https://voffice.co.id/jakarta-virtual-office/business-tips/biografi-bahlil-lahadalia-dari-sopir-angkot-menjadi-pengusaha-sukses/

ENTREPRENEUR
<https://voffice.co.id/jakarta-virtual-office/business-tips/category/entrepreneur/>
Biografi Bahlil Lahadalia – dari Sopir Angkot menjadi Pengusaha Sukses
[image: Biografi Bahlil Lahadalia]
<https://voffice.co.id/jakarta-virtual-office/business-tips/wp-content/uploads/2018/11/bahlil.jpg>
FacebookTwitterLinkedInWhatsApp

Berasal dari keluarga miskin tak serta-merta membuat Bahlil Lahadalia
menyerah terhadap hidup. Bahlil yang benar-benar mengawali karir dari titik
nol kini telah menjadi seorang pengusaha sukses.

Pria asal Fakfak Papua ini, pernah menjalani berbagai profesi untuk
bertahan hidup sebelum menjadi sukses seperti sekarang. Mulai dari tukang
kue semasa kecil, seorang kondektur, hinga menjadi sopir angkot pun dia
jalani.

Dengan kerja keras yang dijalani semasa hidupnya, pria kelahiran 1976 ini
kemudian bisa sukses hingga menjadi Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda
Indonesia (HIPMI), yang selama ini dianggap jadi ‘perkumpulan’ anak-anak
pengusaha dan pejabat.

Ada banyak cerita menarik yang pernah dijalani Bahlil sebelum menjadi
sukses seperti sekarang. Bahkan karena saking miskinnya, Bahlil pun pernah
juga merasakan sakit busung lapar.

Berikut wawancara bahlil dengan detik.com :
*Bisa Anda ceritakan bagaimana awal mula jadi pebisnis?*

Kalau ditanya awal mula jadi pengusaha itu, mungkin saya itu dari kecil ya,
dari kecil sejak SD saya itu memang sudah jualan kue ya. Itu terjadi bukan
karena ingin, saya juga dulu nggak ingin jadi pengusaha. Tapi karena itu
keterpaksaan. Karena memang keluarga saya itu, mamah saya itu kan laundry
di rumah orang, pembantu rumah tangga. Bapak saya itu buruh bangunan,
gajinya Rp 7.500/hari.

Jadi kami 8 orang (keluarga) kan, (awalnya) 9, terus satu meninggal, saya
anak kedua. Jadi memang sejak SD itu kalau saya mau sekolah, harus cari
duit. Jadi saya menjual kue, menjaja kue dari apa yang mamah saya buat, itu
adalah bentuk keharusan, yang saya harus lakukan dalam rangka
mempertahankan eksistensi hidup. Kalau nggak, saya nggak bisa bantu mamah
saya, adik-adik saya banyak.

Dan dari situ lah kemudian saya bisa beli buku, bisa beli sepatu, bisa beli
kelereng. Itu berlanjut terus sampai dengan SMP, saya SMP pun, karena
memang kondisi orang tua yang susah, akhirnya saya pernah jadi kondektur
angkot. Jadi jualan ikan di pasar, itu pernah. Terus pernah jadi helper
excavator dari kontraktor, itu pernah. Tinggal di hutan pada saat musim
libur sekolah. Saya SMP kelas 3, saya di SMEA, itu jadi sopir angkot.
*Itu saat Anda masih di Papua?*

Masih di Papua. Jadi bagi saya, sekolah sambil cari duit itu adalah sebuah
keharusan, keterpaksaan dalam rangka melanjutkan hidup, melanjutkan
sekolah, dan sekaligus membantu orang tua saya.

Saya kuliah pun begitu, jadi saya waktu berangkat kuliah itu orang tua
nggak pernah tahu, bahwa saya itu kuliah. Karena saya itu hanya berangkat
dan bawa ijazah, baju saya cuma tiga, kemudian modal saya cuma SIM, dan
kantong kresek, saya naik Perintis, dari Fakfak ke Jayapura. Itu dua minggu
baru tiba ke Jayapura, naik Perintis kan. Campur dengan kambing-kambing di
situ, apa namanya, kayu, keladi, sudah campur, Kapal Perintis itu.

