Artikel <https://www.antaranews.com/slug/artikel>
Sayap-sayap Garuda kesatria pertahanan udara
Oleh Anggi RomadhoniRabu, 4 Desember 2019 05:49 WIB
Sayap-sayap Garuda kesatria pertahanan udara
Hawk 100/200 TNI AU latihan gabungan bersama Tentara Udara Diraja
Malaysia di Pulau Pinang, Malaysia, medio November 2019 lali. (HO
Skadron Udara 12)
Pekanbaru (ANTARA) - Deru 871 Adour twin-spool, mesin turbofan pabrikan
Rolls-Royce di tubuh si macan hitam "Black Panther" Hawk100/200
<tel:100200>memecah hening pagi di Hanggar Charlie, Pangkalan Udara
Roesmin Nurjadin Pekanbaru, Riau.
Lima jet tempur legendaris buatan British Aerospace yang memperkuat
Skadron Udara 12 Pangkalan militer terlengkap di wilayah Barat Indonesia
itu tengah bersiap untuk menjalankan misi penting di negeri jiran, Malaysia.
Salah satu misi terjadwal di tahun ini, bersandi Elang Malindo 2019.
Latihan bersama dua negara sahabat untuk memperkuat taktik dan teknik.
Melibatkan ratusan prajurit silang divisi dengan konsep Full Mission
Exercise (FMX) dan Actual Mission Exercise (AMX) "conventional warware"
dengan melibatkan penerbangan taktikal.
Elang Malindo, yang merupakan kegiatan rutin latihan dua negara TNI
Angkatan Udara dan Tentara Udara Diraja Malaysia itu berlangsung di
Skadron Udara 18 Pangkalan Udara Butterworth Pulau Pinang, Malaysia.
Kolaborasi angkatan bersenjata untuk memperkuat pertahanan negara yang
terjaga apik sejak 1975 silam.
Sementara pada waktu bersamaan medio November 2019 lalu, latihan
bersama militer negara tetangga Republic of Singapore Air Force (RSAF)
bersandi Manyar Indopura 2019 juga diselenggarakan di Roesmin Nurjadin,
Pekanbaru.
Tiga unit helikopter Super Puma kedua negara terlibat latihan
penyelamatan saat pertempuran itu bersandi Manyar Indopura XVII 2019.
Dua jenis latihan berbeda namun dengan tujuan yang sama. Meningkatkan
kemampuan prajurit dalam mengembangkan taktik serta teknik pertempuran
udara.
Pangkalan militer udara Roesmin Nurjadin berada di sebuah kota yang
mengalami perkembangan pesat dalam satu dekade terakhir, dan terletak
tepat di tengah Pulau Andalas, Sumatera.
Secara geografis, pangkalan militer yang mengadopsi nama penerbang
pesawat tempur pertama Indonesia Laksamana Udara TNI Roesmin Nurjadin
itu berbatasan langsung dengan Selat Malaka, Singapura dan Malaysia.
Saat ini, Lanud Roesmin Nurjadin merupakan satu-satunya pangkalan
militer di Pulau Sumatera yang diperkuat dua skadron udara serta satu
skadron teknik 045.
Skadron Udara 12, menjadi kakak tertua setelah berdiri sejak 1983
silam. Skadron Udara 12 diperkuat dengan jet tempur Hawk100/200
<tel:100200>Black Panther buatan British Aerospace, persis sama dengan
Skadron Udara 1 yang berbasis di Pontianak.
Pada 2014, Lanud Roesmin Nurjadin makin digdaya untuk menjaga langit
Indonesia dengan diresmikannya Skadron Udara 16 yang diperkuat jet
tempur F16 Fighting Falcon.
Keberadaan burung besi sayap-sayap Garuda itu jelas memberikan dampak
besar dalam menjaga kedaulatan bangsa dan mewujudkan poros maritim
Indonesia. Meski begitu, kekuatan Indonesia masih perlu diperkuat.
Secara bertahap Kementerian Pertahanan terus berupaya melakukan
regenerasi alat utama sistem persenjataan (Alutsista) udara, termasuk
kedua jenis jet tempur tersebut yang masuk dalam rencana strategis IV.
Hawk Black Panther akan diganti dengan jet tempur generasi 4,5 yang
mempunyai kelebihan mengangkut senjata lebih lengkap serta bahan bakar
dengan jarak jauh. Sementara F16 fighting Falcon akan menjalani
peningkatan kemampuan setara Block C/D secara bertahap.
Perkuat pertahanan negara
Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Yuyu Sutisna menyatakan
wilayah udara Ibu Pertiwi akan semakin kuat dengan rencana penambahan
pesawat anyar super canggih dari Lockheed Martin, F-16 Block 72 Viper
yang rencananya akan didatangkan bertahap para rencana
strategis2020-2024 <tel:20202024>mendatang.
"Insya Allah kita akan beli dua Skadron di Renstra berikutnya 2020
sampai 2024. Kita akan beli tipe terbaru Block 72 Viper," kata Marsekal
TNI Yuyu Sutisna di Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru akhir Oktober 2019
lalu.
Hingga kini, Indonesia masih mengandalkan pesawat F-16 yang merupakan
pesawat tempur favorit di dunia. Sedikitnya, Yuyu mengakui jika 33 unit
F-16 Fighting Falcon masih menjadi salah satu senjata utama Angkatan Udara.
