Pengamat: Jadikan "Jakarta Kampung" sebagai Kritik Membangun

------------------------------------------------------------------------
.... <https://sp.beritasatu.com/megapolitan/pengamat-jadikan-jakarta-kampung-sebagai-kritik-membangun/587773/#>


         Suara Pembaruan

Kamis, 28 November 2019 - 11:44 <https://sp.beritasatu.com/megapolitan/pengamat-jadikan-jakarta-kampung-sebagai-kritik-membangun/587773/#>
....

Kawasan kumuh di pinggir rel kereta api.

*Jakarta, Beritasatu.com*- Pernyataan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Tito Karnavian yang menyebutkan bahwa Jakarta lebih mirip kampung dibanding Shanghai dinilai para pengamat tata kota sebagai peringatan dan juga teguran keras bagi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan agar dapat menata kota dengan lebih cepat dan lebih baik lagi.

Pengamat Tata Kota Universitas Trisakti Yayat Supriyatna menuturkan, sebelum Tito menyebutkan demikian, mantan Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla (JK) pernah lebih dulu mengatakan bahwa Jakarta memiliki dua wajah. Wilayah Sudirman-Thamrin adalah wajah Singapura. Sedangkan bergeser ke wilayah perkampungannya maka Jakarta menjadi wajah Bangladesh, di mana masih banyak terdapat kampung kumuh.

"Pak JK pernah mengatakan demikian. Jakarta butuh/urban renewal/. Ibu kota negara di negara lain sudah lebih dulu melakukan itu. Seperti Singapura, Canberra. Jakarta masih mengunakan desain masa kolonial yang hingga kini masih dinikmati di era para millenial," ujar Yayat kepada/SP/, Kamis (28/11/2019).

Shanghai sendiri penataannya relatif mudah karena kepemilikan tanah atau aset di sana dikuasai oleh negara. Sehingga jika ingin membuat program apapun, dapat dengan mudah dilakukan. Seperti misalnya eksekusi tata ruang dan pengendalian tanah serta kampung kumuh. Sedangkan di Jakarta berbeda.

Sebagai sebuah kota yang sudah berusia tua, pemerintah Tiongkok juga tidak main main dalam menata Shanghai, mereka totalitas dan eksekusi dengan sempurna di lapangan. "/Nggak/ada korupsi,/nggak/ada kebocoran anggaran, apalagi defisit," kata Yayat.

Lebih lanjut diungkap Yayat, penataan kampung yang dijanjikan Gubernur Anies sebanyak 22 kampung dan telah tercantum dalam Peraturan Gubernur hingga kini tidak terdengar lagi kabarnya. Pun demikian dengan pembangunan rumah susun.

Warga Jakarta pun semakin sulit mendapatkan akses memiliki rumah karena untuk memiliki rumah dengan DP nol saja penghasilannya harus Rp 4-7 juta. Sedangkan masih banyak pekerja di Jakarta yang dibayar sesuai dengan Upah Minimum Kota sebesar lebih kurang Rp4,2 juta.

"Bagaimana bisa punya rumah kalau begini? Sedangkan rusun juga tidak dibangun lagi karena tidak mau menggusur. Harus diakui bahwa urbanisasi di Jakarta tak mendukung pada produk domestik bruto. Tekanan kelompok urbannya terlalu tinggi," papar Yayat.

Hal senada juga diungkapkan Pengamat Perkotaan Nirwono Joga. Nirwono menuturkan, berdasarkan data Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional, maka 45 persen wilayah Jakarta itu kumuh. Persentasenya tersebar yakni terbesar di Jakarta Utara sebesar 37 persen, Jakarta Barat 29 persen, Jakarta Selatan 18 persen.

"Hampir setengahnya kumuh. Sesuai dengan yang Pak JK katakan bahwa Sudirman Thamrin itu perwujudan Singapura tapi bergeser ke area perkampungannya maka seperti Bangladesh. Selama ini penataan dan alokasi anggaran hanya terpusat untuk kawasan segitiga emas yakni Sudirman-Thamrin," papar Nirwono.

Dirinya pun merasa heran karena perbaikan atau penataan Jembatan Penyebrangan Orang (JPO) hanya fokus kepada JPO yang berada di wilayah Sudirman-Thamrin. Sedangkan di wilayah lain seperti di Jalan Gatot Soebroto atau Jalan Warung Buncit terkesan tidak dipedulikan.

Shanghai sendiri, lanjut Nirwono, adalah kota terbesar kedua di Tiongkok setelah Beijing. Shanghai sendiri juga hanya difokuskan untuk kota bisnis. Bukan untuk pemerintahan. Sehingga tak heran kota ini menjadi demikian besar dan tertata dengan baik.

"Jakarta harusnya ya dibandingkan dengan Shanghai, Tokyo, New York. Jangan mau dibandingkan dengan Surabaya yang lebih baik penataannya. Jakarta ini kan kota metropolitan. Harusnya ya mencontoh kepada kota-kota lain di dunia yang lebih baik penataannya," tutur Nirwono.

Dirinya pun berpesan kepada Gubernur Anies bahwa adalah hal mudah menata Jakarta asalkan mematuhi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) yang ada dan tidak keluar dari apa yang tertuang di dalamnya.

"Patuhi aturan sesuai RTRW dan RDTR. Jangan dilanggar. Menata kota harus sesuai aturan hukum yang telah ada. Menurut saya memang ada baiknya peringatan keras dari pemerintah pusat melalui Pak Tito ini kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Memang harus demikian jika tak ingin Jakarta semakin ketinggalan dengan kota kota besar di dunia lainnya," tegas Nirwono.



Sumber : Suara Pembaruan

Kirim email ke