https://www.unwomen.org/en/get-involved/step-it-up/commitments/namibia


Namibia aims for equal access to services, roles for women as agents of
peace

Namibia has paid special attention to women’s empowerment and gender
equality, an integral part of its Constitution. Significant targets have
been met, such as an increase in the number of girls in primary and
secondary school, and a boost in the share of women in the National
Assembly to 46 per cent in 2015. Still, challenges remain, so Namibia
commits to women’s empowerment and ensuring that women's rights are
protected in all areas, and to ensuring that women have access to services
for education, health and employment, among others. It will fight
gender-based violence, and make sure women can play their roles as agents
of peace at the community and national levels. Namibian women in uniform
will continue to serve in UN peacekeeping. Speaking at the Global Leaders'
Meeting on 27 September 2015, Deputy Prime Minister Netumbo Nandi-Ndaitwah
said: “Namibia commits herself to continue to sensitize our people to fully
embrace the critical role women play in society.” [Speech
<https://www.unwomen.org/-/media/headquarters/attachments/initiatives/stepitup/commitments-speeches/namibia-stepitup-commitmentspeech-201509-en.pdf?la=en&vs=126>
]

On Thu, Dec 5, 2019 at 3:44 PM 'j.gedearka' [email protected]
[GELORA45] <[email protected]> wrote:

>
>
>
>
> --
> j.gedearka <[email protected]>
>
>
> https://mediaindonesia.com/read/detail/275938-mengukur-kualitas-demokrasi-dari-keterwakilan-perempuan
>
> Kamis 05 Desember 2019, 21:33 WIB
>
> Mengukur Kualitas Demokrasi dari Keterwakilan Perempuan
>
> Abdillah Muhammad Marzuqi | Politik dan Hukum
>  
> Mengukur Kualitas Demokrasi dari Keterwakilan Perempuan
>
> AFP
> Netumbo Nandi-Ndaitwah
>
>
> NETUMBO Nandi-Ndaitwah mungkin berasal dari negara yang masih muda dalam
> urusan demokrasi. Namun, ia tak sungkan untuk berbagi proses demokrasi yang
> berlaku dan berjalan di negaranya. Tak ada yang lebih berat dibanding
> menghadapi politik warna kulit. Apalagi hidup di negara yang memandang
> sebelah mata peran perempuan. Begitulah gambaran yang dialami
> Nandi-Ndaitwah yang berasal dari Namibia.
>
> “Ketika kami merdeka, perempuan mendapat diskriminasi ganda. Karena disana
> masih berlaku rezim apartheid yang memisahkan kulit putih dan kulit hitam..
> Bahkan berkulit putih pun tidak mendapat hak yang sama,” ujar
> Nandi-Ndaitwah.
>
> Nandi-Ndaitwah menjadi panelis dalam sesi Panel Menteri dengan tema Women
> Leadership, Inclusion, and the State of Democracy pada gelaran BDF ke-12 di
> Bali Nusa Dua Convention Centre (5/12).
>
> Panel ini menjadi istimewa dalam acara yang bertema Demokrasi dan
> Inklusivitas. Tema tersebut mendapat nyawa dalam panel yang menghadirkan 4
> wanita tangguh itu. Mereka berbincang dan berbagi tentang peran mereka
> dalam proses demokrasi.Inklusivitas demokrasi tak akan bermakna tanpa
> melibatkan perempuan.
>
> Beruntung, Pemerintah Namibia berkomitmen pada kesetaraan gender. Kini
> perempuan di Namibia punya hak yang sama. Bahkan 47% anggota parlemen
> Namibia adalah perempuan. Bahkan Netumbo Nandi-Ndaitwah saat ini menjabat
> sebagai Menteri Luar Negeri Namibia.
>
> Selain Menlu Namibia Netumbo Nandi-Ndaitwah, panel tersebut juga
> menghadirkan tiga Menlu wanita lainnya, yakni Menlu Australia Marise Payne,
> Menlu Kenya Monica Juma, dan Menlu Republik Indonesia Retno Marsudi.
>
> Berbincang tentang peran perempuan dalam demokrasi, Indonesia mencatat
> peran perempuan dalam Kongres Wanita Indonesia sebelum era kemerdekaan.
> Menlu RI Retno Marsudi mengulik sejarah tentang peran di Indonesia.
>
> “Ada hal yang sangat menarik di negara dengan populasi muslim terbesar di
> dunia. Demokrasi dan pemberdayaan saling bertautan. Pergerakan perempuan di
> Indonesia dimulai oleh Kongres Wanita pada 1928. Itu 17 tahun sebelum
> kemerdekaan. Kita memperingatinya sebagai Hari Ibu,” ujar Retno.
>
> Selain itu, Retno juga mengungkapkan pemberdayaan perempuan hanya akan
> berhasil jika didukung banyak factor seperti pendidikan, keluarga,
> masyarakat, dan kebijakan. Tanpa itu, mustahil pemberdayaan perempuan
> terwujud.
>
> Retno juga menyampaikan komposisi perempuan di legislatif lebih dari 20%
> dari 575 jumlah anggota DPR. Jumlah itu meningkat signifikan 22% dari 2014
> yang hanya 97. Sektor swasta juga tak kalah, 70% usaha kecil menengah
> dijalankan perempuan. Retno juga sempat bercerita tentang kondisi
> kementerian luar negeri saat ia masuk, hanya 8 perempuan dari 70 diplomat
> baru. Kini, perbandingan diplomat baru mencapai angka 50-50 untuk laki-laki
> dan perempuan.
>
> “Keterwakilan perempuan adalah tes sesungguhnya untuk demokrasi,” tegas
> Retno.
>
> Senada, Menlu Australia Marise Payne juga mengungkapkan komposisi
> perempuan di parlemen Australia mencapai 50-50. Menurutnya, demokrasi
> membutuhkan kerja yang konsisten, termasuk mengupayakan keterwakilan
> perempuan.
>
> Menlu Kenya Monica Juma mengungkapkan bahwa inklusivitas yang membawanya
> dari Afrika ke Bali untuk BDF ke-12. Sebab itu, demokrasi adalah jaminan
> untuk kesejahteraan social. Ia juga mengungkapkan bahwa peran perempuan
> tidak hanya sebatas di pemerintahan. Perempuan juga harus berperan dalam
> banyak hal, termasuk ekonomi. (OL-8)
> 
>

Kirim email ke