Dongkrak Laba Hingga 300 Persen, PT MRT Fokus Tambah Iklan
Reporter:
Lani Diana Wijaya
Editor:
Ninis Chairunnisa
Kamis, 28 November 2019 09:38 WIB
Warga beristirahat di Stasiun MRT Bundaran HI yang padat saat libur
Lebaran 2019 , Jakarta, Jumat, 7 Juni 2019. Libur Hari Raya Idul Fitri
1440 H dimanfaatkan oleh warga Jakarta untuk mencoba MRT dan mengisi
waktu liburnya. TEMPO/M Taufan RengganisWarga beristirahat di Stasiun
MRT Bundaran HI yang padat saat libur Lebaran 2019 , Jakarta, Jumat, 7
Juni 2019. Libur Hari Raya Idul Fitri 1440 H dimanfaatkan oleh warga
Jakarta untuk mencoba MRT dan mengisi waktu liburnya. TEMPO/M Taufan
Rengganis
*TEMPO.CO, Jakarta*- Direktur Utama PT Mass Rapid Transit Jakarta
William Sabandar optimistis mendongkrak laba Badan Usaha Milik Daerah
(BUMD) itu hingga 300 persen di tahun kedua dan ketiga operasional
kereta moda raya terpadu atauMRT <https://www.tempo.co/tag/mrt>. William
mengatakan pihaknya melihat potensi pendanaan dari pendapatan di luar
penjualan tiket alias nonfarebox seperti pemasangan iklan di stasiun.
"Kami melihat iklan itu pendapatannya juga bagus dan kami menawarkan
tempat-tempat lain di luar kereta dan yang sudah ada," kata William saat
pemaparan di kantornya, gedung Wisma Nusantara, Jakarta Pusat, Rabu, 27
November 2019. "Non farebox ini yang harus dipacu."
PT MRT menargetkan meraup laba Rp 200-250 miliar pada 2020. Angka ini
melonjak lebih dari 300 persen ketimbang laba yang didapat tahun ini,
yakni Rp 60-70 miliar.
Menurut William, 70-80 persen laba 2019 berasal dari pendapatan non
farebox. Totalnya mencapai Rp 225 miliar. Pendapatan non farebox terdiri
dari iklan (55 persen), naming rights (33 persen), telekomunikasi (2
persen), serta retail dan UMKM (1 persen).
William mengatakan penamaan stasiun atau naming rights pun berpotensi
mendongkrak laba PT MRT. PT MRT telah menjual naming rights di lima
stasiun tahun ini.
Ke depannya, William menargetkan penjualan di 5-7 stasiun lagi dari
total 12 stasiun. Stasiun ASEAN, kata dia, tidak akan dijual untuk
naming rights.
"Kami melihat potensi-potensi pendaanaan karena kami sudah jual lima
stasiun untuk naming rights dan ada potensi untuk jual tujuh stasiun
lagi," kata William.
ADVERTISEMENT
William lalu mengajak pihak swasta untuk berkontribusi menambah
penghasilan PT MRT. "Saya terbuka seperti ini karena saya ingin mengajak
teman-teman bisnis yang memang melihat potensi untuk berkomersial di
MRT, mari kontribusi dan kami terbuka," kata dia.
KeretaMRT <https://www.tempo.co/tag/mrt>beroperasi sejak 24 Maret 2019.
Kereta bawah tanah itu terdiri dari 13 stasiun yang membentang sepanjang
15,7 kilometer dari Lebak Bulus-Bundaran Hotel Indonesia. Pembangunan
MRT Fase 1 ini membutuhkan investasi Rp 16 triliun yang seluruhnya
dikucurkan oleh Japan International Cooperation Agency (JICA).