Saya tidak mengidolakan Ns dan TM. Pendapat mereka bukan omong kosong tetapi 
telah saya double-check dan adalah suatu fakta.
Kutipan: https://en.wikipedia.org/wiki/Rocky_GerungAfter graduating, Rocky 
taught in the department as a non-permanent lecturer until the beginning of 
2015. He stopped teaching due to the issuance of Law No. 14 of 2005 which 
requires a lecturer to have a minimum of a master's degree; whereas Rocky only 
holds a bachelor's degree. He is noted to be teaching courses such as the 
Seminar on Justice Theory, Political Philosophy, and Philosophy Research 
Methods; he also taught at the postgraduate program.

RG Master degree saja tidak punya, koq mengajar di postgraduate program di UI, 
yg student2 nya adalah bisa PhD candidate2 (yg lebih tinggi tingkatnya).. 
Apakah dia bukan tukang omong besar?

Ttg bidang filosopi, bidangnya luas tetapi tidak bisa mendalam. Maka dari itu, 
terjadi spesialisasi di setiap bidang sejak puluhan tahun yg lalu. Sebab tidak 
ada orang yg bisa mengusainya bidang yg luas secara mendalam. Dulu sekali 
bidang filosopi hebat sebab pengetahuan masih cetek. Namun, dgn mendalamya ilmu 
pengetahuan, bidang yg luas harus pecah kalau mau bisa mendalam..
Setiap orang termasuk RG boleh ngoceh dimana saja tetapi pendengar/pengagumnya 
khan dari "audience" tertentu. Anda khan di Jerman, misal, audience pembaca 
dari Bild (Die Bild Zeitung), khan berbeda dari audience dari pembaca dari 
Frankturter Allgeimeine Zeitung atau Der Spiegel. Misal, kalau pergi ke 
perpustakaan di Mensa (tempat makan mahasiswa), disana, masa ada Bild utk para 
mahasiswa yg tingkatnya lain. Atau di UK, pembaca Tabloid (biasanya kabar 
sensasi saja) versus pembaca The Guardian, khan audience nya berbeda. 
Dulu waktu saya kuliah di Jerman, tidak ada peraturan harus mengikuti/datang ke 
kuliah. Dan ini adalah kebebasan/demokrasi. Kalau pengajarnya kurang 
berkualikasi (belum ber-habilitasi, bukan pengarang ibuku ilmiah, publikasinya 
apa dsb), jarang yg mau datang ke kuliahnya (termasuk saya) alias ruangan 
kuliah kosong. Jadi selalu ada berbedaan dan seleksi dimana saja.
Per-tama2, saya tidak menyukai melihat youtube kecuali dgn topik tertentu sebab 
membuang waktu saja. Membaca artikel yg ada summary nya (abstract, and 
conclusion) lebih tidak membuang waktu sebab kalau konklusinya tidak menarik, 
ya tidak usah dibaca. Coba kalau membaca sebeberapa jurnal dan setiap jurnal 
ada 40-50 artikel, mana bisa membaca semua artikel. Kedua, selain itu, yg lebih 
penting siapa pengarang artikel ini dan dari mana institusinya. Juga kalau 
mendengar ceramah, yg penting siapa pembicaranya (Curriculum Vitae nya) dan apa 
topiknya.
Kalau RG sih tidak mempunyai kualifikasi tertentu mengesankan, yg perlu/berguna 
utk diperhatikan, misal dibidang ekonomi, dibanding dgn Sri Mulyani atau RR yg 
mempunyai kredebilas dibidang ekonomi.
Namun, terima kasih utk usaha anda utk mencantumkan youtube2 nya.
Sekian dulu,BH Jo


    On Monday, February 3, 2020, 09:51:00 AM CST, 'Lusi D.' [email protected] 
[GELORA45] <[email protected]> wrote:  
 
     
Am Sat, 1 Feb 2020 21:52:00 +0000 (UTC)
schrieb "'B.H. Jo' [email protected] [GELORA45]"
<[email protected]>:

B.H.Jo:

> Seingat saya dari komentar dari bung Nesare tahun yg lalu: Rocky
> Gerung/RG waktu ditawarin oleh Universitas Indonesia utk belajar
> lebih lanjut seperti Master Degree dan apalagi PhD degree, utk supaya
> bisa melanjutkan menjadi dosen di UI, tidak mau. Dimana katanya dia
> sudah pintar, jadi tidak perlu belajar lagi. Juga seingat saya, juga
> ada komentar dari mbah Titiek Maslam memberi komentar yg negatif ttg
> RG. Saya yakin di UI apalagi di Indonesia, "segudang" (tidak
> terhitung banyaknya), akademisi yg lebih kompeten dan berkualitas
> dari RG utk memberi komentar di media. Apalagi kalau topiknya adalah
> ttg kemajuan negara (ekonomi). Si RG adalah bukan ahli ekonomi tetapi
> dari bidang filiosopi.

