----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: Sunny ambon [email protected] 
[nasional-list] <[email protected]>Terkirim: Minggu, 27 Oktober 
2019 19.31.28 GMT+1Judul: [nasional-list] ProtesLonjakan Harga Tiket, Warga 
Bikin ‘Paspor’ Maluku
     

 
Jangan telalu berharap, karena kalau harap-harap biasa  terus-terus tiarap. !!

https://tabaos.id/protes-lonjakan-harga-tiket-warga-bikin-paspor-maluku/




ProtesLonjakan Harga Tiket, Warga Bikin ‘Paspor’ Maluku

TABAOS.ID,-Berbagai cara ditunjukan warga untuk merespon lonjakan harga 
tiketpenerbangan akhir-akhir ini. Begitu pula dengan warga Maluku, yangmelihat 
fenomena ini sebagai bentuk ketidakadilan.

“Initidak adil, lihat saja, ongkos perjalanan dari Ambon – Jakarta saatini 
hampir sama dengan dari Jakarta – Amsterdam, sehingga orangMaluku yang mau ada 
keperluan ke Jawa sudah sama seperti pergi keluar negeri. Kasihan mereka yang 
butuh transportasi cepat”, jelasDirektur Beta Kreatif, Ikhsan Tualeka

Menurutnya,kenyataan yang tidak menguntungkan ini sudah berlangsung dua 
bulan,kenaikan harga tiket hingga 4x lipat dari harga normal. Bahkan wargadari 
Aceh ramai-ramai bikin Paspor untuk lebih dulu ke Kuala Lumpur,Malaysia baru 
kemudian melanjutkan perjalanan ke wilayah lain diIndonesia. Meraka cari cara 
dan alternatif yang kreatif.

Sementaradari Maluku tidak bisa bikin cara yang sama dengan Aceh, karena takada 
akses penerbangan langsung ke negara lain untuk sekedar transit.“Untuk itu 
sebagai bentuk kritik, Beta Kreatif meluncurkan ‘Paspor’Maluku. Paspor ini 
sebagai bentuk pertanyaan kritis, apakah Malukumasih di NKRI? Kalau iya, 
mengapa masih banyak ketidakadilan. Inibentuk satire simbolik dan kritik 
kreatif”, tegas Ikhsan.

Saatditemui tabaos.id diPelabuhan Yos Sudraso Ambon, Ikhsan menyatakan 
kegusaran, dan menilaiini akibat Negara dikelola dengan perspektif orang-orang 
yang tinggaldi Jawa, di daerah daratan luas, yang kerap tidak mengerti dan 
tidakmerasakan kesulitan orang-orang yang tinggal di wilayah kepulauanseperti 
kita di Maluku ini.

“Hargatiket ini bukan hanya soal bisnis, tapi soal keadilan, disitulahbutuh 
campur tangan pemerintah atau negara, butuh tindakan afirmatif.Coba lihat, 
orang mau berobat, mau melayat, mau urus surat-surat ataudokumen lainnya, jadi 
terkendala soal ini,” tegas Ikhsan.

BacaJuga  UntukApa Paspor Kedutaan Besar Maluku?

Sementaradi Jawa menurut Ikhsan, ada alternatif transportasi lain 
untukbepergian. Ada mobil lewat tol, ada kereta yang nyaman, karena semuaakses 
terhubung lewat daratan.

Iamembandingkan dengan di Kepulauan Maluku misalanya, masyarakat yangdari Kei, 
Saumlaki, Wetar, Aru, Leti, Moa, Lakor, Geser, Ambalau,Namrole, Namlea dan 
lainnya, untuk ke Ambon, ibu kota provinsi sajasulit, lama dan sengsara, 
apalagi kalau musim ombak.

“Kasustiket pesawat yang tak adil ini hanya ujung dari setumpukketidakadilan 
yang dirasakan Maluku selama ini. Padahal adil itusudah harus dimulai sejak 
dari pikiran. Semoga satire simbolik dankritik-kreatif yang kami muat bisa 
menyadarkan semua pemangkukewajiban untuk lebih perhatian dan peduli terhadap 
Maluku”, harapIkhsan.(T05)



    

Kirim email ke