https://news.detik.com/kolom/d-4771363/mengembalikan-radikalisme-ke-rumah-bahasa?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.106722245.775903208.1572888285-1746334977.1572888285
Senin 04 November 2019, 14:15 WIB
Kolom
Mengembalikan Radikalisme ke Rumah
Bahasa
Denny Ardiansyah - detikNews
<https://connect.detik.com/dashboard/public/denniologie>
Denny Ardiansyah <https://connect.detik.com/dashboard/public/denniologie>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4771363/mengembalikan-radikalisme-ke-rumah-bahasa?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.106722245.775903208.1572888285-1746334977.1572888285#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4771363/mengembalikan-radikalisme-ke-rumah-bahasa?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.106722245.775903208.1572888285-1746334977.1572888285#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4771363/mengembalikan-radikalisme-ke-rumah-bahasa?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.106722245.775903208.1572888285-1746334977.1572888285#>
0 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4771363/mengembalikan-radikalisme-ke-rumah-bahasa?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.106722245.775903208.1572888285-1746334977.1572888285#>
Mengembalikan Radikalisme ke Rumah Bahasa Kamus sebagai
*Jakarta* - Radikalisme sebagai bagian dari 'keluarga besar' bahasa
telah pergi jauh dari rumahnya. Radikalisme telah membuat pusing, tidak
hanya pejabat, namun juga warga negara Indonesia. Warga negara makin
bingung dengan munculnya frasa-frasa baru yang mengikatkan diri dengan
radikalisme. Misalnya "terpapar radikalisme", "ormas radikal", dan
"radikalisme agama".
Mari kita paksa radikalisme kembali ke rumah asalnya, yakni rumah
bahasa, agar kita menemukan kejelasan sehingga tak melulu berputar dalam
kebingungan. Rumah bagi sebuah bahasa adalah kamus yang berisi kata-kata
sebagai anggota keluarga.
Radikalisme tidak akan menjadi sebuah kata tanpa adanya kata "radikal".
Radikal masuk ke dalam jenis kata sifat yang berfungsi untuk menjelaskan
taraf dari suatu tindakan. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
memberikan dua makna radikal yaitu, radikal (1) memiliki arti (1) secara
mendasar (sampai kepada hal yang prinsip), (2) amat keras menuntut
perubahan (undang-undang, pemerintahan), dan (3) maju dalam berpikir
atau bertindak.
Sedangkan arti dari radikal yang kedua adalah gugus atom yang dapat
masuk ke dalam berbagai reaksi sebagai satu kesatuan, yang bereaksi
seakan-akan satu unsur saja.
Dua dari tiga arti radikal (1) dikategorikan sebagai kata yang terkait
dengan politik, sedangkan arti dari radikal (2) sangat terang terkait
dengan kimia. KBBI tidak memberikan arti dari kata radikal yang langsung
terhubung dengan agama.
Seandainya seorang presiden berkata, "Kita harus melakukan perubahan
radikal dalam birokrasi agar pelayanan kepada publik tidak
bertele-tele," maka sang presiden sedang menggunakan arti dari kata
radikal "amat keras menuntut perubahan."
Lain waktu ada seorang anggota legislatif berbicara di televisi,
"Presiden harus secepatnya mundur dari jabatannya agar perubahan radikal
bisa terwujud di negeri ini." Nah, si legislator tersebut sedang
menggunakan semua arti dari kata radikal.
Kedua contoh kalimat itu sama-sama berafiliasi kepada politik. Namun
kalimat sang presiden tentu bikin adem masyarakat yang kerap
bermuka-muka dengan lambatnya proses birokrasi. Sedangkan kalimat si
legislator akan membingungkan khalayak karena undang-undang "di negeri
ini" yang dia maksud mengatur tentang pergantian presiden melalui
pemilihan umum.
Sebuah kata tidak pernah netral jika sudah berada di jalur komunikasi
massal. Ada relasi kuasa dan kehendak dari penuturnya. Kata telah
berdandan ketika berada di luar rumahnya. Bahkan saking menor dan
perlente, sebuah kata mampu menyembunyikan kesejatian arti. Sebagaimana
manusia, kata menjadi apa adanya jika berada di dalam rumah. Kata bebas
dari hiasan yang terbentuk dari relasi kuasa dan kehendak penutur.
"Mau ke mana, Mas?" tanya seorang istri yang heran melihat suaminya yang
bercelana pendek dengan membawa sabit dan pacul.
"Mau melakukan perubahan radikal," jawab suami sembari berjalan ke luar
rumah.
