Bukan masalah jangan, boleh, lebih baik export benih udang dan lobster ini. 
Masalahnya adalah ini bisnis.

Kalau Indonesia gak eksport, emangnya negara lain gak bisa eksport.

Lobster itu banyak di Maine, new England dan kanada bagian atlantik luar biasa 
pengetahuan rakyatnya krn mereka sudah melakukannya lama. Saya sering jalan2 
kesana makan lobster disana.

 

Coba cara berpikirnya jgn dibatasi pakai logika umum.

Memang betul sebaiknya Indonesia ternak itu udang dan lobster lalu dieksport 
dibandingkan eksport benihnya saja.

 

Tetapi kalau dilihat dari kaca mata bisnis, ini persoalannya lain yaitu: bisa 
bisnis jualan benih dan jualan udang dan lobsternya sendiri.

 

Dua2nya harus digarap.

 

Nesare

 

 

From: [email protected] <[email protected]> 
Sent: Tuesday, December 10, 2019 10:58 PM
To: Gelora45 <[email protected]>; ChanCT <[email protected]>; 
[email protected]
Subject: Re: [GELORA45] Ekspor Benih Lobster Akan Dibuka, Faisal Basri: Sudah 
Gila Apa

 

  

Ya, benih udang dan lobster jangan diexport.

Yang saya tahu, benih udang di Indonesia untuk penambak Indonesia sendiri 
didatangkn cepat dengan pesawat terbang.

Ini sudah jadi industri besar di Indonesia. Udangnya besar2 terutama diexport 
ke Jepang oleh pemilik cold containers.

Yang ukuran kecil, dijual ke rstaurant di Indonesia.

Pengusaha tambak udang Indonesia dulu belajarnya dari Taiwan.

Ada penambak udang yang saban malam bisa kecolongan walaupun dijaga polisi, 
Brimob sampai KKO.

Tetapi yan buka puluhan ha tambak udang di Pasuruan, daerah orang Madura aman2 
saja, tidak ada pencuri, tidk perlu dijaga malam.

Pdahal kondisi sewa tambaknmya sama : Dibayar di depan senilai harga padi yang 
dihasilkan sawah itu per tahun tanpa sipemilik sawah harus kerja.

Pemilik sawah diberi fsilitas untuk kerja di tambak dan dibayar.

 

 

Pada tanggal Rab, 11 Des 2019 pukul 04.31 ChanCT  <mailto:[email protected]> 
[email protected] [GELORA45] < <mailto:[email protected]> 
[email protected]> menulis:

  


Ekspor Benih Lobster Akan Dibuka, Faisal Basri: Sudah Gila Apa


Reporter:  


Francisca Christy Rosana


Editor:  


Rr. Ariyani Yakti Widyastuti


Rabu, 11 Desember 2019 06:59 WIB

  <https://statik.tempo.co/data/2019/01/10/id_810437/810437_720.jpg> Faisal 
Basri. TEMPO/Jati Mahatmaji

 <http://TEMPO.CO> TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom dari Universitas Indonesia,  
<https://bisnis.tempo.co/read/1274787/faisal-basri-ahok-jangan-dijerumuskan-sendiri-harus-ada-tim>
 Faisal Basri, menyayangkan adanya kemungkinan Kementerian Kelautan dan 
Perikanan membuka kembali opsi ekspor benih lobster. Pandangan itu ia sampaikan 
dalam diskusi para pakar di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa, 
10 Desember 2019.

"Ekspor benih lobster dulu sudah dilarang. Sekarang mau dibuka. Sudah gila apa 
ini," ujar Faisal disambut gelak lirih para peserta diskusi.

Menurut Faisal, pembukaan kembali keran ekspor bayi lobster akan berpengaruh 
buruk, baik terhadap iklim dagang maupun lingkungan. Ia memandang kebijakan itu 
bakal memberi celah mafia untuk bergerilya.

Seumpama diberi keleluasaan untuk mengirimkan benih lobster ke luar negeri, 
Faisal memperkirakan mafia bakal bermunculan untuk meraup keuntungan besar.. 
Sebab, harga beli benih lobster saat ini telah mencapai 5.000 yen per ekor.

Adapun terhadap lingkungan, ekspor benih lobster dikhawatirkan bakal 
menimbulkan eksploitasi besar-besaran. "Telur-telur lobster itu rusak. Dia 
enggak peduli laut kita rusak lagi," ucapnya.

Pekan lalu, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menyatakan ada 
kemungkinan pemerintah bakal membuka kembali keran ekspor benih lobster dengan 
kuota. Kebijakan itu diambil untuk meningkatkan nilai tambah budidaya lobster 
di level petambak.

ADVERTISEMENT

"Kenapa enggak ambil langkah izinkan budidaya, kita berikan (izin) ekspor 
(benih lobster) dengan kuota," kata Edhy dalam rapat kerja nasional KKP di 
Jakarta Pusat, 4 Desember lalu.

Ide ini berangkat dari temuan KKP terhadap benih-benih lobster yang menyebar di 
tangan para pedagang di Vietnam. Edhy mengatakan sekitar 80 persen benih 
lobster yang diterima importir negara itu berasal dari Indonesia.

Celakanya, menurut Edhy, pengiriman lobster ini ditengarai tidak langsung 
diterbangkan dari Indonesia ke Vietnam, melainkan melalui Singapura. Sampai di 
Vietnam, benih lobster dilepas dengan harga Rp 139 ribu per ekor.

Padahal, menurut Edhy, harga benih lobster yang dijual di level petambak dalam 
negeri hanya Rp 5.000. Ia memandang, petambak akan menikmati nilai lebih 
seumpama benih lobster dijual setara harga yang disepakati importir Vietnam.

Adapun ihwal alasan keseimbangan lingkungan dan keberlangsungan budidaya, Edhy 
memastikan petambak menyediakan restok lobster dewasa sebanyak 5 persen.. Ia 
lantas meminta ada kajian khusus terkait perkembangbiakan lobster seandainya 
kebijakan ekspor diterapkan.

"Kita minta ini dijadikan putusan ilmiah. Bahwa lobster itu kalau tidak dipanen 
toh tumbuhnya 1 persen," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Menteri KKP terdahulu,  <https://www.tempo.co/tag/susi-pudjiastuti> Susi 
Pudjiastuti, sempat melarang perdagangan lobster di bawah ukuran 200 gram atau 
yang berupa benih. Ia juga meminta lobster bertelur tidak dijual-belikan keluar 
Indonesia. Beleid yang menaunginya adalah Peraturan Menteri Nomor 56 Tahun 2016 
tentang Penangkapan Lobster.



Kirim email ke