-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://www.antaranews.com/berita/1288522/kompetisi-as-china-uji-sentralitas-dan-persatuan-asean


Artikel

Kompetisi AS-China uji sentralitas dan persatuan ASEAN

Oleh Aria Cindyara      Senin, 10 Februari 2020 21:31 WIB

Professor Ann Marie Murphy dari School of Diplomacy and International 
Relations, Seton Hall University di New Jersey, Amerika Serikat, saat berbicara 
dalam acara bertajuk ‘The United States Free and Open Indo Pacific: 
Implications for Southeast Asia and Indonesia’ yang digelar di Center for 
Strategic and International Studies di Jakarta, Senin (10/2/2020). (ANTARA/Aria 
Cindyara)
Asia Tenggara ingin menjaga otonomi strategis dan ekonomi, dan tidak ada yang 
ingin membuat pilihan biner
Jakarta (ANTARA) - Rivalitas Amerika Serikat dan China tak hanya membawa 
tekanan bagi Asia Tenggara sebagai kawasan yang strategis, namun juga menguji 
sentralitas dan persatuan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara atau ASEAN.

Pernyataan tersebut dikatakan oleh Professor Ann Marie Murphy dari Sekolah 
Diplomasi dan Hubungan Internasional Universitas Seton Hall New Jersey, Amerika 
Serikat dalam acara diskusi bertajuk ‘The United States Free and Open Indo 
Pacific: Implications for Southeast Asia and Indonesia’ yang digelar di 
Jakarta, Senin.

“Kompetisi AS dan China memberikan tantangan bagi otonomi strategis Asia 
Tenggara dan kepentingan Indonesia untuk memastikan kawasan tetap bebas dari 
hegemoni kekuatan luar dan intervensi dari negara kuat,” kata Murphy yang 
tengah melakukan riset di Indonesia sebagai Fulbright ASEAN Research Program 
Scholar.

Tantangan tersebut menjadi semakin rumit ketika kompetisi strategis kedua 
negara juga membawa tantangan bagi sentralitas dan kohesi ASEAN, terlebih 
dengan semakin meningkatnya tekanan bagi negara-negara Asia Tenggara untuk 
memilih kubu.

“Asia Tenggara ingin menjaga otonomi strategis dan ekonomi, dan tidak ada yang 
ingin membuat pilihan biner,” katanya.

Meski demikian, Murphy mengatakan dapat terlihat jelas perbedaan dalam respons 
dari masing-masing negara terhadap kompetisi kedua negara, terutama dalam 
respons terhadap keagresifan China yang dia soroti.

Dia menyebut ada tiga opsi strategis dalam sikap yang diambil, salah satunya 
adalah menyeimbangkan.

“Satu dari sedikit contoh negara yang mengambil langkah ‘balancing’ adalah 
Filipina di bawah pemerintahan Aquino yang memperkuat kerja sama kemanan dengan 
Amerika Serikat melalui pelatihan militer, dan membawa China ke Pengadilan 
Arbitrase Permanen UNCLOS sebagai respons dari pencaplokan Scarborough Shoal,” 
jelas Murphy.

SIkap lain adalah penolakan, yang menurutnya terlihat dalam sikap Indonesia di 
zona ekonomi ekslusif periran Natuna dan ancaman PM Malaysia untuk membatalkan 
proyek Jalur Sutra di negara tersebut.

“Selain itu, ada sikap bergabung (bandwagoning) guna mendapatkan keuntungan 
militer atau ekonomi. Saya rasa sikap Kamboja merupakan salah satu contoh yang 
jelas,” kata Murphy.

Baca juga: Mengintensifkan dialog demi wujudkan kerja sama Indo-Pasifik
Baca juga: Indonesia ajak AS bekerjasama dalam konteks Indo-Pasifik

Murphy menjelaskan lebih lanjut bahwa membatasi dan menutup kemungkinan untuk 
memilih kubu adalah pilihan lain yang dapat diambil sebagai sikap atas 
kompetisi AS dan China maupun keagresifan China yang dia sebut.

“Tentu ini respons yang ingin dipilih oleh negara-negara Asia Tenggara. Tak 
perlu mengambil kubu Amerika Serikat atau China. Semua ingin menjaga hubungan 
baik dengan kedua negara dan mendapatkan keuntungan ekonomi dari keduanya,” 
papar dia.