Jadi memang, waktu itu berangkat karena melihat teman-teman seangkatan saya
pergi kuliah, dan saya tidak tahu harus kemana masa hidup di terminal
terus, (maka) mencoba lah berangkat ke Jayapura.
*Orang tua tahu Anda pergi ke Jayapura?*

Orang tahu kalau saya berangkat ke Jayapura, tapi tidak tahu saya berangkat
kuliah, kan ‘kamu dapat duit dari mana’. Saya berangkat kuliah itu kan,
saya cuma bawa ijazah saya saja, saya berangkat ke Jayapura, sama almarhum
ayah saya. Ngapain kamu di Jayapura? ‘udalah cari nasib saja’. Berangkat
saya.
*Lantas apa yang dilakukan waktu di Jayapura?*

Waktu saya berangkat kuliah di Jayapura, itu saya tinggal di asrama. Waktu
itu tidak ada lagi kampus yang menerima saya, tapi saat saya tinggal di
asrama itu, kan asrama mahasiswa, ketua asrama saya dulu itu sekarang jadi
Wakil Gubernur Papua Barat.

Jadi pada saat berangkat, saya tinggal di asrama karena nggak punya
keluarga, karena di situ semua kuliah, jadi bingung saya. Terus wakil
gubernur itu bilang sama saya, ‘kau harus kuliah’ saya udah mau kuliah,
tapi bagaimana nggak punya duit. ‘Sudah kuliah saja, ayo kita daftar’.
(Lalu) saya daftar di swasta.

Jadi pagi-pagi saya daftar, jam 5 subuh, asrama kami itu dekat dengan
pasar, jadi saya tukang dorong gerobak. Jadi, kan dari pasar ke tengah
jalan, ke pasar itu kurang lebih 70-100 meter, mau tidak mau orang belanja
kan harus tenteng tuh belajaannya sampai di pinggir jalan besar sampai dia
naik angkot. Nah saya bagian memfasilitasi itu, saya masih ingat itu Rp 200
perak, saya masih ingat itu.

Jadi dari situ lah saya cari duit untuk kuliah. dari situ saya cari duit
untuk kuliah, karena jual koran juga saya.
*Anda tidak malu sama teman-teman?*

Malu sih ada ya, nggak mungkin nggak ya. Tapi pertanyaan berikut adalah,
you malu karena kerja ini atau you mati, atau you maling. Saya mencoba
sebagai orang dewasa, sudah tamat SMA, sudah tahu cewe lah, rasa malu ada
tapi saya mencoba menyembunyikan itu. Dan tidak untu memperlihatkan. Yang
penting niat saya waktu itu adalah, sudah deh saya kuliah. Tapi memang
sejak SMP saya sudah nakal, di terminal mana ada orang nggak nakal.
Terminal itu kan tempat berkumpulnya anak-anak nakal di situ.

Jadi berkelahi, miras itu saya sudah tahu sejak SMP kelas satu. Nah karena
itu mungkin waktu saya kuliah di Jayapura, masuk kuliah daftar, ya sambil
kuliah, maksudnya jadi aktivis. Saya semester tiga sudah jadi ketua senat.
Jadi saya dipenjara beberapa kali, demo tahun 98, tahun 97 itu kan. Tapi
dipenjara bukan karena maling, atau perkosaan orang, bukan. Sebagai ketua
senat, memimpin pergerakan memang. Waktu itu saya eks66, waktu di Papua,
kami adalah pelakunya.

Semester 5 saya ketua senat, setelah itu semester 6 saya mulai berpikir
bahwa saya harus menghentikan kemiskinan ini. Waktu itu tekad saya
mengatakan begini, harus setop dengan kemiskinan, kemiskinan ini paling
tidak baik.
*Waktu itu nasibnya belum sebaik sekarang?*

Tinggal di asrama itu, makannya itu makan apa coba? saya nggak pernah dapat
kiriman dari orang tua. Jadi belanjanya itu kalau dapat duit beli beras,
kita makannya itu setengah nasi, setengah bubur. Kenapa? supaya dapat
banyak. Kalau beras sudah habis, itu kami sarapan pagi pakai mangga, mangga
buah, mangga muda yang jatuh di samping asrama, itu yang saya makan.
Makanya saya pernah sakit busung lapar, ini nggak pernah media tahu.

Saya pernah busung lapar, semester 6 saya busung lapar. Asli busung lapar.
Jadi penderitaan yang bener-bener paling menderita itu saya rasain. Nah,
pada saat itu ketika saya sakit, saya mengatakan begini, saya harus
berhenti dengan kemiskinan, dan caranya satu-satunya adalah dengan jadi
pengusaha.
*Itu belum lulus kuliah?*

Belum. Masih masuk polisi, keluar polisi (penjara-Red). Masih pegang
spanduk, keluar spanduk. Masih di atas mobil mimbar, tapi gagah dulu ya
kan. Ketua senat gitu kan, jadi ya cewe-cewe suka, mulai suka itu di saat
saya jadi ketua senat, kira-kira begitu. Waktu itu di tahun 97-98 itu.