Si istri mengintip, beberapa saat kemudian, dari balik jendela ruang
tamu. Dia melihat suaminya sedang merapikan rumput di halaman rumah.
Jawaban suami kepada istri adalah bentuk dari kegenitan dalam
menggunakan kata radikal. Ya, memang benar bahwa ia sedang melakukan
perubahan di halaman rumah. Tetapi radikal tidak memiliki arti yang
terkait dengan tindakan si suami.
Kegenitan dalam berbahasa memiliki banyak tujuan. Jika penutur memahami
arti dari sebuah kata namun menggunakannya tidak sesuai tempatnya, maka
bisa saja dia sedang mencari sensasi atau bisa pula ia sedang
menyederhanakan masalah yang sebenarnya rumit ke dalam satu kata.
Mungkin juga si penutur tidak tahu arti yang sebenarnya dari suatu kata,
namun karena ia mendengar kata itu setiap hari melalui berita di
televisi maka ia mengucapkannya agar tampak keren.
Imbuhan akhiran –isme membuat kata radikal terkunci pada suatu arti yang
memang berhubungan dengan suatu aliran. KBBI mencatat radikalisme
memiliki tiga arti yaitu: (1) paham atau aliran yang radikal dalam
politik, (2) paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau
pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis, (3)
sikap ekstrem dalam aliran politik. Ketiga arti tersebut jelas mengikat
erat-erat radikalisme dengan politik.
Usai rapat terbatas dengan Presiden Joko Widodo, Menteri Mahfud MD
berkomentar, "Kita bersepakat bahwa kita bicara radikalisme bukan menuju
kelompok agama tertentu. Radikalisme ya radikalisme suatu kelompok atau
paham yang ingin mengganti dasar dan ideologi negara dengan cara melawan
aturan dan kemudian merusak cara berpikir generasi baru yang menyebabkan
anak berpikiran bernegara seperti ini, berkonstitusi seperti ini salah,"
sebagaimana ditulis *detikcom* (31/10).
Arti dari radikalisme makin melebar, berdasarkan komentar Menteri
Mahfud, yaitu ada peluang munculnya kerusakan pada cara berpikir
generasi masa depan.
Sebenarnya jika pejabat dan warga negara Indonesia pasrah mengikuti arti
kata radikalisme sesuai KBBI, maka tak perlu menyeruak resah dan
gelisah. Radikalisme, sekali lagi, benar-benar terkait erat dengan
politik perebutan kekuasaan yang menggunakan kekerasan dalam tempo yang
singkat. Jadi, sepanjang sebuah tindakan tidak menemukan titik sesuai
dengan empat indikator --terkait politik, kekuasaan, kekerasan, dan
waktu yang cepat-- maka belum memenuhi syarat untuk disematkan gelar
radikalisme.
Maka, frasa-frasa lain yang terikat dengan radikalisme akan mudah
menemukan indikator makna. "Terpapar radikalisme" jelas merujuk kepada
seseorang yang tidak mengingkari tindakan kelompok politik yang
mengusahakan berubahnya ideologi negara dengan jalan kekerasan dalam
waktu cepat. "Ormas radikal" pasti lekat dengan arti dari suatu kelompok
yang menginginkan perubahan sistem politik dengan berbagai cara,
termasuk kekerasan kalau memang perlu, dan waktu yang singkat. Sejarah
Indonesia telah mencatat banyak sekali kelompok yang layak dimasukkan ke
dalam ormas radikal.
"Radikalisme agama". Nah ini menarik. Sebagaimana saya singgung di atas,
KBBI tidak mengaitkan arti dari kata radikalisme dengan agama, tetapi
dengan politik. Maka, radikalisme agama mungkin cukup disebut
radikalisme tanpa embel-embel agama. Saya khawatir dengan penambahan
agama di belakang kata radikalisme bisa makin membuat runyam penanganan
tindakan radikalisme di republik ini. Justru saya yakin bahwa agama
memiliki peluang yang besar dan kuat sebagai modal sosial dalam
menaklukkan tindakan radikalisme.
Radikalisme harus kembali ke rumah bahasa. Kita harus memahami arti kata
ini dengan apa adanya agar kebingungan pejabat dan warga negara
Indonesia bisa selesai. Masih banyak kebingungan lain yang harus
dituntaskan, seperti kebingungan mencari pekerjaan dan lainnya.
*Denny Ardiansyah* /alumnus Program Studi Sosiologi Fisipol Universitas
Jember
/
//
*(mmu/mmu)*
*
*
*
*
*
*
*
*