-------- Forwarded Message --------
Subject: Shengji, Maulid ala Huimin di China
Date: Mon, 11 Nov 2019 12:15:56 +0800
From: ChanCT <[email protected]>
To: GELORA_In <[email protected]>
Artikel <https://www.antaranews.com/slug/artikel>
Shengji, Maulid ala Huimin di China
Oleh M. Irfan IlmieSenin, 11 November 2019 09:28 WIB
Shengji, Maulid ala Huimin di China
Sejumlah umat Islam antre makan dalam merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW
di Masjid Nandouya, Beijing, China, Sabtu (9/11) pagi. Sebelumnya mereka
membaca Alquran di masjid yang kini sudah berusia 200 tahun lebih itu.
ANTARA/M. Irfan Ilmie
Beijing (ANTARA) - Pagi itu udara tidak terlalu dingin dibandingkan
dengan dua hari sebelumnya, namun sinar mentari tak tampak juga karena
kabut tebal menyelimuti Kota Beijing.
Jalanan umum pun tidak terlalu ramai karena perkantoran dan sebagian
sekolah di Ibu Kota China itu tutup pada hari Sabtu.
Pemandangan tersebut kontras dengan suasana di dalam kompleks Masjid
Nandouya yang dibangun pada tahun 1789 Masehi. Ramai sekali pagi itu
karena sehari sebelumnya ada pengumuman di mimbar Jumat akan adanya
acara besar.
Orang-orang etnis Hui atau Huimin baru saja keluar dari bangunan utama
masjid untuk membaca beberapa ayat suci Alquran dan doa yang dipimpin
oleh seorang imam.
Selesai acara di masjid, mereka beranjak menuju salah satu ruang yang
bentuknya mirip aula.
Di sana sudah tertata beberapa meja bundar berselubung taplak putih.
Setiap meja dikelilingi beberapa kursi yang bisa menampung delapan
hingga sepuluh orang.
*Baca juga:Etnis Hui di China rayakan Maulid Nabi
<https://www.antaranews.com/berita/1155416/etnis-hui-di-china-rayakan-maulid-nabi>*
Tanpa aba-aba atau kode apa pun, orang-orang yang umumnya memakai
penutup kepala itu mencari tempat duduk sendiri-sendiri begitu memasuki
ruangan. Mereka mengelompokkan diri sesuai muhrim.
Setelah semua duduk, para pelayan mengeluarkan hidangan pagi hari itu
satu-persatu di masing-masing meja bundar.
Mulanya satu mangkuk sedang berisi sup daging sapi. Irisan daging ayam,
bakso daging sapi goreng, dan nugget ayam juga disuguhkan dalam beberapa
mangkuk berbeda. Ramai-ramai jamaah menikmati hidangan yang sudah
disajikan dengan menggunakan sumpit.
Lalu keluar roti goreng. Dan, terakhir nasi putih. Di China sudah biasa
nasi putih disajikan paling akhir setelah berbagai daging dan
sayur-sayuran di meja saji tandas lebih dulu.
Sementara di luar ruangan masih ada beberapa orang yang mengantre.
Selama masih ada orang yang belum mendapatkan "rezeki pagi" itu,
aktivitas di dapur yang persis berada di sebelah selatan bangunan utama
masjid tidak akan berhenti.
Takmir masjid juga tidak melarang kalau ada anggota jamaahnya yang
membawa pulang makanan untuk keluarganya di rumah.
Setelah semua jamaah pulang, giliran imam dan takmir masjid yang santap
pagi dengan menu yang sama.
"Kami menyebutnya dengan 'shengji'," kata Zhao Yong Qiang, salah seorang
imam Masjid Nandouya, menjelaskan tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW oleh
komunitas Huimin itu kepada Antara.
Sama dengan di Indonesia, tanggal 12 Rabi'ul Awal 1441 Hijriah yang
diperingati sebagai hari kelahiran Nabi Muhammad SAW itu jatuh pada hari
Sabtu (9/11/2019).
Orang China sudah terbiasa dengan singkatan. Shengji terdiri dari dua
suku kata "Sheng" dan "Ji". Umumnya orang Hui memanggil utusan Allah
yang terakhir itu dengan nama singkat "Musheng". Lalu diambil suku kata
terakhir untuk digabungkan dengan "Ji" yang juga kependekan dari
"jinian" yang berarti peringatan.
