Ada baiknya kalau bung Roeslan melanjutkan dengan tanggapi komentar
Rocky Gerung yang kontroversial di ILC, 3 Des. kemarin ini:
Menurutnya *(Rocky Gerung)* sila-sila yang ada di Pancasila saling
bertentangan. Ia menjelaskan pendapatnya itu berdasarkan analisis
akademik yang mendalam.
*"Saya ingin mengatakan, Pancasila sebagai ideologi itu gagal, karena
bertentangan sila-silanya," *kata Rocky Gerung. *"Sila pertama ketuhanan
yang maha esa, yang mengakui perbuatan manusia bermakna kalau**
**diorentasikan ke langit. Sila kedua kemanusian yang beradab, saya
boleh berbuat baik tanpa perlu menghadap langit. Sila kelima keadilan
sosial, versi siapa itu? Enggak ada satu keterangan final isi dari
'keadilan**
**sosial'."*
Rocky Gerung menganggap di Indonesia ini tak ada satupun sosok yang
Pancasilais. Termasuk presiden yang disebut Rocky Gerung sebagai polisi
Pancasila.
*"Saya tidak Pancasilais, tidak ada di Indonesia yang Pancasilais,"*
ucap Rocky Gerung. *"Polisi Pancasila atau Presiden juga enggak ngerti
Pancasila."*
On 5/12/2019 上午1:13, Roeslan [email protected] [GELORA45] wrote:
**
*Melek Pancasila .*
**
*Melek Pancasila!!!. *Bukan menyelenggarakan seminar nasional tentanng
Pancasila, karena Pancasila sudah final, jadi nggak perlu lagi untuk
di seminarkan, seperti model P4 -nya orde baru, dan BPIP nya Pak
Jokowi yang memerlukan biyaya ratusan Juta Rp. Dalam kontekas ini,
yang penting adalah kita harus *MELEK PANCASILA!!!;* berarti harus
memdidik diri kita sendiri dan orang lain untuk mempertahankan
Ideologi Pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia,
memahami prinsip-prinsip Pancasila, dan menggunakan prinsip-prinsip
itu untuk membentuk komunitas-komunitas yang berkelanjutan. Kita perlu
merevitalisasi komunitas-komunitas kita, terutama komunitas-komunitas
kaum terpeljar, komunitas-komunitas bisnis dan komunitas-komunitas
elite politik kita, sehingga prinsip-prinsip Pancasila benar-benar
terwujud didalamnya sebagai prinsip-prinsip pendidikan, manjemen,
ekonomi dan politik.
*Lima Sila dari Pancasila.*
*/1./**//**/Ketuhanan/**/Yang Maha Esa/**/. /*Dalam pidato membangun
dunia kembali dimuka sidang umum P.B.B September 1960, Bung Karno
mengatakan : Bangsa saya meliputi orang-orang yang menganut berbagai
macam agama, ada yang Islam, ada yang Kristen, ada yang Buda dan ada
yang tidak menganut sesuatu agama. Meskipun demikian untuk delapan
puluh lima persen dari sembilan puluh dua juta rakyat kami, bangsa
Indonesia terdiri dari penganut Islam. Berpangkal pada kenyataan ini
dan mengingat akan bebeda-beda tetapi bersatunya bangsa kami, kami
menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai yang paling utama dalam
filsafah hidup kami.Bahkan mereka yang tidak percaya kepada Tuhanpun,
karena toleransinya yang menjadi pembawaan, mengakui bahwa kepercayaan
kepada Yang Maha Kuasa merupakan karateristik dari bangsanya, sehingga
mereka menerima Sila pertama ini (kutipan selesai)
*Melek Pancasila*dalam konteks Ketuhanan Yang Maha Esa berati harus
mendidik diri kita sendiri dan masyarakat Indonesia khususnya para
elite bangsanya agar dapat memahami, menerima dan memperkuat budaya
*/Pluralisme/, /egaliterisme dan mutikulturalisme, /* yang adalah
merupakan bentuk tertinggi dari peradaban manusia yang sudah berada
pada tingkatan kesadaran /“hijau/” >Green meme<; yang teresap masuk
dan menjiwai Pancasila.
Jadi Melek Pancasila berarti memdidik diri kita sendiri dan orang lain
untuk menigkatkan kebudayaannya sampai pada tingkat ``Green-
mem``,karena dalam kesadaran ini manusia telah kritis terhadap dirinya
sendiri, sehingga dapat mempunyai perasaan saling hormat-menghotmati
antar se sama manusia, mempunyai rasa kemanusiaan yang sama, mempunyai
kepekaan terhadap ekologi dan jaringan kehidupan dalam masyarakat.
