Oh jadi menurut ente: 1. gak ada radikalisasi Islam di Indonesia? 2. Atau radikalisasi Islam bukan masalah di Indonesia?
Ini diluar kebenaran bahwa memang ada pola2 nekolim loh di Vietnam, Amerika Latin, Afrika, Timur-tengah / Suriah sekarang dll: dukung rezim boneka, bila perlu bentuk teroris gadungan. Moso’ ente mengabaikan radikalisasi Islam di Indonesia dengan mencari kambing hitam pola2 nekolim? Akh ente ini dasar mau nyinyir atau memang ada sesuatu diotak ente dan gak berani terang2an membela radikalisasi Islam di Indonesia? Nesare From: [email protected] <[email protected]> Sent: Sunday, October 27, 2019 10:03 PM To: [email protected] Subject: Re: [GELORA45] PolitikusPDIP: Menteri Agama dari Kalangan Militer Tidak Tepat Justru Jokowi sengaja pasang Mahfud, Fachrul, juga Tito, untuk melanjutkan order proyek intoleransi sejak 2012 dengan isu-isu radikalisme, terorisme, khilafah, dan simbol-simbol yang melulu diarahkan ke Islam dan para pengikutnya. Polanya toh nggak berbeda jauh dengan gaya nekolim di Vietnam, Amerika Latin, Afrika, Timur-tengah / Suriah sekarang dll: dukung rezim boneka, bila perlu bentuk teroris gadungan. "Namun, untuk saat ini, Erwin menilai sosok menteri agama yang ideal adalah seperti Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD." --- ilmesengero@... wrote: Apanya yang tidak tepat kala pilihan Jokowi disetujui dan direstui oleh Sang Ratu maha mulia? apakah itu tidak senang bersuka ria jika ada tentara berbewewenang yang sanggup mengantarkan umat ke surga dan taman firdausnya yang penuh dengan bidadari cantik bin molek lagi sexy siap melayani jasamaniah dan rochaniah, apakah tidak tepat? Apakah tidak tepat tentara menjadi penghentar ke surga nan fana? https://nasional.tempo.co/read/1264719/politikus-pdip-menteri-agama-dari-kalangan-militer-tidak-tepat?utm_source=Digital%20Marketing <https://nasional.tempo.co/read/1264719/politikus-pdip-menteri-agama-dari-kalangan-militer-tidak-tepat?utm_source=Digital%20Marketing&utm_medium=Partnership&utm_campaign=Dable> &utm_medium=Partnership&utm_campaign=Dable Politikus PDIP: Menteri Agama dari Kalangan Militer Tidak Tepat Reporter: Friski Riana Editor: Endri Kurniawati Sabtu, 26 Oktober 2019 13:19 WIB TEMPO.CO <http://TEMPO.CO> , Jakarta - Politikus PDI Perjuangan, Erwin Moeslimin Singajuru, menilai keputusan Presiden Joko Widodo atau Jokowi menunjuk Fachrul Razi sebagai <https://www.tempo.co/tag/menteri-agama> menteri agama tidak tepat. "Tidak terlalu tepat kalau menurut saya. Saya terus terang apa adanya," kata Erwin saat ditemui di acara diskusi Perspektif Indonesia di Jakarta, Sabtu, 26 Oktober 2019. Erwin mengatakan, posisi menteri agama sebaiknya tidak diisi oleh sosok berlatar belakang militer. Menurut dia, sosok yang tepat adalah yang berpengalaman di organisasi Majelis Ulama Indonesia atau seorang akademisi. "Banyak kan profesor-profesor dari IAIN atau UIN yang pintar-pintar yang bisa juga bekerja. Kenapa enggak dipilih?" Menteri agama dari kalangan militer, kata Erwin, bukan terjadi pertama kali.. Sebelumnya di era Presiden Soeharto, salah satu menteri agama dari militer adalah Alamsyah Ratu Perwiranegara. "Zaman Pak Harto bagus. Jadi dia (Alamsyah) punya leadership, ketegasan, karena dibutuhkan juga." Namun, untuk saat ini, Erwin menilai sosok menteri agama yang ideal adalah seperti Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD. Ia mengatakan bahwa sosok Mahfud bisa bicara soal ayat, agama, hukum, dan politik. Meski menilai tidak tepat, Erwin berharap keberadaan Fachrul Razi yang berlatar belakang militer mampu memberikan yang terbaik bagi masyarakat. Apalagi, Fachrul juga memiliki wakil menteri yang berasal dari kalangan sipil, seperti Wakil Ketua MUI Zainut Tauhid. Fachrul menjadi <https://nasional.tempo.co/read/1264658/tak-undang-menag-ke-hari-santri-nasional-nu-jatim-tidak-relevan> menteri agama dari kalangan militer pertama setelah reformasi. Adapun di Orde Baru, ada dua menteri agama yang berlatar militer. Selain Alamsyah, ada Laksamana Muda TNI purnawirawan Tarmizi Taher yang menjabat pada 1993-1998.
