----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: ChanCT [email protected] 
[GELORA45] <[email protected]>Kepada: GELORA_In 
<[email protected]>Terkirim: Minggu, 20 Oktober 2019 04.12.15 
GMT+2Judul: [GELORA45] 5 Tahun Jokowi, Memangkas Subsidi demi Ngebut di 
Infrastruktur
     
 

 

5 Tahun Jokowi, Memangkas Subsidi demi Ngebut di Infrastruktur
 
Reporter:  Francisca Christy Rosana
 
Editor:  Rahma Tri
 
Minggu, 20 Oktober 2019 09:00 WIB
 
 
 
Kendaraan pemudik melintas di jalan Tol Trans Jawa ruas Ngawi-Kertosono di 
Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Senin, 3 Juni 2019. Memasuki H-2 Lebaran 2019, 
jalan tol Ngawi-Kertosono terpantau lancar. ANTARA
 
TEMPO.CO, Jakarta - Lima tahun sudah Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden 
Jusuf Kalla menahkodai negeri ini. Tak terasa, 5 tahun Jokowi sudah menjadi CEO 
Indonesia, yang banyak dikenang dengan semangatnya untuk menggeber pembangunan 
infrastruktur.
 
Di periode I pemerintahan Jokowi, pembangunan infrastruktur memang menjadi 
fokus dan perhatian utama. Bahkan, kata infrastruktur seperti sudah melekat 
pada citra diri pemerintahan Jokowi- JK.
 
Jokowi meyakini, sektor infrastruktur diyakini adalah pendorong utama 
pertumbuhan ekonomi Indonesia. Mengacu pada hasil studi Dana Moneter 
Internasional (2014), kenaikan investasi infrastruktur publik mampu mendongkrak 
pertumbuhan ekonomi, baik jangka pendek maupun jangka menengah. Setiap 1 persen 
kenaikan investasi infrastruktur di negara berkembang akan meningkatkan output 
sebesar 0,1 persen pada tahun tersebut, dan 0,25 persen pada empat tahun 
kemudian.
 
Berkaca dari hal itulah, pemerintah terus meningkatkan alokasi anggaran 
infrastruktur pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pada awal 
pemerintahan Jokowi-JK tahun 2014, anggaran infrastruktur tercatat baru sebesar 
Rp269,1 triliun. Empat tahun kemudian, pada 2018, anggaran infrastruktur 
mencapai Rp410 triliun. Pada APBN 2019, anggaran infrastuktur naik 2,4 persen 
lagi menjadi Rp 415 triliun.
 
Lalu, dari mana pemerintahan Jokowi  mendapatkan anggaran besar untuk sektor 
infrastruktur itu?
 
Bicara mengenai anggaran untuk infrastruktur, memori kita terlempar pada 
peristiwa lima tahun silam.  Belum genap sebulan menjabat, Presiden Jokowi 
memutuskan merilis kebijakan kontroversial. Majalah Tempo edisi 24 November 
2014 menulis bahwa Presiden, sejak rapat kabinet perdana, meminta 
menteri-menteri memangkas subsidi BBM—yang berisiko menggerus popularitasnya. 
Kebijakan itu dilandasi temuan yang menyatakan ongkos pemerintah untuk 
membiayai subsidi BBM selama ini jauh lebih besar ketimbang ongkos pembangunan 
infrastruktur. 
 
"Subsidi BBM mencapai Rp 714 triliun, sedangkan infrastruktur hanya Rp 574 
triliun dan kesehatan Rp 220 triliun. Kok, kita memberikan subsidi yang 71-72 
persen dinikmati oleh kalangan menengah ke atas?” kata Jokowi, seperti dikutip 
dari Majalah Tempo. 
 
Presiden Jokowi menyampaikan, saat itu pemerintah membutuhkan duit banyak untuk 
membangun infrastruktur. Namun kas yang dimiliki negara tak cukup kuat menopang 
kebutuhan. Sedangkan sesuai dengan rencana stregis yang  dibuat masing-masing 
kementerian, Jokowi ingin pembangunan akses, seperti tol laut, jalan tol, 
pembangunan pembangkit listrik, hingga pengembangan infrastruktur pertanian 
mencapai akselerasi.
 
