https://www.eramuslim.com/berita/nasional/survei-oecd-prestasi-pelajar-indonesia-terendah-di-asia-tenggara.htm


Selasa, 18 Rabiul Akhir 1441 H / 17 Desember 2019


*Survei OECD: Prestasi Pelajar Indonesia Terendah di Asia Tenggara*

Eramuslim.com – Survei OECD sebut Prestasi Pelajar Indonesia Tempati Posisi
Terendah di Asia Tenggara

Prestasi siswa Indonesia usia 15 tahun berada pada peringkat 10 terbawah
dari 79 negara yang disurvei dalam tiga mata pelajaran yaitu matematika,
membaca, dan sains menurut laporan Program Penilaian Siswa Internasional
baru-baru ini, yang dirilis bulan ini oleh Organisasi untuk Kerjasama
Ekonomi dan Pembangunan (OECD).

Hasil ini tentu menunjukkan masalah kualitas pendidikan di Indonesia,
negara dengan penduduk terpadat di Asia Tenggara.


“Ini peringatan bagi kita semua dalam sektor pendidikan,” ujar Totok Amin
Soefijanto, pakar kebijakan pada Universitas Paramadina di Jakarta seperti
mengutip VOAIndonesia.

Kurangnya guru yang kurang berkualitas dinilai jadi masalah utama. 65%
Siswa yang disurvei Program for International Student Assessment (PISA)
atau Program Penilaian Siswa Internasional mengatakan guru mereka jarang
memberi umpan balik langsung kepada mereka.

Satu dari lima guru secara berkala mangkir, menurut Bank Dunia pada tahun
2017. Pemerintah telah melakukan uji kompetensi guru dan pada tahun 2015,
skor rata-rata untuk hampir tiga juta guru yang mengikuti tes itu adalah 53
persen, menurut hasil analisis University of Melbourne, Profesor Andrew
Rosser.

Desentralisasi menjadi tantangan lain untuk memperbaiki pendidikan. Semasa
pemerintahan Suharto, tahun 1965 hingga 1998, sistem sekolah sangat
terpusat. Tetapi setelah menjadi demokrasi penuh, kebijakan pendidikan
perlahan diserahkan ke pemerintah daerah. Geografis Indonesia yang terdiri
dari lebih 15 ribu pulau, menyulitkan penegakan hal-hal seperti kurikulum
standar atau kualifikasi guru.

“Kami juga kesulitan dalam hal ketidakadilan geografis, karena kami
memiliki banyak daerah terpencil,” ujar pekerja sosial dan aktivis yang
berbasis di Jakarta, Ryan Febrianto.

Organization for Economic Cooperation and Development atau Organisasi untuk
Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) dalam laporannya mencatat, hasil
tahun lalu “harus dilihat dalam konteks langkah besar yang telah diambil
Indonesia dalam meningkatkan partisipasi anak bersekolah.”

Dari tahun 2001 hingga 2018, cakupan sampel PISA melonjak dari 46 persen
menjadi 85 persen dari siswa berusia 15 tahun. Menurut penulis laporan,
ketika memperhitungkan kelemahan pendatang baru ke dalam sistem sekolah,
fakta bahwa hasil Indonesia relatif stabil selama periode ini sebenarnya
menunjukkan bahwa “Indonesia mampu menaikkan kualitas sistem
pendidikannya.”[sa
<https://www.suara.com/health/2019/12/17/104704/survei-oecd-sebut-prestasi-pelajar-indonesia-terendah-di-asia-tenggara>
]

Kirim email ke