Menurut Zhao, hampir semua masjid di Beijing yang berjumlah 72 unit itu
memperingati "Sheng Ji" dengan doa dan makan-makan bersama anggota jamaah.
*Baca juga:Aktivis: Islam berkembang baik di China
<https://www.antaranews.com/berita/961924/aktivis-islam-berkembang-baik-di-china>*
Imam berusia 50 tahun itu menyebutkan bahwa umat Islam etnis Hui seperti
dirinya di Beijing berjumlah sekitar 2,8 juta jiwa.
Huimin atau ada juga yang menyebut Huizu merupakan salah satu dari lima
suku terbesar di daratan China.
Suku Hui juga berasal dari asimilasi keturunan suku Han (mayoritas di
China) dengan keturunan Persia dan Arab sejak era Dinasti Tang.
Secara fisik, tidak ada bedanya antara Hui dan Han. Bedanya, Hui memeluk
agama Islam dengan menjalankan syariah bergaya Konfusianisme. Lazimlah
kalau masjid-masjid China atau di makam leluhur mereka juga terdapat
satu tempat untuk meletakkan hio atau dupa berbentuk lidi sebagai
pelengkap sarana beribadah.
Hal inilah yang membedakan suku Hui dan suku Uighur, etnis beragama
Islam yang mendiami Daerah Otonomi Xinjiang di wilayah paling barat
daratan China.
Huimin persebarannya lebih merata, meskipun pusat konsentrasinya ada di
beberapa provinsi, seperti Ningxia, Gansu, Qinghai, Yunnan, dan Hainan.
"Kalau di Indonesia Maulid seperti ini pasti luar biasa ramainya," ujar
Zhao sambil menunjukkan foto-foto dirinya saat berkesempatan mengunjungi
Masjid Chengho Surabaya, Makam Sunan Ampel di Surabaya, dan Masjid
Istiqlal di Jakarta beberapa waktu lalu itu.
Umat Islam dari etnis Hui di China merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW
dengan makan-makan bersama di ruang pertemuan Masjid Nandouya, Beijing,
Sabtu (9/11) pagi. Sebelumnya mereka membaca Alquran di masjid yang kini
sudah berusia 200 tahun lebih itu. ANTARA/M. Irfan Ilmie
/*Diba'an*/
Di China, Maulid Nabi bukanlah hari libur nasional, sama dengan
hari-hari keagamaan lainnya.
Namun karena bertepatan dengan hari Sabtu yang merupakan hari libur
sekolah, maka beberapa pelajar asal Indonesia tidak melewatkan
peringatan Maulid Nabi.
Di Kota Nanjing, Provinsi Jiangsi, puluhan mahasiswa asal Indonesia
memperingatinya dengan membaca Maulid Diba'i secara bergiliran.
*Baca juga:Makam Saad, magnet Muslim China di selatan
<https://www.antaranews.com/berita/759822/makam-saad-magnet-muslim-china-di-selatan>*
"Kayak saya waktu 'mondok' dulu," kata Rasyuhdi, mahasiwa Nanjing Normal
University, mengenang ritual Maulid yang populer di Tanah Jawa itu.
Alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa
Timur, itu bersama teman-temannya membaca karya Imam Wajihuddin
Abdurrahman bin Muhammad Ad Diba'i (866-944 H) tersebut.
"Totalnya ada 70 orang. Lalu kami bagi dua kelompok, putri dan putri,"
jelasnya dengan menyebutkan bahwa kegiatan itu digelar di dua asrama
berbeda sesuai gender.
Selain di Nanjing, beberapa pelajar Indonesia lainnya di Wuhan (Provinsi
Hubei), Xi'an (Provinsi Shaanxi), dan Xiamen (Provinsi Fujian) juga
mengisi Maulid Nabi dengan ritual serupa.
Bahkan di antara mereka ada yang mengisinya dengan pengajian untuk
berbagi hikmah tentang perjalanan Nabi SAW semasa hidupnya hingga akhir
hayat.
"Tentu momen langka ini sekaligus menjadi ajang silaturahmi antara
kita," kata Ahmad Syaifuddin Zuhri, mahasiswa Central China Normal
University (CCNU) Wuhan, yang gemar berkunjung ke sejumlah masjid di
daratan China itu.
Oleh M. Irfan Ilmie
Editor: Mohamad Anthoni