Disini manusia telah meninggalkan budaya intolrransi, karena manusia
telah terbebaskan dari segala macam dogma-dogma, sehinga terbentuklah
komunitas-komunitas manusia yang adil dan beradap.
*/2./**//**/Kemanusiaan yang adil dan beradab. /*Dalam sila yang kedua
ini terkandung nilai-nilai: Pengakuan terhadap adanya martabat manusia
dengan segala hak asasinya yang harus dihormati oleh siapapun.Dalam
konteks */Kemanusiaan yang adil dan beradab,/* *Melek Pancasila*
berarti, harus mendidik orang termasuk dirinya sendiri untuk dapat
meningkatkan martabat manusia dengan segala hak asasinya sehingga
dihormati oleh siapapun; *Melek Pancasila* harus mendidik orang, dan
dirinya sendiri agar supaya besikap adil terhadap sesama manusia,
*melek pancasila* harus mendidik orang termasuk diri kita sendiri,
agar supaya memahami secara hakiki tentang Hak Azasi Manusia, sehingga
dapat mempertahankan dan memperkuat berlakukanya Pasal ke dua dari
Pancasila. Dalam Sila kedua dari Pancasila ini, melek Pancasila harus
menerima dan memahami secara hakiki sila pertama Pancasila seperti
yang sudah diuraikan diatas. Ini juga berati bahwa Melek Pancasila
harus mendidik manus ia-manusianya untuk mempertahankan budaya
/``Green meme``/seperti yang sudah disebutkan dalam sila petama.Diakui
atau tidak diakui, kesadaran bangsa Indonesia belum sampai pada
tingkatan yang sedemikian itu. Untuk mencapai kesadaran semacam itu,
maka Melek Pancasila harus berusaha meningkatkan budaya
manusia-manusianya, dalam masyarakat kita yang jumlahnya sangat besar
unuk memahami budaya pluralisme yang terkandung dalam jiwa dari
Pancasila , sehingga dapat secara sadar meninggalkan dan membuang
jauh-jauh budaya egozentris dan Ethnozentris, yang menyebabkan
terjadinya budaya intoleran.
*/3./**//**Persatuan Indonesia- Nasionalisme**. *Kekuatan yang
membakar dari nasionalisme dan hasrat akan kemerdekaan selama
mempertahankan dan memberi kekuatan menjelang kegelapan penjajahan
yang lama, dan selama berkobarnya perjuangan kemerdekaan. Dewasa ini
kekuatan membakar itu masih tetap menyala-nyala,meskipun sudah agak
berkurang, tapi tetap memberi kekuatan hidup kepada bangsa Indonesia!.
Namun demikian nasionalisme Indonesia bukanlah Chauvinisme. Bangsa
Indonesia sekali-kali tidak menganggap dirinya lebih unggul dari
bangsa-bangsa lain.Jadi Melek Pansasila dalam konteks Persatuan
Indonesia-Nasionalisme berarti harus mendidik dan membangkitkan rasa
nasionalisme yang sejati, dimana suatau bangsa harus menghargai dan
menjaga hak-hak hidup bangsa, baik yang besar maupun yang kecil,yang
lama maupun yang baru. *Melek Pancasila* dalam konteks ini haraus
mendidik orang untuk menjadikan bangsanya sebagai bangsa yang dewasa
dan bertsnggung jawab. Dan harus membangkitkan romantisme perjuangan
rakyat Indonesia masa kini, yaitu membangkitkan perjuangan melawan
ideologi neoliberalisme,yang telah menelan bulat-bulat NKRI kedalam
perut Neokolonialisme. Sehingga Indonesia yang Merdeka sekarang ini
dapat dikatakan merupakan replika dari Indonesia Yang Tejajah pada
zamannya kolonialisme Belanda. Indonesia terus merupakan negara yang
hehidupannya tergantung pada modal asing dan utang luarnegeri,
khususnya dalam konteks Pembangunan Infrastrukturnya. Jadi melek
Pancasila dalam konteks ini harus mendidik orang untuk mem ahami dan
memperjuangkan */demokrasi Ekonomi yang bersandar pada Pasal 33 UUD
45/*, */demi memperkuat nasionalisme Indonesia, yang semuanya
terangkum dalam Trisakti Bung Karno./*
*/4./**//*Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam
permusyawarataan/perwakilan” atau Demokrasi. Karena demokrasi
tampaknya merupakan keadaan asli dari manusia, meskipun diubah untuk
disesuaikan dengan kondesi-kondesi sosial yang khusus. Selama
beribu-ribu tahun dari peradaban Indonesia, telah mengembangkan
bentuk-bentuk demokrasi Indonesia, yaitu demokrasi yang berdasarkan
sila- sila dalam Pancasila. *Jadi melek Pancasila *dalam konteks
iniberati harus mendidik dirinya sendiri dan manusia-manusia Indonesia
untuk memperkuat pengertian /Hak azasi Manusia/, sehingga bangsa
Indonesia menjadi bangsa yang bertanggung jawab, menerima dan memahami
hak keadilan sosial, memperkuat faham permufakatan dan
permusyawaratan.*Melek Pancasial *dalam konteks ini juga berarti
mendidik oranglain dan dirinya sendiri untuk */memperkuat system/*
*/demokrasi Pancasila/*, yang berdasarkan mufakat dan musyawarah,
bukan Voting model AS.