Berdasarkan hitung-hitungan, dalam lima tahun masa pemerintahannya, Jokowi 
membutuhkan duit sedikitnya Rp 2.000 triliun untuk menutup kebutuhan 
infrastruktur. Duit itu bukan hanya bersumber dari perluasan cakupan wajib 
pajak. Kenaikan harga BBM subsidi pun menjadi pilihan.  
 
 Bandara New Yogyakarta International Airport atau NYIA di Kulon Progo, 
Yogyakarta. Sumber: Angkasa Pura I
 
Sejak digenjot selama lima tahun dengan mengalihkan duit subsidi energi, 
seperti apa capaian pemerintah dalam bidang infrastruktur? Yang jelas, Jokowi 
jor-joran dalam menggenjot infrastruktur konektivitas, energi, sumber daya air, 
dan telekomunikasi.
 
·         Sektor energi 
 
Berdasarkan laporan Kantor Staf Presiden, pemerintah mengklaim telah mencapai 
rasio elektrifikasi 98,9 persen hingga semester I tahun anggaran 2019. Untuk 
mencapai rasio tersebut, pemerintah menancapkan tiang pancang pembangunan 
megaproyek listrik 35 ribu watt sejak 2014.  Majalah Tempo edisi 11 Januari 
2016 menulis, proyek elektrifikasi itu dipetakan ke dalam tujuh titik. Di 
antaranya Sumatera, Kalimantan, Jawa & Bali, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, 
dan Papua. Proyek setrum dikerjakan oleh PT Pembangkit Listrik Negara atau PLN 
dan swasta. 
 
Di Sumatera, misalnya, PLN menggarap proyek elektrifikasi 1.100 megawatt. 
Sedangkan swasta kebagian jatah membangun 8.990 megawatt. Sementara itu di 
Kalimantan, PLN dibebani tugas membangun proyek listrik 900 megawatt. Adapun 
swasta kejatahan membangun 1.755 megawatt. 
 
Rasio elektrifikasi yang dicapai pada 2019 telah mendekati target yang 
ditetapkan pada 2024. Dalam lima tahun ke depan, pemerintah masih punya 
pekerjaan rumah untuk mencapai rasio elektrifikasi 99,4 persen. 
 
Kendati mencatatkan rasio elektrifikasi yang moncer, pengerjaan megaproyek 
setrum tak selamanya mendulang gula-gula. Proyek ini sempat terganjal oleh 
kasus rasuah yang mendera bekas Direktur Utama PLN, Sofyan Basir. Sofyan pada 
awal Januari lalu diciduk Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK lantaran 
terjerat suap pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap atau PLTU Riau. Kasus 
Sofyan menorehkan catatan merah di rapor pemerintah. 
 
Di sisi lain, pemerintah juga mencatatkan capaiannya untuk menyeragamkan harga 
BBM. Hingga 2019, pemerintah melalui penugasan ke PT Pertamina (Persero) telah 
sukses menetapkan BBM satu harga berlaku di 170 titik. 
 
·          Sektor telekomunikasi 
 
Menjelang akhir masa jabatannya di Kabinet Indonesia Kerja Jilid I, Jokowi dan  
sejumlah menterinya meluncurkan proyek Palapa Ring yang bertujuan memperluas 
jaringan telekomunikasi.  Palapa Ring merupakan proyek pembangunan "back bone" 
atau tulang punggung serat optik nasional, yang akan menjangkau sebanyak 34 
provinsi, 440 kota/kabupaten di seluruh Indonesia dengan total panjang kabel 
laut mencapai 35.280 kilometer, dan kabel di daratan adalah sejauh 21.807 
kilometer.
 
Tiga ruas back bone ialah Palapa Ring Barat, Palapa Ring Tengah dan Palapa Ring 
Timur. Proyek itu terdiri atas tujuh lingkar kecil serat optik di wilayah 
Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Papua, Sulawesi dan Maluku.
 
Palapa Ring Barat telah selesai pada Maret 2018, menjangkau wilayah Riau, 
Kepulauan Riau hingga Pulau Natuna dengan jaringan laut sepanjang 1.730 
kilometer dan darat 545 kilometer. Palapa Ring Tengah menjangkau 27 
kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi 
Tenggara,Maluku Utara, dan Kalimantan Timur dengan 1.706 kilometer jaringan 
laut dan 1.289 jaringan darat.
 