Saya kemudian, mulai dari situ semester 6 mulai berpikir saya harus menjadi
seorang pengusaha. Di situlah saya mulai belajar. Saya pernah jadi pegawai
asuransi.
*Awal mula jadi pengusaha Anda jadi pegawai asuransi?*

Iya saya pernah pegang asuransi, pernah pegang Sucofindo pegawai kontrakan.
Kemudian ketika saya selesai kuliah tahun 2002, kuliah saya lama banget 7
tahun, harusnya orang sudah selesai S2 bahkan S3, tapi saya waktu itu kan 7
tahun.

Kemudian waktu selesai kuliah, saya membangun satu perusahaan dengan
teman-teman di Jakarta. Itu konsultan keuangan, IT. Saya waktu itu ditunjuk
sebagai karyawan dan menjadi direktur wilayah di sana.
*Direktur wilayah di mana?*

Di Papua. Saat itu saya belum menikah. Usia saya 25 tahun. Itu lah pertama
saya pegang uang gede itu di situ.
*Berapa gaji pertama yang didapat?*

Gaji saya waktu itu Rp 35 juta. Karyawan saya hampir 70 orang, dan
rata-rata karyawan saya itu adalah orang keuangan, ada yang tamatan UGM,
ada yang tamatan yang di IT, juga tamatan Jerman, tapi karena peta
lapangannya saya yang kuasai, jadi saya yang ditunjuk oleh teman-teman di
Jakarta untuk menjadi pimpinan cabang di sana.
*Konsultan apa?*

konsultan keuangan.
*Ilmu soal keuangan itu Anda dapat dari mana?*

Saya memang kuliahnya di keuangan. Saya keuangan, tapi memang sebenarnya
menjadi pemimpin itu kan ilmunya tidak hanya pada konteks profesional, tapi
lebih *leadership*. Dan ilmu itu saya dapat dari organisasi. Mengatur
orang, memaksa orang, mem-*pressure* orang, bagian ilmu yang tidak didapat
di kampus, dan hanya di organisasi. Negosiasi, salah dibilang salah. Orang
lain benar kita bilang salah supaya ikut kita.

Itu kan bagian mendoktrin orang untuk bagaimana dia bisa berpikir sama kaya
kita, karena hakekat kepemimpinan itu adalah bagaimana orang bisa mengikuti
kita, dan orang bisa mewujudkan apa yang menjadi mimpi dari tujuan kita.
Itulah sebenarnya esensi daripada seorang pemimpin.

Kemudian saya di situ satu tahun saja saya jadi karyawan, kemudian saya
mundur dari perusahaan. Tapi konsep itu saya yang buat, bagaimana
perusahaan ini berjalan segala macam, dan satu tahun itu saya bisa
memberikan profit kepada perusahaan waktu itu Rp 10 miliar lebih. Itu
profit, bukan omzet. Setelah itu saya mengundurkan diri.

Dan waktu saya mulai konsep perusahaan itu pakai motor ojek. Motor ojek,
dan saya menyebut waktu itu sekretariat berjalan. Karena apa? di dalam tas
saya itu kertas cap dengan kertas kop surat, saya ketiknya di rental,
warnet.
*Belum punya kantor sendiri?*

Belum punya kantor. Karena waktu itu kan perusahaan mau dibangun apabila
ada konsep. Saya ditunjuk waktu itu untuk jadi direktur kebetulan di
perusahaan tersebut, karena perusahaan baru dibangun, dan ide dasarnya dari
saya. Dan untuk punya ide, punya proposal FS-nya itu, saya sendiri buat
dengan cara, ya mulai dari 0. Konsepnya diterima, setelah itu baru diajuin.
Punya duit. Satu tahun dua bulan kalau nggak salah saya bekerja di
perusahaan, saya berhenti.
*Kenapa berhenti? Bosan?*

Waktu itu tidak bosan sebenarnya, waktu itu saya hanya ingin suasana baru.
Karena dari tidak punya duit, tiba-tiba gaji Rp 35 juta di tahun itu, saya
anggap sudah besar, sudah dikasih rumah, dikasih mobil, istilahnya dari
sepatu miring, kaya agak sedikit setengah manusia.

