-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://mediaindonesia.com/read/detail/275938-mengukur-kualitas-demokrasi-dari-keterwakilan-perempuan

Kamis 05 Desember 2019, 21:33 WIB

Mengukur Kualitas Demokrasi dari Keterwakilan Perempuan


Abdillah Muhammad Marzuqi | Politik dan Hukum
 
Mengukur Kualitas Demokrasi dari Keterwakilan Perempuan

AFP
Netumbo Nandi-Ndaitwah
 

NETUMBO Nandi-Ndaitwah mungkin berasal dari negara yang masih muda dalam urusan 
demokrasi. Namun, ia tak sungkan untuk berbagi proses demokrasi yang berlaku 
dan berjalan di negaranya. Tak ada yang lebih berat dibanding menghadapi 
politik warna kulit. Apalagi hidup di negara yang memandang sebelah mata peran 
perempuan. Begitulah gambaran yang dialami Nandi-Ndaitwah yang berasal dari 
Namibia.

“Ketika kami merdeka, perempuan mendapat diskriminasi ganda. Karena disana 
masih berlaku rezim apartheid yang memisahkan kulit putih dan kulit hitam. 
Bahkan berkulit putih pun tidak mendapat hak yang sama,” ujar Nandi-Ndaitwah.

Nandi-Ndaitwah menjadi panelis dalam sesi Panel Menteri dengan tema Women 
Leadership, Inclusion, and the State of Democracy pada gelaran BDF ke-12 di 
Bali Nusa Dua Convention Centre (5/12).

Panel ini menjadi istimewa dalam acara yang bertema Demokrasi dan Inklusivitas. 
Tema tersebut mendapat nyawa dalam panel yang menghadirkan 4 wanita tangguh 
itu. Mereka berbincang dan berbagi tentang peran mereka dalam proses 
demokrasi.Inklusivitas demokrasi tak akan bermakna tanpa melibatkan perempuan.

Beruntung, Pemerintah Namibia berkomitmen pada kesetaraan gender. Kini 
perempuan di Namibia punya hak yang sama. Bahkan 47% anggota parlemen Namibia 
adalah perempuan. Bahkan Netumbo Nandi-Ndaitwah saat ini menjabat sebagai 
Menteri Luar Negeri Namibia.

Selain Menlu Namibia Netumbo Nandi-Ndaitwah, panel tersebut juga menghadirkan 
tiga Menlu wanita lainnya, yakni Menlu Australia Marise Payne, Menlu Kenya 
Monica Juma, dan Menlu Republik Indonesia Retno Marsudi.

Berbincang tentang peran perempuan dalam demokrasi, Indonesia mencatat peran 
perempuan dalam Kongres Wanita Indonesia sebelum era kemerdekaan. Menlu RI 
Retno Marsudi mengulik sejarah tentang peran di Indonesia.

“Ada hal yang sangat menarik di negara dengan populasi muslim terbesar di 
dunia. Demokrasi dan pemberdayaan saling bertautan. Pergerakan perempuan di 
Indonesia dimulai oleh Kongres Wanita pada 1928. Itu 17 tahun sebelum 
kemerdekaan. Kita memperingatinya sebagai Hari Ibu,” ujar Retno.

Selain itu, Retno juga mengungkapkan pemberdayaan perempuan hanya akan berhasil 
jika didukung banyak factor seperti pendidikan, keluarga, masyarakat, dan 
kebijakan. Tanpa itu, mustahil pemberdayaan perempuan terwujud.

Retno juga menyampaikan komposisi perempuan di legislatif lebih dari 20% dari 
575 jumlah anggota DPR. Jumlah itu meningkat signifikan 22% dari 2014 yang 
hanya 97. Sektor swasta juga tak kalah, 70% usaha kecil menengah dijalankan 
perempuan. Retno juga sempat bercerita tentang kondisi kementerian luar negeri 
saat ia masuk, hanya 8 perempuan dari 70 diplomat baru. Kini, perbandingan 
diplomat baru mencapai angka 50-50 untuk laki-laki dan perempuan.

“Keterwakilan perempuan adalah tes sesungguhnya untuk demokrasi,” tegas Retno.

Senada, Menlu Australia Marise Payne juga mengungkapkan komposisi perempuan di 
parlemen Australia mencapai 50-50. Menurutnya, demokrasi membutuhkan kerja yang 
konsisten, termasuk mengupayakan keterwakilan perempuan.

Menlu Kenya Monica Juma mengungkapkan bahwa inklusivitas yang membawanya dari 
Afrika ke Bali untuk BDF ke-12. Sebab itu, demokrasi adalah jaminan untuk 
kesejahteraan social. Ia juga mengungkapkan bahwa peran perempuan tidak hanya 
sebatas di pemerintahan. Perempuan juga harus berperan dalam banyak hal, 
termasuk ekonomi. (OL-8)

Kirim email ke