Burung-burung besi penjaga langit ibu Pertiwi itu menyebar di dua
Skadron yakni Skadron udara 16 Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru serta
Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi Jawa Timur. Ke depan, Indonesia masih
akan mengandalkan F-16 sebagai penjaga birunya langit Indonesia, yakni
dengan mendatangkan jenis terbaru Block 72 Viper.
"Mudah-mudahan 1 Januari 2020 di proses sehingga bisa menambah
kekuatan kita. Kalau kita memiliki itu berarti kita termasuk memiliki
F-16 tercanggih," ujarnya.
Menjadikan F-16 sebagai pesawat tempur andalan bukan tanpa alasan.
Yuyu mengungkapkan jika populasi pesawat jenis F-16 itu mencapai 3.000
unit lebih dan digunakan oleh banyak negara di dunia.
Selain itu, sejumlah operasi militer juga berhasil dilakukan dengan
menggunakan pesawat asal negeri Paman Sam tersebut.
"Banyaknya yang menggunakan dan banyaknya populasi tentunya keandalan
pesawat ini sangat baik," tuturnya.
Selain mengandalkan F-16 dan rencana mendatangkan jenis Block 72
Viper, Yuyu juga menekankan bahwa TNI AU turut akan mendatangkan pesawat
jenis Sukhoi 35 dari Rusia. "Selain itu, juga kita akan ditemani pesawat
dari timur, Sukhoi 35 juga sedang proses," urainya.
F-16 Block 72 Viper adalah versi terbaru dari seri pesawat tempur
F-16 dan merupakan versi paling mutakhir yang pernah diproduksi Lockheed
Martin. F-16 Fighting Falcon merupakan salah satu pesawat tempur yang
paling laris dan battle proven di dunia.
Indonesia bisa dibilang menjadi operator mula-mula F-16 Fighting
Falcon ini di ASEAN, melalui program pengadaan dengan sandi Peace Bima
Sena I pada dasawarsa '90-an. Lompatan teknologi pertahanan udara
dilaksanakan Indonesia saat itu secara baik dan mulus.
Industri pertahanan negara
Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto menyatakan tekatnya untuk
meningkatkan kemampuan alat utama sistem persenjataan Indonesia.
Pada APBN 2020 mendatang, Kementerian Pertahanan bahkan mendapat
alokasi anggaran sebesar Rp127,36 triliun, terbesar dibanding
kementerian lembaga lainnya.
Dari angka itu, Kementerian Pertahanan menganggarkan program
modernisasi Alutsista sebesar Rp10,86 triliun atau naik 20 persen
dibanding tahun sebelumnya.
Prabowo pun telah melakukan pendataan terkait spesifikasi belanja
alutsista yang akan dilakukan pada tahun 2020 nanti, sehingga alokasi
anggaran untuk belanja alutsista dapat terserap dengan baik dan tepat
sasaran.
Prabowo paham betul bahwa kondisi Alutsista yang sudah baik harus
ditingkatkan terus dan dimodernisasi tanpa henti, baik angkatan laut,
udara, maupun angkatan darat.
Secara garis besar, visi Mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan
Khusus itu adalah modernisasi Alutsista, yang tidak hanya bergantung
dengan teknologi negara sahabat, melainkan juga memperkuat industri
pertahanan negara.
Dia optimistis industri pertahanan dalam negeri akan lebih mandiri
dalam membuat Alutsista di masa mendatang.
"Kemampuan kita sudah sangat baik sangat maju tentu ada bagian-bagian
yang masih kita harus mengadakan penelitian dan pengembangan (litbang)
lagi. Tapi insya Allah saya optimis lima tahun lagi kita akan lebih
mandiri, lebih berdiri di atas kaki kita sendiri," tegas dia saat
meninjau pameran alutsista yang digelar Perkumpulan Industri Alpalhankam
Swasta Nasional (Pinhantanas), di Kantor Kemhan baru-baru ini.
Sejauh ini Prabowo mengaku bangga dengan hasil karya dan kemampuan
anak-anak bangsa dalam membuat alutsista untuk TNI dan Polri. Dia
kembali menunjukkan sikap optimisme untuk merealisasikan tugas Presiden
Joko Widodo dalam meningkatkan peran industri pertahanan dalam negeri.
Dalam instruksinya, Presiden Jokowi memerintahkan tiga tugas untuk
Kementerian Pertahanan. Pertama, "roadmap" harus jelas dalam
pengembangan industri alat pertahanan di dalam negeri mulai dari hulu
sampai hilir dengan melibatkan baik BUMN maupun swasta, sehingga bisa
mengurangi ketergantungan pada impor Alutsista dari luar negeri.
Kedua, harus dipastikan ada alih teknologi dari setiap pengadaan
alutsista maupun program kerja sama dengan negara-negara lain. Sumber
daya manusia harus terus menjadi atensi untuk diperkuat dengan orientasi
"strategic partnership".
Terakhir, Presiden meminta kebijakan pengadaan alutsista betul-betul
memperhitungkan dan mengantisipasi teknologi persenjataan yang berubah
begitu sangat cepatnya.
Dengan dukungan anggaran terbesar dalam APBN 2020, menjadi tantangan
bagi Menhan Prabowo dan Wamenhan Sakti Wahyu Trenggono untuk mewujudkan
Indonesia yang kembali disegani dunia.
Oleh Anggi Romadhoni
Editor: Adi Lazuardi