Jadi kehidupan saya itu kan dulunya agak monyet gitu ya, agak sepatu miring
istilah saya itu. Dan saya tidak malu untuk mengatakan itu, saya tidak
malu. Saya mengatakan bahwa di usia saya dari 0 sampai 26 tahun itu hidup
saya setengah manusia, bukan manusia seutuhnya. Hidup susah sekali. Umur 26
mendekati 27 baru mendekati kemanusiaan. Umur 29 baru manusia seutuhnya.

Saya mundur dari perusahaan itu, kemudian saya memberikan perusahaan pada
teman-teman mereka yang lanjutkan. Saya mencoba untuk membangun perusahaan
yang lain lagi, yang tidak di bidang yang saya bangun itu.
*Sama sekali tidak di bidang itu?*

Tidak. Kenapa? karena kalau saya kerja pada di bidang yang sama itu saya
tidak punya etika. Dan saya tidak menghargai komitmen persahabatan dan
persaudaraan kepada teman-teman yang telah saya bangun.

Jadi saya membangun perusahaan lain yang bergerak tidak di bidang IT dan
konsultan keuangan. Kemudian, teman-teman saya waktu itu bilang kenapa,
tawaran segala macam, (saya jawab) ‘Nggak bro, saya kan harus juga
berkembang’ saya terimakasih teman-teman lah yang mengajari saya, dan
memberikan perasaan manusiawi. Karena saya belum pernah pegang uang Rp 35
juta dalam satu bulan.
*Umur berapa digaji Rp 35 juta itu?*

25 tahun, menjelang 26 tahun. Beres kuliah lah. Saya dikasih dividen waktu
itu, dikasih penghargaan uang, saya masih ingat itu Rp 600 juta, karena
saya bisa menghasilkan profit Rp 10 miliar lebih kan. Saya dikasih uang Rp
600 juta, itu saya pakai buat modal.
*Untuk mendirikan perusahaan baru?*

Ada salah satu perusahaan tapi saya nggak bisa sebut namanya.
*Di bidang apa?*

Saya waktu itu di bidang *trading* kayu. Jadi kayu kemudian apa saja.
Prinsip saya waktu itu apapun yang bisa dihasilkan uang yang penting halal
kita lakukan. Setan pun kalau bisa dijadikan uang, saya jadikan uang.
Selama itu halal, selama itu tidak melanggar UU, selama itu tidak merugikan
orang. Jadi waktu itu pikiran saya adalah apapun yang bisa kita hasilkan
uang yang penting halal, kita lakukan. Tapi *core*-nya waktu itu adalah
main di *trading* kayu.

Sama karena ada beberapa teman-teman yang merupakan pejabat, kemudian masih
diberikan ruang kesempatan untuk mengerjakan pekerjaan di sektor
pemerintah. Sampai di situ.
*Jadi Anda jadi pengusaha itu karena nasib atau nasab?*

Pikiran by nasab ini ketika saya saya ingin menjadi ketua umum Hipmi. Jadi
by nasab itu adalah usaha, yang menjalankan usaha keluarganya sudah
generasi kedua, generasi ketiga. Itu by nasab.

Kalau by nasib itu ya seperti saya, generasi pertama yang berjuang. Kalau
nasib baik jadi manusia, kalau tidak baik jadi monyet. Yang kita butuhkan
ke depan itu adalah by desain. By desain itu adalah gabungan by nasab dan
by nasib, dan harus berbasis akademi. Karena kompetisi di dunia
enterpreuner sekarang ini tidak bisa masuk ke konsep, tapi harus
betul-betul dirancang secara dini, desain secara dini, untuk kemudian kita
mampu melakukan sesuatu yang lebih baik, yang pada akhirnya kemudian kita
bisa berkompetisi dengan negara lain.

Kompetisi negara sekarang ini bukan lagi antara sesama provinsi, tapi sudah
negara ke negara. Itu sebenarnya pikirannya, tapi sebelum ke situ ya
setelah saya dari Jayapura dan segala macam. Iya waktu saya mulai bosan itu
sempat jatuh.

