Merah, Kota Ambon, Provinsi Maluku, Sabtu malam (19/10/2019). Di hadapan puluhan Pekerja Seks Perempuan (PSP), dan masyarakat yang mediami lokalisasi tersebut, Richard mengaku akan menutup tempat tersebut pada Bulan November 2019 mendatang. "Kita berharap sampai dengan November ini lokalisasi betul-betul sudah kita close, kita tutup dan memberikan dampak postif bagi masyarakat sekitar," kata Richard. Untuk PSP yang selama ini hidup di daerah tersebut, kata Richard, dalam waktu dekat pihaknya akan memberikan petunjuk untuk dikirim kembali ke alamat semula, atau daerah asal mereka. "Jadi saudara-saudara perempuan saya yang selama ini tinggal di sini kita akan mengirimkan kembali ke alamatnya semula, by name by adress. Dan pemerintah pusat akan memfasilitasi itu kembali ke daerah asal masing-masing," katanya. Bagi PSP yang ingin kembali ke daerah asal menggunakan pesawat, ataupun kapal laut, kata Richard, akan diatur selanjutnya. "Yang penting kita punya saudara-saudara ini bisa bertemu dengan dia punya keluarga, suami, atau anak-anak dalam suasana bahagia," harapnya. Kebijakan untuk menutup tempat lokalisasi ini, lanjut Walikota Ambon dua periode itu, bukan ansih pihaknya semata. Ini merupakan kebijakan secara nasional, mulai dari Jakarta sampai di seluruh tempat di Indonesia. Di Indonesia, tambah dia, lokalisasi yang tersebar di sebelumnya berjumlah 186 tempat. Hingga kini tersisa 16 yang belum di tutup termasuk Kota Ambon. "Dan tahun ini atas usulan dan dukungan MUI, aparat Kepolisian, Kodim, tokoh masyarakat, agama, maka Pemerintah Kota Ambon akan mengambil kebijakan yang sama dengan daerah-daerah lain yang telah lebih dulu mengambil langkah itu (penutupan)," jelasnya. Kebijakan yang diambil tersebut, lanjut Richard, tidak dilakukan dengan cara seenaknya. Langkah yang ditempuh menggunakan pendekatan kemanusiaan. "Karena apa, ini potong di kuku rasa di daging. Kebijakan yang tidak memperhatikan saudara-saudara kita di sini itu tidak benar. Makanya malam ini kita datang dan sudah mempersiapkan semuanya itu secara baik," sebutnya. Pemkot, kata Richard, akan menginfentarisir dampak penutupan terhadap lingkungan sekitar. Pihaknya akan memberikan perhatian serius kepada masyarakat sekitar yang menggantungkan hidupnya di wilayah itu. "Itu akan kita perhatikan sehingga betul-betul kita tidak mengorbankan satu dengan yang lain. Kita datang ke sini dalam semangat kebersamaan, semangat kesamaan, semangat gender yang sama, lalu mari kita mulai menapak masa depan kita secara lebih baik lagi," pintanya. Mantan Ketua DPRD Maluku ini mengaku pihaknya telah memikirkan lebih jauh dampak dari penutupan tempat lokalisasi tersebut. Pihaknya tidak akan tutup mata dengan akibat yang ditimbulkan nanti. Bahkan, Pemkot akan memberikan perhatian pemberdayaan lingkungan tersebut dengan usaha-usaha kongkrit. "Supaya apa yang didapat selama ini kita juga bisa robah sehingga tetap bermanfaat bagi masyarakat yang ada di sini. Kalau dulu potensi A kita bisa rubah dia menjadi potensi B. Tapi hasilnya juga sama. Ini yang akan kita dorong," terangnya. Richard mengaku, setelah sosialisasi dilakukan, berikutnya akan ada kegiatan taktis oleh tim dibawah koordinasi dinas sosial. Babinsa, Bhabinkamtibmas, juga akan bersama-sama terlibat. "Kita akan mengatur dan pada waktunya juga kita akan mengantarnya secara bersama sama dalam suasana persaudaraan satu dengan yang lain," pungkasnya. ------------------------------ *Reporter: Chen Toisuta* *Editor: Zairin Salampessy*