Palapa Ring-Timur dibangun sejauh 4.450 kilometer yang terdiri dari sub-marine 
cable sejauh 3.850 kilometer dan "land cable" sepanjang 600 kilometer dengan 
"landing point" sejumlah lima belas titik pada 21 kota/kabupaten.
 
·          Perhubungan dan Infrastruktur Jalan
 
Jokowi acap menekankan bahwa pembangunan infrastruktur di Indonesia akan 
bersifat Indonesia-sentris. Artinya, pembangunan dilakukan untuk membuka 
konektivitas wilayah-wilayah terisolasi dan mempercepat konektivitas 
antar-daerah. 
 
Berdasarkan catatan Kantor Staf Presiden, selama 5 tahun, pemerintah telah 
membangun jalan sepanjang 3.194 kilometer di wilayah perbatasan. Pembangunan 
selama 2019 dikebut sepanjang 732 kilometer untuk jalan nasional, termasuk 
jalan pelosok. Pembangunan ini bertujuan membuka daerah-daerah terisolasi dan 
menekan disparitas harga-harga kebutuhan pokok. 
 
 Foto udara yang menunjukkan kendaraan melintas di sebagian ruas jalan tol 
Medan-Binjai pada Rabu, 6 Maret 2019. PT Hutama Karya menyatakan, progres 
pembangunan jalan tol Trans Sumatera seksi I ruas Medan-Binjai sepanjang 6,7 
kilometer telah mencapai sekitar 80 persen. TEMPO/Tony Hartawan
 
Di sektor pembangunan jalan tol, pemerintah mencatat telah merampungkan 1.387 
kilometer konstruksi jalan bebas hambatan. Pembangunan tersebut sudah termasuk 
pengerjaan proyek Jalan Tol Trans Jawa yang membentang sepanjang 1.167 
kilometer. Pemerintah juga telah mencicil proyek pembangunan jalan Tol Trans 
Sumatera. Proyek paket I segmen Bakaeuheni Selatan-Bakauheni Utara sepanjang 
8,9 kilometer dan paket II dengan segmen Lematang-Kotabaru sepanjang 5 
kilometer telah terbangun pada 2018. 
 
Adapun tahun ini, pemerintah mengerjakan paket I Bakauheni-Sidomulyo sejauh 
39,9 kilometer dan paket II Sidomulyo-Kota Baru sepanjang 40 kilometer. Lantas 
paket III Kotabaru-Tengineng sepanjang 30 kilometer dan paket IV 
Tengineneng-Terbanggi Besar 33 kilometer. 
 
Di sektor perhubungan, pemerintah telah membangun 136 pelabuhan dan 15 bandara. 
Pembangunan sektor perhubungan mulai dikerjasamakan dengan badan usaha milik 
negara (BUMN) atau swasta melalui skema kerja sama dengan badan usaha atau 
KPBU. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dalam wawancara khusus bersama 
Tempo beberapa waktu lalu mengatakan skema KPBU dipilih untuk meringankan beban 
negara. 
 
Proyek yang digarap melalui skema KPBU adalah Bandara Singkawang, Bandara 
Bau-bau, Pelabuhan Gorontalo. Kemudian Bandara Labuan Bajo dan pembangunan 
kereta api di Parepare. 
 
"Pola ini dilakukan mengingat skema pembiayaan pada proyek infrastruktur dalam 
kurun 5 tahun butuh Rp 1.400 triliun. Sedangkan pemerintah paling banter hanya 
bisa membiayai Rp 400 triliun. Kalau tidak pakai KPBU, APBN tak bisa menopang,” 
tuturnya. 
 
·         Infrastruktur SDA 
 
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat sejatinya memiliki hajat 
membangun 65 bendungan hingga 2019. Keberadaan bendungan ini bertujuan untuk 
mencegah kekeringan, banjir, dan mendatangkan daya tarik wisata. Namun, dalam 
catatan kementerian, pemerintah baru mengelarkan 14 bendungan selama 2018. 
 
 Presiden Joko Widodo bersama Ibu Negara Iriana Jokowi saat mengunjungi Pulau 
Rica, di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Kamis 10 Juni 2019. 
Pulau Rinca dan Pulau Padar merupakan salah satu lokasi yang menjadi habitat 
komodo. TEMPO/Subekti.
 
