Kampung Ketandan Yogyakarta Disiapkan Jadi Area Pecinan
Reporter:
Pribadi Wicaksono (Kontributor)
Editor:
Ludhy Cahyana
Rabu, 27 November 2019 10:00 WIB
Kampung Pecinan Ketandan kala malam hari. Gerbang kampung memiliki kesan
kuat gerbang-gerbang kuno di Cina. TEMPO/Pribadi WicaksonoKampung
Pecinan Ketandan kala malam hari. Gerbang kampung memiliki kesan kuat
gerbang-gerbang kuno di Cina. TEMPO/Pribadi Wicaksono
*TEMPO.CO*,*Yogyakarta* - Pekan
BudayaTionghoa<https://travel.tempo.co/read/1175579/pekan-budaya-tionghoa-yogyakarta-ada-kuliner-arab-sampai-india>Yogyakarta
(PBTY) bakal menyemarakkan Tahun Baru Imlek 2020. Perhelatan
tersebut kembali dipusatkan di Kampung Pecinan Ketandan, Malioboro,
Yogyakarta pada 2-8 Februari 2020 mendatang.
Bedanya, perayaan PBTY tahun ini bakal lebih meriah dengan rencana
pengukuhan Kampung Ketandan menjadi area pecinan sepanjang tahun, alias
tidak hanya saat perayaan imlek saja seperti selama ini.
Rencana menjadikan Kampung Ketandan sebagai Pecinan sepanjang tahun itu
diungkapkan Ketua Pelaksana PBTY, Tri Kirana Muslidatun usai bertemu
Raja Keraton yang juga Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X di
Kompleks Kantor Gubernur Kepatihan Yogyakarta Selasa 26 November 2019.
“Ngarsa Dalem (Sultan HB X) meminta kami menghidupkan kampung Ketandan
agar nanti Ketandan segera dapat menjadi area Pecinan sepanjang tahun,”
ujar Tri Kirana usai pertemuan dengan Sultan.
Untuk mewujudkan hal itu, Tri menuturkan perlu mengandeng komunitas
masyarakat di Ketandan, agar berkontribusi menjadikan Ketandan sebagai
daerah Pecinan yang hidup. Tak hanya dari sisi fisik dan historisnya,
namun juga mengisinya dengan berbagai aktivitas sosial budaya keseharian.
Pemerintah DI Yogyakarta dan Cina pada Juni 2019 lalu, telah bersepakat
membangun sebuah pusat kebudayaan Yogyakarta - Shanghai di kampung
Ketandan itu. Pusat Kebudayaan itu menjadi wujud mengokohkan program
sister/province/yang telah dijalin Pemerintah DI Yogyakarta dengan
Shanghai, Cina, selama lima tahun terakhir.
Rumah berarsitektur Cina peranakan di Kampung Ketandan, Yogyakarta.
TEMPO/Pribadi Wicaksono
Di dalam gedung Pusat Kebudayan Yogyakarta - Shanghai itu nantinya diisi
berbagai kegiatan kebudayaan, pendidikan, perdagangan, dan segala hal
yang mendukung kerjasama dalam rangka/sister province/tersebut.
Gotama Fantoni, salah satu tokoh Tionghoa di Yogyakarta menuturkan
Kampung Ketandan di Kota Yogyakarta berkembang menjadi pecinan
(Chinatown) bermula dari hijrahnya Kapiten Tan Djin Sing dari Kedu ke
Yogyakarta sekitar tahun 1803.
Sebagai sosok yang disegani, Tan Djin Sing oleh Sultan Hamengku Buwono
III diangkat sebagai Bupati Nayoko pada 18 September 1813. Keraton
Yogyakarta pun memberikan gelar khusus kepada Tan Djin Sing, yakni
Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Setjadiningrat. “Tan Djin Sing juga
menikahi kerabat keraton Yogya dan menjadi salah satu keturunan Tionghoa
yang mulai masuk Islam,” katanya.
Dengan pernikahan itu, Tan Djin Sing merupakan salah satu dari tiga
keturunan Tionghoa yang masuk lingkungan keluarga keraton dengan nama
trah Setjadiningrat. Dua warga Tionghoa lain yang juga masuk lingkaran
keluarga keraton adalah trah Honggodrono dan trah Kartodirjo.
Kiprah kesejarahan Tan Djin Sing ini menjadikan Kampung Ketandan
populer. Ketandan dalam bahasa Jawa memiliki arti “tanda” atau “simbol”.
Tri Kirana menuturkan salah satu pendukung untuk mewujudkan Ketandan
sebagai pecinan nan khas, dengan menghadirkan rumah budaya di kampung
itu sebagai satu spot utama saat perayaan PBTY 2020 nanti.
Rumah budaya ini akan dimanfaatkan untuk pameran budaya berisi
pengenalan budaya Tionghoa, yang diakulturasikan dengan budaya Jawa,
“Pada tahun ini, karnaval dan acara pembukaan PBTY akan diselenggarakan
secara bersamaan pada tanggal 2 Februari 2020,” ujarnya.
Selain itu juga akan ada berbagai acara kesenian seperti panggung budaya
yang akan diselenggarakan selama tujuh hari, festival kuliner,
serta/soft launching/rumah budaya Tionghoa Ketandan oleh Pemda DIY.
ADVERTISEMENT
Salah satu sudut Pecinan di Kampung Ketandan, Yogyakarta. TEMPO/Pribadi
Wicaksono
Ketua Jogja Chinese Art and Culture Centre (JCACC), Harry Setyo
mengharapkan, dengan diselenggarakannya pekan budaya Tionghoa di
Ketandan akan selalu berdampak baik untuk Kota Yogyakarta khususnya dari
sektor wisata.
“Karena PBTY yang menyelenggarakan adalah warga Yogya, bukan warga
Tionghoa. Semoga dengan acara ini dapat menjadi ikon pariwisata Kota
Yogyakarta,” ujarnya.
PRIBADI WICAKSONO