Masalah Utama Indonesia Ekonomi, Bukan Radikal-Radikalan

Politik  

LAPORAN: OGI MANSYAH
SENIN, 28 OKTOBER 2019 , 06:52:00 WIB | 


 RMOLBengkulu. Pasangan Joko Widodo-Maruf Amin mengalami kesalahan
 mendasar dalam mendiagnosa masalah yang dialami negeri. Pasalnya,
 radikalisme yang terus didengung-dengungkan pemerintah bukan masalah
 utama yang sedang dihadapi Indonesia. 

Problem pengambil keputusan, kebodohan dalam mendiagnosa keadaan,
ketumpulan intervensi kebijakan, dan kelemahan implementasinya,” tegas
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon dalam akun Twitter
pribadinya, Minggu (27/10).

Mantan wakil ketua DPR itu menegaskan bahwa masalah yang dialami
Indonesia adalah masalah ekonomi, bukan radikalisme.

Fadli yang sedang berkunjung ke Aceh untuk melantik DPW dan DPD Ikatan
Keluarga Minangkabau (IKM) kemudian bercerita tentang pengalamannya
selama di provinsi paling barat Indonesia itu. Dia merasakan aliran
listrik di Aceh yang padam berkali-kali.

Bagaimana masuk Revolusi Industri 4.0? Urusan pokok sederhana seperti
listrik saja masih seperti ini,” tanyanya.

Dia kembali menekankan bahwa radikalisme bukan ancaman negara. Sebab,
pada dasarnya umat Islam yang menjadi tertuding atas isu tersebut
adalah kelompok yang moderat.

Jadi persoalan kita adalah ekonomi (daya beli, pekerjaan, kemiskinan,
harga dan lain-lain). Bukan radikal-radikalan,” pungkasnya.

Pertumbuhan ekonomi selama beberapa tahun belakangan memang mentok di 5
persen. Bahkan diprediksi tahun ini Indonesia bakal nyungsep di angka 4
persen.

Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid, DR Rizal Ramli sudah
lama memprediksi ekonomi Indonesia bakal stagnan. Dia menilai jurus
monoton yang ditunjukkan Menteri Keuangan Sri Mulyani tidak bakal ampuh
mendongkrak ekonomi Indonesia. Sebab menteri berpredikat terbaik dunia
itu hanya mengandalkan utang dan kebijakan austerity atau pengetatan
anggaran tanpa ada terobosan-terobosan.

Prediksi RR terbukti bukan sembarangan. Pasalnya, baru empat hari
dilantik menjadi menteri di Kabinet Indonesia Maju, Sri Mulyani telah
mengumumkan rencana akan menerbitkan surat utang berdenominasi valuta
asing atau global bond.

Langkah Sri Mulyani itu diambil karena Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara (APBN) 2019 mengalami defisit sementara kebutuhan negara
membengkak.

Sri Mulyani menyatakan rencana penerbitan surat utang disebabkan oleh
defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 sebesar Rp
199,1 triliun atau 1,24 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada
akhir Agustus 2019.

Defisit tersebut berasal dari belanja negara sebesar Rp 2.461,1
triliun, sementara pendapatan hanya sebesar Rp 1.189,3 triliun.
dilansir RMOL.ID. 

Kirim email ke