Ular Kelelawar
Oleh: Dahlan Iskan
Sabtu, 25 Januari 2020 – 16:15 WIB
https://www.jpnn.com/news/ular-kelelawar
Ular Kelelawar - JPNN.com
Dahlan Iskan. Foto: Ricardo/JPNN.com
jpnn.com- Berita baiknya: Tiongkok sudah berpengalaman menangani wabah
SARS 18 tahun lalu.
Berita baiknya: Tiongkok sudah berpengalaman menangani wabah SARS 18
tahun lalu.
Yang begitu dahsyatnya. Yang melumpuhkan seluruh negeri.
Maka kini Tiongkok dengan cepat memutuskan: membangun rumah sakit
raksasa khusus virus Wuhan.
Kapasitasnya: 1.000 tempat tidur.
Waktu pembangunannya: 7 hari, dimulai kemarin.
Lokasi: Kota Wuhan bagian barat.
Soal bagaimana membangun begitu kilat Tiongkok sudah teruji –pernah
membangun satu stasiun kereta api peluru hanya dalam 24 jam.
Semua pasien virus Wuhan diisolasi di rumah sakit baru itu. Persis
seperti ketika terjangkit wabah SARS dulu.
Waktu itu sebuah RS khusus juga dibangun. Lokasinya di luar kota
Beijing. Desain dan ukurannya serupa.
Wabah SARS-pun bisa diatasi. Korban berhasil diminimalisasikan.
Dibanding skalanya yang begitu menakutkan, jumlah meninggal akibat SARS
‘hanya’ 700-an orang.
Yang terjadi di Kota Wuhan sekarang ini memang tidak sama dengan SARS
tapi virusnya masih dianggap serumpun.
Berita baik lainnya: virus ini tidak menyerang semua orang. Mayoritas
pasien adalah yang kondisi badannya memang sedang lemah. Usia mereka
juga sudah tua.
Maka menjaga kondisi badan adalah penting. Agar tetap sehat. Gaya hidup
sehat juga penting. Memperkuat kondisi tubuh juga penting.
Berita buruknya: terbukti virus Wuhan ini sudah bisa menular dari
manusia ke manusia.
Karena itu mengisolasi penderita adalah langkah terbaik (Baca DI’s Way:
Hongbao).
Inilah kisah seorang dokter ahli pernapasan dari Beijing. Yang kini lagi
viral di Tiongkok. Namanya: Wang Guangfa.
Tempat tugasnya: Peking University First Hospital.
Begitu tersiar berita ada virus aneh di Wuhan ia pergi ke kota besar di
Tiongkok tengah itu –2,5 jam penerbangan dari Beijing.
Berhari-hari ia kurang tidur. Melakukan penelitian dan penanganan akibat
virus itu.
Begitu pulang ke Beijing badannya demam. Suhu badannya panas.
Dr Wang mengira ia lagi terkena flu. Akibat kelelahan di Wuhan. Tapi kok
diberi obat flu tidak mempan. Dr Wang pun melakukan test 2019-nCoV.
Itulah nama virus Wuhan. Yang memberi nama seperti itu adalah WHO –badan
kesehatan dunia.
Ternyata dokter Wang positif terkena virus Wuhan.
Dasar peneliti, dokter Wang pun melakukan penelitian atas dirinya. Ia
memikirkan dari mana bisa tertular virus itu. Padahal ia mengenakan baju
pelindung dan masker yang lengkap.
Ia pun mengambil kesimpulan: virus itu menular lewat kornea mata. “Waktu
itu kami mengenakan pelindung yang terbaik. Dan kami mengenakan masker
N95. Tapi kami tidak mengenakan kaca pelindung mata,” tulisnya dalam
medsos berbahasa Mandarin.
Ia pun ingat: tiga jam sebelum demam itu mata kirinya tidak enak.
Conjunctivitis. Infeksi pada selaput bening mata. Ditandai dengan mata
merah. Berair, keluar kotoran mata. Kadang gatal dan disertai rasa tidak
nyaman
Lantas suhu badannya panas.
Waktu matanya terasa seperti itu dokter Wang merasa tidak ada yang salah
dengan mata kirinya. Selama di Wuhan ia tidak menangani pasien dengan
sakit mata seperti itu.
Dokter Wang sendiri kini sudah sembuh. Ini juga berita baik –agar kita
tidak mudah panik. Dan bisa terus memberi perhatian pada perbaikan
kondisi badan.
Yang masih terus diperdebatkan adalah: dari mana asal virus itu –dari
kelelawar atau dari ular.
Dua-duanya ikut dijual di pasar Huanan Wholesale Seafood Market yang
kini sudah ditutup. Yakni pasar besar di tengah kota berpenduduk 11 juta
orang itu.
Awalnya dipastikan virus itu dari kelelawar. Tapi menimbulkan tanda
tanya: bagaimana bisa menular ke manusia. Padahal kesamaan gen antara
keduanya hanya 70 persen.
Kemungkinan besar virus itu menular dulu ke ular. Dari ular baru ke
manusia. Para ahli menemukan stok virus seperti itu di dua jenis ular
kobra yang biasa dijual di pasar di sana.
Penelitian pun terus dilakukan.
Jumlah yang diserang virus ini memang terus bertambah. Sampai tadi malam
mencapai 800 orang lebih. Yang meninggal mencapai 26 orang.
Wilayah cakupannya pun meluas.
Sudah mulai ada satu orang yang meninggal di luar Provinsi Hubei –Wuhan
adalah ibu kotanya.
Yakni dari Provinsi Hebei –Beijing ada di dalam wilayah Provinsi Hebei.
Orang Hebei ini baru saja pulang dari Hubei. Ia menengok keluarganya di
Wuhan.
Dua bulan penuh ia di Wuhan. Tapi karena sudah dekat tahun baru Imlek ia
pun pulang ke Hebei.
Tidak lama setelah pulang ia sakit demam. Badannya panas. Lalu meninggal.
Pemerintah setempat mengusut siapa saja yang telah berhubungan dengan
orang ini. Terutama sejak ia pulang dari Wuhan. Jangan-jangan sudah ada
yang tertular.
Ditemukanlah ada 76 orang. Mereka diisolasi. Diperiksa satu persatu.
Ditest nCov. Hasilnya: semua negatif, tidak ada yang tertular.
Usia orang yang meninggal dunia itu: 80 tahun.
(Dahlan Iskan)