*/5./**//*“Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” Pada
keadilan Sosial ini, dimaksud juga kemakmuran sosial, karena dua
masalah ini tidak dapat dipisah-pisahkan. *Melek Pancasila* dalam
konteks ini berati harus mendidik dirinya sendiri dan orang lain untuk
memperjuangkan terlaksananya kesejahteraan soaial seperti yang
terkandung dalam UUD 45 Pasal 33 dan Pasal 34, yang diperkuat oleh
Pasal 27 (ayat 2) UUd 45. Jadi *Melek Pancasila* dalam sila yang ke
lima ini, berarti kita semua konsekuen turut memperjuangkan
terlasakannya */sytem ekonomi Pancasila berdasarkan pada Pasal 33 UUD
45, /*untuk menjadi kekuatan yang dapat mewujudkan rekonsiliasi
nasional dalam pembangunan ekonomi bagi kepentingan rakyat banyak.
*Melek Pancasila* berarti kita harus tetap menggelar kesinambungan dan
merancang perubahan untuk masadepan yang lebih baik.
Jika dianalisa sedalam-dalamnya, maka Sila yang kelima ini berarti
harus mendidik orang termasuk diri kita sendiri, untuk secara
konsekuen menggunakan prinsip-prinsip Pancasila yang tertuang dalam
Sila yang ke satu sanpai dengan yang ke empat, dan menggunakan
prisip-prinsip itu untuk mensuskseskan kewajiban kita yang tertuang
dalam Sila yang kelima, yaitu mewujudkan suatu masyarakat yang mampu
memperthankan kehidupannya tanpa merugikan prospek generasi-generasi
masa depan. Dalam masyarakat kita yang sekarang ini berati kita harus
dapat mewujudkan komunitas-komunitas yang mampu mempertahankan
kehidupan yakni lingkungan-lingkungan sosial dan kultural, di mana
kita dapat memuaskan kebutuhan-kebutuhan kidup kita dan aspirasi kita,
t anpa mengurangi kesempatan bagi generasi-generasi masa depan.
*Kesimpulan akhir*: Diakui atau tidak diakui sekarang ini Kondesi
Sosial kita secara signifikan masih diwarnai oleh kemiskinan dan
pengangguran; jika ditinjau dengan menggunakan kacamata *Melek
Pancasila*, maka kita akan melihat bahwa para penegak negara ini
(pemerinah) telah gagal dalam memahami nilai-nilai Pancasila yang
tertuang dalam Sila kesatu, sampai ke Sila yang ke empat, sehingga
dampaknya adalah Sila ke lima dari pancasila telah mengalami gegagalan
total. Oleh karena itu sungguh relevan jika ada orang yang mengatakan
bahwa dalam pemilu 2019 harus dapat menghasilkan pemimpin yang
berpikiran cerdas, kritis terhadap dirinya sendiri, berkesadaran
universal-holistis system dalam bentuk energi integratif; dapat
menggabungkan perasaan dengan pengetahuan; memahami adanya
bermacam-macam kesadaran, satunya teori dan praktek (satunya kata-kata
dan perbuatan), tidak terpengaruh dan memihak pada suatu kelompok
tertentu, berpikiran cerdas, dan benar-benar memahami secara cerdas
konstitusi Negara kita yaitu UUD 45, khususnya pasal 33 UUD 45 dan
Pancasila 1 Juni 1945. Bekebudayaan Philanthropist, yang artinya suka
memnolong orang miskin secara diam-diam (dermawan yang murni), bukan
budaya Pencitraan, seperti yang lazim dilakkan oleh pemimpin-pemimpin
kita direa ``rformasi`` yang sudah berlangsing selama 20 tahun ini.
Roeslan.