Saya waktu itu punya karyawan 4 orang, kita pikir gampang, itu ternyata
nggak gampang juga itu jadi di bidang yang saya sudah kuasai di awal
tiba-tiba pindah di bidang lain itu dari 0 lagi. Jadi monyet juga Bro, dari
mobil tadi kita punya sampai saya kasih lagi kembali ke perusahaan,
akhirnya terpaksa saya naik ojek lagi. Pertama kontrak, sewa, uang habis
naik ojek lagi kita, sekretariat berjalan lagi, bikin lagi.
*Kenapa Anda tinggalkan gaji besar saat umur masih muda?*

Banyak teman-teman yang bilang saya gila, hidup saya sudah aman nyaman, kok
bisa mengambil risiko yang pada akhirnya monyet lagi, itu kan teman teman
kuliah saya bekerja sebagai hina saya. Dan teman-temanku yang mengatakan
saya gila, termasuk istri saya sekarang. Dulu itu hampir putus gara-gara
saya jadi gembel lagi. Jadi harusnya gaji saya Rp 35 juta, buat dia
ekspektasinya sudah cukup begitu loh, hidup mewah nggak, menderita nggak,
cukup.

Tapi saya lebih memilih untuk tidak lanjutkan, di situ hampir saya tidak
jadi menikah sama dia. Hampir itu, karena jadi monyet gitu kan. Tapi itu
semua pilihan hidup menurut saya dan setiap hidup itu harus berani
mengambil keputusan, kita tidak bisa masuk dalam bayangan yang tidak
nyaman, saya ambil keputusan tapi itu kembali ya recovery saya itu hampir
satu tahun. *Recovery* terus 1 bisnis goal. nah sudah mulai kerja enak di
situ tapi ya dihina orang juga. Kesuksesan itu tidak ada yang dicapai
dengan cara yang mudah, terkecuali yang orang sudah punya.
*Di umur berapa atau fase yang mana saat Anda merasa sudah sukses?*

Kesuksesan itu relatif, dan saya tidak pernah merasa sukses. Biarlah orang
yang menilai, tapi saya selalu punya prinsip hidup itu, belajar, belajar,
dan belajar, serta kerja dan harus sukses. Jadi kerja keras, kerja cerdas,
dan kerja Ikhlas, itu orientasi sama dengan ibadah.

Kalau kita kalau kita bekerja ikhlas, itu kalau kita tidak dapat profit di
dunia, kalau ikhlas dan bermanfaat untuk orang, InsyaAllah profit kita akan
diterima di akhirat sebagai bentuk amal ibadah. Dan menurut saya juga
ukuran kesuksesan ini sebenarnya relatif. Ada orang yang mengatakan bahwa
duit banyak itu sukses, kalau saya mengatakan tidak.

Bagi saya duit itu bukan tujuan hidup, itu bagi saya ya. Orang semua butuh
duit, tapi duit bukan tujuan hidup, duit adalah fasilitas hidup. saya
sebagai orang muslim tujuan hidup saya adalah harus bisa berguna bagi orang
lain rakyat bangsa negara dan saya bisa menjalankan apa yang menjadi
perintah Allah yang pada akhirnya kemudian suatu saat saya akan
pertanggungjawabkan.

Jadi kalau ditanya sukses, ya bingung, apa suksesnya itu, karena saya nggak
punya duit dengan punya duit bedanya apa ya. Bedanya dulu kalau saya makan
susah, kalau sekarang nggak, dulu jalan kaki tahun 99, kan saya jalan kaki
semua ini di Jalan Diponegoro sampai ke Gambir itu jalan kaki, dulu gembel
pokoknya. Saya kan di Jakarta dulu tidur di mushola gembel kita dulu kan.
Saya Pakai baju saja dulu Rp 50 ribu, sekarang mungkin karena tuntutan jadi
agak sedikit baik.

Tapi nggak ada juga perasaan kalau punya ini harus merasa lebih, bagi saya
semua orang itu sama saja, yang membedakan itu di mata Allah.
*Sampai sekarang Anda sudah banyak perusahaan, titik baliknya itu
sebenarnya di mana?*

Pada saat keluar kerjaan. Kemudian saya buat perusahaan, perusahaan itu
pernah menurun, kemudian saya bangkit. Bangkit itu Alhamdulillah mulai dari
situ. Itu tahun 2004 belum terlalu lama.
*Sekarang sudah ada berapa perusahaan?*

Ya rahasia perusahaan lah. Ada beberapa lah, besar juga nggak, kecil juga
nggak, jadi sedang-sedang saja. Saya suka sedang-sedang saja.
*Anda dirikan sendiri itu ya?*

Hampir semua.
*Semua basis di Jakarta atau ada yang di Papua?*

Di beberapa tempat, ada di Papua, ada di Sulawesi, ada di Maluku, ada di
sini (Jakarta), ada beberapa tempat.
*Dari semua yang Anda capai, kira-kira pelajaran apa yang didapat?*

Begini, pelajaran yang paling Hikmah itu adalah jangan pernah menganggap
remeh orang lain yang posisinya di bawah. Karena nasib orang itu nggak ada
yang tahu, roda itu berputar. Artinya apa? kalau kita ketemu dengan
pejabat, ketemu dengan orang yang punya uang, jangan juga kita menganggap
melebihi dari Tuhan. Mereka itu biasa saja.