Lusi : 

Saya kira kiriman itu pendapat dan argumen bung sendiri spt yang
saya harapkan. Kan mestinya bung juga mampu membaca dan mengertikan
pendapat orisinil yang dikemukakan sendiri oleh RG. Lewat internet kan
setiap orang mampu mengakses pendapat aslinya. Disamping itu nada
jawaban bung itu kok spt sedang mengidolakan dua nama Ns dan TM itu. apa
dasar hubungannya? bukankah percakapan kita di internet ini hidup di
alam demokrasi. Mengapa untuk mengutarakan pendapat RG yg sedang jadi
tema pembicaraan kok bung mengikut-ikutkan pandangan yang menurut
catatan saya justru kurang substansial dlm berargumen. 
Namun begitu dan terlepas dari itu, dlm diskusi saya berusaha tidak
membedakan derajad dan macam titel atau julukan pendidikan apa saja
yang disandang seseorang, karena bagaimanapun kita ini kan setara dan
berusaha untuk menepis sifat yang mengunggul-unggulkan seseorang ataupun
sebaliknya dalam diskusi, yang pokok menanggapi substansi topik diskusi.

B.H.Jo:

> Seperti sudah menjadi pengetahuan umum (public
> knowlegde) bhw dia "ditendang" sebagai dosen UI karena tidak cukup
> kualitasnya. Tentu kalau berpidato seperti utk menjual jamu koyo, yg
> cukup kualitasnya. Sayangnya, banyak orang/akademisi yg berkualitas
> di Indonesia yg tidak suka menjual jamu koyo.

Lusi :

Kesan saya bung mengkotak-kotak ilmu pengetahuan yang dimiliki
seseorang terlalu sempit, kita kan bebas bicara apa saja yang dirasakan
diperlukan. Sementara itu arti kata filsafat dlm ilmu pengetahuan itu
kan sangat luas dan kalau suatu kata yang filosofis itu, artinya kata
tsb bisa punya makna baik dlm lingkungan ilmu pengetahuan human maupun
eksakta maupun teknologis. Misalkan kata ilmu pengetahuan. Kata
ilmu pengetahuan itu pada pokoknya secara filosofis berlaku ranah
dua lingkungan ilmu, yaitu ranah ilmu sosial, termasuk ilmu ekonomi
maupun ilmu politik, suatu ilmu pengetahuan yang mendalami masalah
hubungan antar manusia dng manusia dan di lingkungan ilmu yang kedua
adalah ilmu eksakta yang berarti ranah ilmu pengetahuan yang
menguraikan perihal kegiatan manusia dalam menguasai hukum alam.

Untuk menambah bobot argumen wawasan melalui pembandingan, saya unggah
beberapa episode perdebatan maupun penjelasan RG dlm beberapa even di
acara tv spt dibawah (enam nomor) yang sekaligus merupakan jawaban dari
penafsiran bung thd RG. Dan merupakan jawaban mengapa dia sampai
dijuluki profesor di kalangan UI, walaupun memang bukan.

Namun demikian kalau bung tetap pada pandangan sebelum membaca atau
mendengar argumen dari RG itu sendiri, bagi saya bukanlah masalah.
Karena setiap orang bebas bersikap thd pikiran orang lainnya.

Lusi.-

1. https://www.youtube.com/watch?v=m_uZyVYWPI4
Rezim Jokowi tak berkutik kayak ayam sayur

2. https://www.youtube.com/watch?v=ZOPcyOEhKgU
Bikin melongo perbandingan kinerja 100 hari Prabowo
Jokowi

3. https://www.youtube.com/watch?v=Pe4MoATuaGg
sembilan fakta RG yang membuat orang tercengang

4. https://www.youtube.com/watch?v=JV7DF9o2M94
Jokowi kalau gak berhenti berbohong saya berupaya 
reformasi jilid II

5. https://www.youtube.com/watch?v=F_VLpG8M6yA
"Geger" Istana

6. https://www.youtube.com/watch?v=h6EzvmbwZNU
Dialog Kebangsaan bersama Rocky

> 
> 
> On Saturday, February 1, 2020, 02:00:39 PM CST, 'Lusi D.'
> [email protected] [GELORA45] <[email protected]> wrote: 
>   
> Ya kirimkan saja yang bung sebut "orang yg lebih berkualitas daripada
> Rocky Gerung" itu untuk bahan pembanding.
> 
> Am Sat, 1 Feb 2020 18:26:49 +0000 (UTC)
> schrieb "'B.H. Jo' [email protected] [GELORA45]"
> <[email protected]>:
> 
> > Saya tidak melihat youtube nya dari Rocky Gerung . Namun, pertanyaan
> > saya, apa tidak orang yg lebih berkualitas daripada Rocky Gerung yg
> > bisa berkomentar di media di Indonesia?
> > 
> > On Saturday, February 1, 2020, 09:49:47 AM CST, Sunny ambon
> > [email protected] [GELORA45] <[email protected]> wrote: 
> >   
> > 
> > https://www.youtube.com/watch?v=tv0f48L_i3k  
> > 
> 
> 
> 


    

Kirim email ke