Jaga importr pangan..... ? Pada tanggal Jum, 15 Nov 2019 pukul 20.00 'j.gedearka' [email protected] [GELORA45] <[email protected]> menulis:
> > > Bagaimana bisa menjaga pangan? > > Di Eropa (Belanda) tanah pertanian tidak diubah jadi perumahan/kantor. > > Di Tiongkok padang pasir diubah jadi hijau dan pertanian. > > Di Indonesia tanah pertanian termasuk yang suburpun dirombak jadi > perumahan/perkantoran, > > Disamping itu hutan pun diromabak jadi....... > > Nah bagaimana mau jaga pangan? Ya, satu-satunya jalan ya Import pangan. > > > AA > > > https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1672-jaga-pangan > *Jumat 15 November 2019, 05:30 WIB * > *Jaga Pangan* > *Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group | podium > <https://mediaindonesia.com/podiums>* > > <https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1672-jaga-pangan> > > <https://twitter.com/intent/tweet?text=Jaga%20Pangan%0D%20%20%20%20%20%20%20%20%20%20https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1672-jaga-pangan%0D%20%20%20%20%20%20%20%20%20%20via%20@mediaindonesia> > [image: Jaga Pangan] > <https://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/podiums/2019/11/293e0b7eb0ff2035e1d92206490f0239.jpg> > > *MI* > Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group > > MENTERI Pertanian Syahrul Yasin Limpo meminta para kepala daerah menjadi > ujung tombak pembangunan pertanian. Itu termasuk menjaga agar jangan sampai > terus terjadi alih fungsi lahan. Terutama luas lahan persawahan harus > dijaga karena berkaitan keamanan pangan nasional. > > Pembangunan pertanian memang harus menjadi perhatian utama kita bersama. > Semua pembangunan yang kita lakukan tidak akan ada artinya tanpa > terciptanya keamanan pangan. Ketika kebutuhan perut tidak bisa terpenuhi, > tidak mungkin kita akan bisa melakukan pembangunan. > > Semua negara memberikan perhatian khusus kepada pembangunan pertanian. > Tiongkok sebagai negara yang paling banyak penduduknya di dunia bahkan > membuat strategi keamanan pangan hingga 25 tahun ke depan. Prioritas mereka > bagaimana membuat kebutuhan pangan 1,4 miliar rakyat mereka setiap hari > bisa terpenuhi. > > Presiden Xi Jinping memimpin langsung pelaksanaan pembangunan pertanian. > Belum lama ini Tiongkok mengakuisisi perusahaan pertanian Swiss, Syngenta, > dengan nilai US$43 miliar. Tiongkok berani membeli perusahaan penghasil > bibit unggul hingga pestisida dengan harga yang mahal karena mereka harus > meningkatkan produktivitas pertanian di negara itu. > > Dengan hanya 8% lahan yang bisa ditanami, Tiongkok menghadapi persoalan > untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyat mereka. Jumlah penduduk mereka > sekarang ini 19% dari total penduduk di muka Bumi. Pengalaman ratusan tahun > lalu mengajarkan, ketika produksi pangan tidak mencukupi, akan mudah > terjadi kekacauan dan bahkan muncul pemberontakan. Dinasti kerajaan di > Tiongkok runtuh karena persoalan pangan. > > Kita tidak boleh juga alpa pada persoalan ini. Jumlah penduduk kita terus > bertambah. Tidak lama lagi jumlahnya bisa mencapai 300 juta jiwa. Kalau > lahan pertanian terus dibiarkan beralih fungsi, satu saat kita akan > menghadapi persoalan pangan. > > Tepat kalau Menteri Pertanian memfokuskan untuk menghentikan alih fungsi > lahan. Sudah sekitar 600 ribu hektare lahan pertanian di Jawa yang beralih > fungsi menjadi kawasan industri dan perumahan. Karawang yang dulu dikenal > sebagai lumbung pangan nasional sekarang sudah berganti wajah. > > Sebagai bupati yang 10 tahun memimpin Kabupaten Gowa dan 10 tahun pula > menjadi Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo paham bagaimana > kepala daerah seharusnya memainkan peran sebagai pemimpin di sektor > pertanian. Ia mampu menjadikan Sulsel sebagai lumbung padi nasional. > > Kuncinya terletak kepada keberpihakan kepada petani. Harus ada insentif > khusus yang diberikan agar petani mau mempertahankan lahan mereka. Salah > satu yang akan diterapkan Syahrul ialah memberikan bantuan sarana produksi > bagi petani yang mau terus menjaga lahannya. > > Keberpihakan kepada petani tidaklah salah. Semua negara industri juga > melakukan hal yang sama. Di Jerman, pemerintah memberikan subsidi > penerimaan sampai 50% dari hasil produksi yang bisa dapatkan. > > Dengan pendapatan sampai 150% setiap kali panen, mereka bukan hanya > terpacu untuk menjalani profesi mereka, melainkan juga membuat pendapatan > mereka tidak kalah dengan warga lain yang memilih jalan menjadi > industriawan. > > Kita harus membuat cetak biru tentang pembangunan pertanian sampai 25 > tahun ke depan agar terbangun konsensus bersama. Bahwa penyediaan kebutuhan > pangan merupakan kewajiban kita bersama. Kita tidak boleh iri hati ketika > negara memberikan perhatian lebih kepada petani. > > Mulai sekarang kita harus cermat untuk menghitung luas lahan yang dipakai > untuk pertanian. Bahkan kita harus menghitung berapa produksi yang bisa > didapatkan dan berapa kebutuhan pangan yang harus disediakan untuk sekarang > dan masa datang. > > Data itu kita perlukan agar bisa dipikirkan intervensi teknologi apa yang > harus kita lakukan. Seperti dilakukan Tiongkok, kita harus memikirkan > bagaimana meningkatkan produktivitas untuk setiap hektare lahan pertanian > yang ada. > > Kita tidak boleh main-main lagi dengan data pertanian. Jangan biarkan > pertanian hanya menjadi ajang untuk terjadinya praktik korupsi. Subsidi > pupuk atau subsidi bibit dibesar-besarkan tanpa ada dampak yang nyata > kepada peningkatan produksi. Kita sudah sepakat untuk menggunakan data > Badan Pusat Statistik yang terakhir sebagai acuan bahwa luasan lahan sawah > yang kita miliki hanya 7,1 juta hektare. > > Kita harus tumbuh bersama-sama dengan kehidupan para petani. Hanya dengan > petani-petani yang hidupnya lebih makmur dan sejahtera, kita bisa > mengharapkan terjaganya luasan lahan pertanian dan terciptanya keamanan > pangan. > > <https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1672-jaga-pangan> > > <https://twitter.com/intent/tweet?text=Jaga%20Pangan%0D%20%20%20%20%20%20%20%20%20%20https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1672-jaga-pangan%0D%20%20%20%20%20%20%20%20%20%20via%20@mediaindonesia> > > > > > > >