Murphy pun menyebut, menurut sebuah survei terhadap lebih dari 1.000 petinggi 
di bidang kebijakan luar negeri Asia Tenggara, terdapat pandangan atas China 
sebagai ancaman bagi kawasan dan ketidakyakinan terhadap Amerika Serikat 
sebagai mitra yang dapat dipercaya.

“Kombinasi dari persepsi China sebagai ancaman yang meningkat dan persepsi atas 
AS sebagai mitra keamanan yang penting membuat sikap tersebut  menjadi semakin 
sulit untuk diambil,” lanjutnya.

Menurut dia, perbedaan sikap yang diambil oleh masing-masing negara di ASEAN 
mengindikasikan penurunan dalam persatuan ASEAN.

Dalam menghadapi kompetisi yang bernuansa ‘zero sum game’ antara AS dan China, 
Murphy meyakini ASEAN perlu berbicara dalam satu suara, terutama dalam isu-isu 
penting.

“Satu suara itu contohnya dapat dilakukan dengan membuat satu wadah bersama 
seperti standar-standar dalam investasi proyek Belt and Road Initiative China 
di kawasan terkait transparansi dan lain lain, atau policy sharing,” ujarnya.

Implikasi terhadap Indonesia

Menurut Murphy, kurangnya keseragaman dalam sikap negara-negara ASEAN dalam 
beberapa isu memiliki implikasi negatif bagi kepemimpinan Indonesia di kawasan, 
yang secara tradisional didasarkan pada ASEAN.

Meski demikian, dia menyebut Indonesia telah sukses menyusun sejumlah prinsip 
dalam ASEAN Outlook on the Indo-Pacific dan merangkul negara-negara ASEAN lain 
untuk menyetujui

“Kita melihat dalam hal respons terhadap Indo Pasifik yang bebas dan terbuka 
(Free and Open Indo Pacific), Indonesia memimpin dan telah menciptakan ASEAN 
Outlook on Indo-Pacific,” ujarnya.

Lebih lanjut, menurut dia, ASEAN Outlook on the Indo-Pacific dibuat untuk 
kawasan yang inklusif, yang mencakup AS, China dan semua kekuatan besar yang 
berkomitmen untuk mematuhi norma-norma regional ASEAN khususnya non-intervensi 
dan resolusi damai terhadap sengketa.

“Saya pikir tantangannya sekarang untuk Indonesia adalah mencoba menilai 
prinsip-prinsip dalam Outlook tersebut dan merangkul negara lain untuk 
mematuhinya,” kata dia.

Negara-negara di ASEAN menghadapi tantangan serupa dalam merespons kompetisi AS 
dan China karena secara strategis, kawasan Asia Tenggara berada di titik 
penting dalam rivalitas tersebut. Indonesia, sebagai negara kepulauan 
menghadapi tantangan sebagai pusat dari Indo-Pasifik.

Oleh karena itu, kawasan Asia Tenggara menghadapi ancaman untuk menjadi titik 
perebutan kekuasan dalam segi ekonomi dan pengaruh ideologi.

Indonesia telah secara tegas menetapkan sikap dan posisi ASEAN dalam konsep 
Indo-Pasifik, di tengah rivalitas AS dan China.

Presiden Joko Widodo sebelumnya telah menegaskan bahwa posisi ASEAN yang berada 
di kawasan Indo-Pasifik harus mampu menjadi poros, memainkan peranannya dan 
mengubah ancaman menjadi peningkatan kerja sama.

Konsep Indo-Pasifik dapat dikembangkan dengan peningkatan kerja sama dan 
potensi ketegangan yang diubah menjadi perdamaian.

Dia pun menegaskan bahwa ASEAN perlu mengembangkan kerja sama Indo-Pasifik 
dengan mengedepankan penghormatan kepada hukum internasional dan sentralitas 
ASEAN.

Baca juga: Peneliti: ASEAN perlu harmonisasi regulasi untuk kinerja perdagangan
Baca juga: Dubes Deng Xijun akan kembangkan kemitraan strategis ASEAN-China

Oleh Aria Cindyara
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020





Kirim email ke