Bikin pasport Maluku untuk bikin Malu Semua........?
Apa kapal terbang Ambon -Jkarta tidak penuh, sebagian besar kosong,
Kok ticketnya semahal Jakarta - Amsterdam. Jakarta- Amsterdam murah karena
kapal terbangnya praktis penuh.

Pada tanggal Sen, 28 Okt 2019 pukul 22.51 Chalik Hamid
[email protected] [GELORA45] <[email protected]> menulis:

>
>
>
>
> ----- Pesan yang Diteruskan -----
> *Dari:* Sunny ambon [email protected] [nasional-list] <
> [email protected]>
> *Terkirim:* Minggu, 27 Oktober 2019 19.31.28 GMT+1
> *Judul:* [nasional-list] ProtesLonjakan Harga Tiket, Warga Bikin ‘Paspor’
> Maluku
>
>
>
> Jangan telalu berharap, karena kalau harap-harap biasa  terus-terus
> tiarap. !!
>
> https://tabaos.id/protes-lonjakan-harga-tiket-warga-bikin-paspor-maluku/
>
>
> Protes Lonjakan Harga Tiket, Warga Bikin ‘Paspor’ Maluku
>
> *
> <https://i0.wp.com/tabaos.id/wp-content/uploads/WhatsApp-Image-2019-01-15-at-19.01.40.jpeg?fit=1280%2C960&ssl=1>**TABAOS.ID
> <http://TABAOS.ID>*,- Berbagai cara ditunjukan warga untuk merespon
> lonjakan harga tiket penerbangan akhir-akhir ini. Begitu pula dengan warga
> Maluku, yang melihat fenomena ini sebagai bentuk ketidakadilan.
>
> “Ini tidak adil, lihat saja, ongkos perjalanan dari Ambon – Jakarta saat
> ini hampir sama dengan dari Jakarta – Amsterdam, sehingga orang Maluku yang
> mau ada keperluan ke Jawa sudah sama seperti pergi ke luar negeri. Kasihan
> mereka yang butuh transportasi cepat”, jelas Direktur Beta Kreatif, Ikhsan
> Tualeka
>
> Menurutnya, kenyataan yang tidak menguntungkan ini sudah berlangsung dua
> bulan, kenaikan harga tiket hingga 4x lipat dari harga normal. Bahkan warga
> dari Aceh ramai-ramai bikin Paspor untuk lebih dulu ke Kuala Lumpur,
> Malaysia baru kemudian melanjutkan perjalanan ke wilayah lain di Indonesia.
> Meraka cari cara dan alternatif yang kreatif.
>
> Sementara dari Maluku tidak bisa bikin cara yang sama dengan Aceh, karena
> tak ada akses penerbangan langsung ke negara lain untuk sekedar transit.
> “Untuk itu sebagai bentuk kritik, Beta Kreatif meluncurkan ‘Paspor’ Maluku.
> Paspor ini sebagai bentuk pertanyaan kritis, apakah Maluku masih di NKRI?
> Kalau iya, mengapa masih banyak ketidakadilan. Ini bentuk satire simbolik
> dan kritik kreatif”, tegas Ikhsan.
>
> Saat ditemui *tabaos.id <http://tabaos.id>* di Pelabuhan Yos Sudraso
> Ambon, Ikhsan menyatakan kegusaran, dan menilai ini akibat Negara dikelola
> dengan perspektif orang-orang yang tinggal di Jawa, di daerah daratan luas,
> yang kerap tidak mengerti dan tidak merasakan kesulitan orang-orang yang
> tinggal di wilayah kepulauan seperti kita di Maluku ini.
>
> “Harga tiket ini bukan hanya soal bisnis, tapi soal keadilan, disitulah
> butuh campur tangan pemerintah atau negara, butuh tindakan afirmatif. Coba
> lihat, orang mau berobat, mau melayat, mau urus surat-surat atau dokumen
> lainnya, jadi terkendala soal ini,” tegas Ikhsan.
>
> *Baca Juga*  *Untuk Apa Paspor Kedutaan Besar Maluku?*
> <https://tabaos.id/untuk-apa-paspor-kedutaan-besar-maluku/>
>
> Sementara di Jawa menurut Ikhsan, ada alternatif transportasi lain untuk
> bepergian. Ada mobil lewat tol, ada kereta yang nyaman, karena semua akses
> terhubung lewat daratan.
>
> Ia membandingkan dengan di Kepulauan Maluku misalanya, masyarakat yang
> dari Kei, Saumlaki, Wetar, Aru, Leti, Moa, Lakor, Geser, Ambalau, Namrole,
> Namlea dan lainnya, untuk ke Ambon, ibu kota provinsi saja sulit, lama dan
> sengsara, apalagi kalau musim ombak.
>
> “Kasus tiket pesawat yang tak adil ini hanya ujung dari setumpuk
> ketidakadilan yang dirasakan Maluku selama ini. Padahal adil itu sudah
> harus dimulai sejak dari pikiran. Semoga satire simbolik dan kritik-kreatif
> yang kami muat bisa menyadarkan semua pemangku kewajiban untuk lebih
> perhatian dan peduli terhadap Maluku”, harap Ikhsan.*(T05)*
>
>
> 
>

Kirim email ke