Sedangkan pada 2019, jumlah bendungan yang siap beroperasi diperkirakan hanya 
15. Itu berarti, pemerintah masih memiliki pekerjaan rumah untuk menyelesaikan 
36 bendungan. Kementerian PUPR menargetkan, pembangunan seluruh bendungan akan 
terlaksana pada 2022. 
 
Selain bendungan, pemerintah telah membangun sejumlah embung. Kantor Staf 
Presiden mencatat, sepanjang 2015 hingga 2019, Kementerian PUPR telah 
merealisasikan pembangunan 1.062 unit embung. Kemudian, Kementerian Pertanian 
membangun 4.343 embung. Di sisi lain, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah 
Tertinggal dan Transmigrasi membangun 325 bendungan. 
 
Untuk pengairan atau irigasi, Kementerian PUPR mencatat telah membangun 
jaringan baru di 1 juta hektare tanah. Kementerian juga merehabilitasi jaringan 
irigasi di 3,02 juta hektare. Sedangkan Kementerian Pertanian membangun 
jaringan irigasi tersier di lahan seluas 3,21 juta hektare. 
 
Di tengah gencarnya pembangunan infrastruktur di masa pemerintahan Jokowi, 
peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry 
Satrio Nugroho mengingatkan agar  perencanaan pembangunan infrastruktur ke 
depan diperhitungkan dengan matang. Tujuannya agar tidak menimbulkan kerugian 
dari proyek yang dikerjakan. Ia mencontohkan, salah satu pembangunan 
infrastruktur yang kurang memberikan keuntungan optimal adalah Bandara 
Kertajati di Majalengka, Jawa Barat.
 
"Memang alasannya karena kebutuhan. Tapi kalau pembangunan infrastruktur tanpa 
perencanaan, kami menilai ini akan menjadi bencana ke depan," katanya di 
Jakarta, Jumat, 27 September 2019.
 
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Thomas Trikasih Lembong mengklaim, 
selama 5 tahun Jokowi-JK memimpin Indonesia, mereka  sudah meletakkan fondasi 
untuk mendongkrak daya saing Indonesia. Salah satunya pada pembangunan 
infrastruktur.  "Peringkat daya saing infrastruktur kita ada di 72 dari 141 
negara, bayangkan kalau pemerintah tidak membangun infrastruktur dari awal, 
seberapa jauh kita merosot," ujar Lembong.
 
Adapun Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Darmin Nasution mengatakan, 
selama lima tahun belakangan pemerintah sudah membangun infrastruktur 
besar-besaran, mulai dari jalan, pelabuhan laut, bandara, waduk, hingga Palapa 
Ring. Pembangunan infrastruktur tersebut disebut membawa banyak keuntungan bagi 
 Indonesia, misalnya membuka konektivitas dan melancarkan kegiatan ekonomi. Ia 
menyebut infrastruktur dibangun dengan pertimbangan jangka panjang.. 
 
 Ilustrasi Palapa Ring (BAKTI)
 
Menurut Darmin pembangunan dari backbone ke sentra industri sudah dilakukan di 
beberapa daerah, misalnya Jawa Timur. Selanjutnya, pembangunan akan dilakukan 
di Jawa Tengah dan wilayah lainnya. Ia mengatakan terhubungnya jalur utama ke 
jaringan industri bisa menjadi modal bagi perekonomian Indonesia.
 
Karena itu, agar pemangkasan subsidi sejak 2014 itu benar-benar dirasakan 
dampaknya oleh masyarakat luas, Darmin berharap pemerintah tetap membangun 
infrastruktur pada periode kedua pemerintahan Presiden Jokowi. Catatannya, tak 
seperti masa 5 tahun Jokowi sebelumnya, kini pembangunan itu tidak lagi 
berfokus kepada infrastruktur backbone. "Kami memaksimalkan pembangunan dengan 
menyambungkan backbonedengan kawasan industri, sentra ekonomi, industri rakyat, 
kawasan ekonomi khusus, hingga kawasan pariwisata," ujar Darmin di Ballroom 
Ritz Carlton, Jakarta, Selasa, 15 Oktober 2019.
 
FRANCISCA CHRISTY ROSANA | CAESAR AKBAR | MAJALAH TEMPO | ANTARA
 
 
    

Kirim email ke