Tapi jangan juga hari ini kalau kita lihat orang belum berhasil, orang
kecil, jangan juga hina mereka. Jadi kesahajaan menurut saya ya,
perlakukanlah manusia yang lain itu sama dengan anda memperlakukan dirimu,
karena kita tidak bisa menebak hari ini orang yang belum punya apa-apa itu
selamanya.

Saya ini menurut saya manusia yang bersyukur kepada Allah. Saya tuh dulu
dihina, jadi saya dulu itu juga nggak pernah terpikir suatu saat ini jadi
Ketua Umum Hipmi. Nggak pernah terpikir suatu saat bisa jalan sama menteri,
bisa jalan sama presiden, nggak pernah terbayang. Karena itu saya syukuri
saja. Dan ukuran kecukupan dan kesuksesan itu kan tergantung dari orang itu
mempunyai standar masing-masing. Dan dari kacamata mana dia melihat.

Dan saya melihat orang, bukan dari apa yang dia miliki sekarang, dalam
konteks materi duniawi. Tapi saya mengagumi orang, dari apa yang
dipikirkan, dan apa yang dia lakukan, serta apa karyanya untuk bangsa dan
negara. Itu jauh saya lebih menghargai orang itu ketimbang dia harus
memamerkan apa yang dia punya dalam konteks harta. Karena kita ini semua
itu titipan Allah. Jangankan harta kita, diri kita saja milik dia.

Jadi ya kalau ketemu sama orang juga jangan merasa rendah kalau ketemu sama
orang hebat. Tapi kalau ketemu dengan orang yang rendah jangan juga merasa
diri tinggi. Pelajaran itu yang menurut saya paling terima.
*Siapa orang paling berjasa bagi Anda?*

Mamah dan bapak saya. Kerja keras saya itu, saya terinspirasi dari ayah
saya. Ayah saya itu seorang buruh bangunan, dia mampu menyekolahkan anaknya
8 orang, dan semua sarjana. Gaji Rp 7.500 per hari, tapi dia bisa
memberikan makan untuk semua anaknya. Dia kerja, sakit pun dia kerja.

Dia kerja tidak pernah mengeluh, begitupun mamah saya. Jadi rasa tanggung
jawab untuk kerja keras menghidupi anak-anaknya, itu tinggi sekali. Dan
cara itu yang kemudian saya adopsi dalam bekerja. Saya akan selalu kerja
keras, karena kalau saya sendiri yang sudah sekolah, kemudian punya *fighting
spirit*, kurang dari apa yang bapak saya lakukan, itu artinya ayah saya
tidak berhasil dalam membina. Tapi kita bisa melakukan hal-hal yang minimal
sama dengan ayah saya dalam konteks berjuang, maka ayah saya tidak gagal
dalam melahirkan dan membina kami.

Bagi saya yang berjasa paling besar, ya mamah bapak saya. Yang selalu tidak
henti-hentinya mengajari kami pada hal-hal yang ringan tapi prinsip.
Contoh, sedikit punya kita, jauh lebih baik itu punya kita daripada
mengambil hak orang. Satu lagi prinsip, bayarlah upah orang, sebelum
keringatnya kering. Itu bapak saya, karena bapak saya pernah merasakan
gajinya terlambat tiga hari, dan kami hampir tidak makan, kan begitu. Jadi
kenapa bapak saya ngomong, karena dia pernah merasakan itu.
*Saat sukses, orang tua Anda tahu?*

Bapak saya sudah meninggal, jadi waktu bapak saya meninggal itu 2003. Bapak
belum sempat melihat saya bisa melakukan hal sifatnya mencukupi standar.
Saya masih karyawan waktu itu. Mama saya Alhamdulillah masih ada.

Sumber : detik.com

Link        :
https://finance.detik.com/wawancara-khusus/d-3987205/bahlil-mantan-sopir-angkot-yang-jadi-pengusaha-sukses/

Kirim email ke