https://www.respublika.id/2018/07/07/kampus-merah-universitas-res-publica-sumbangsih-siauw-giok-tjhan-di-bidang-pendidikan/
Kampus Merah Universitas Res Publica Sumbangsih Siauw Giok Tjhan Di
Bidang Pendidikan
By*Berita Respublika* <https://www.respublika.id/author/redaksi/>Last
updated*Jul 13, 2018*
*94*
*Share*<https://www.facebook.com/sharer.php?u=https%3A%2F%2Fwww.respublika.id%2F2018%2F07%2F07%2Fkampus-merah-universitas-res-publica-sumbangsih-siauw-giok-tjhan-di-bidang-pendidikan%2F><https://twitter.com/share?text=Kampus+Merah+Universitas+Res+Publica+Sumbangsih+Siauw+Giok+Tjhan+Di+Bidang+Pendidikan&url=https%3A%2F%2Fwww.respublika.id%2F2018%2F07%2F07%2Fkampus-merah-universitas-res-publica-sumbangsih-siauw-giok-tjhan-di-bidang-pendidikan%2F><https://www.respublika.id/2018/07/07/kampus-merah-universitas-res-publica-sumbangsih-siauw-giok-tjhan-di-bidang-pendidikan/#>
Universitas Res Publica kini berganti nama menjadi Universitas Trisakti.
Masalah kewarganegaraan menjadi masalah yang rumit bagi golongan
Tionghoa, karena Indonesia menganut asas ius soli yang menentukan
kewarganegaraan sesorang berdasarkan tempat kelahiran, sebaliknya
pemerintah Tiongkok dengan dekrit yang dikeluarkan kaisar pada zaman
dinasti Ming menganut asas Ius sanguinus, yangmenyatakan setiap orang
Tionghoa, di manapun ia berada dan dilahirkan tetap menjadi warga Tiongkok.
BACA JUGA
Catat!!, Tiga Wilayah Ini Siap Jadi Lokasi Pameran Produk UMKM
<https://www.respublika.id/2019/11/13/catat-tiga-wilayah-ini-siap-jadi-lokasi-pameran-produk-umkm/>
Nov 13, 2019
Membentuk Sekutu Politik
<https://www.respublika.id/2019/11/04/membentuk-sekutu-politik/>
Nov 4, 2019
Soekarno Pernah Cuekin Kemal Idris
<https://www.respublika.id/2019/10/07/soekarno-pernah-cuekin-kemal-idris/>
Okt 7, 2019
Untuk mengatasi masalah ini pada 1946, telah dikeluarkan undang-undang
kewarganegaraan yang berdasarkan stelsel pasif, bagi yang ingin menolak
kewarganegaraan Indonesia diberi waktu sampai 1947. Apabila diam saja
otomatis menjadi warga negara Indonesia. Kemudian Perjanjian Meja Bundar
(KMB) juga mendukung dan mengesahkan UU Kewarganegaraan berdasarkan
stelsel pasif dan memperpanjang waktu memilih sampai 27 Desember 1951.
Ternyata lebih dari 300.000 orang Tionghoa kebanyakan dari golongan
totok yang menolak kewarganegaraan Indonesia dan memilih menjadi orang
asing. Dengan demikian sisanya menjadi warga negara Indonesia, demikian
juga keturunannya yang dilahirkan di Indonesia.
Namun pada 1953, menteri luar negeri pada kabinet Ali Sastroamidjojo
mengajukan RUU Kewarganegaraan yang ingin membatalkan kedua
undang-undang kewarganegaraan sebelumnya dan menentukan syarat antara
lain, hanya orang keturunan asing yang telah menetap di Indonesia selama
tiga generasi yang berhak mengajukan permohonan menjadi warga negara
Indonesia dan harus dapat membuktikannya. Sudah tentu hal ini sangat
sulit untuk dipenuhi dan menimbulkan keresahan di kalangan etnis
Tionghoa. RUU ini mendapat protes dan perlawanan yang keras dari
kalangan etnis Tionghoa, terutama dari tokoh politik Siauw Giok Tjhan. `
Untuk mengantisipasi masalah ini pada akhir 1953 atas inisiatif
tokoh-tokoh Partai Demokrat Tionghoa Indonesia (PDTI) diadakan pertemuan
untuk membentuk panitia yang akan membahas RUU tersebut. Hadir
pengacara-pengacara dan tokoh-tokoh Tionghoa antara lain : Khoe Woen
Sioe, Gouw Giok Siong,Yap Thiam Hien,Auwjong Peng Koen, Oei Tjoe Tat,
Siauw Giok Tjhan, Tan Po Goan, Liem Koen Seng dllnya. Akhirnya Siauw
Giok Tjhan terpilih sebagai ketua.
Pada 13 Maret 1954, bertempat di gedung Sin Ming Hui (Candra Naya)
berhasil dibentuk sebuah organisasi yang dinamakan Badan Permusyawaratan
Kewarganegaraan Indonesia disingkat BAPERKI dengan ketuanya Siauw Giok
Tjhan.Organisasi baru ini dalam waktu singkat mendapat sambutan luas dan
menjadi terkenal sebagai wadah golongan etnis Tionghoa dalam membela
hak-haknya, terutama yang menyangkut masalah kewarganegaraan.
Pada 6 November 1957, Menteri Pertahanan kabinet Djuanda mengeluarkan
larangan bagi warga negara Indonesia belajar di sekolah-sekolah asing.
Peraturan ini terang-terangan ditujukan kepada golongan etnis Tionghoa
yang anak-anaknya banyak bersekolah di sekolah-sekolah Tionghoa.
Akibatnya puluhan ribu murid sekolah tersebut menjadi terkatung-katung
karena tidak cukup sekolah yang dapat menampungnya.
Atas inisiatif Siauw Giok Tjhan dengan Baperkinya pada awal 1958
didirikan Yayasan Pendidikan dan Pengajaran yang dipimpin sendiri
olehnya dan mulai dibuka sekolah-sekolah untuk menampung anak-anak
tersebut. Dalam waktu singkat berdiri ratusan sekolah-sekolah yang
dikelola Baperki di berbagai kota di Indonesia. Kemudian timbul masalah
baru, kemana harus disalurkan murid-murid yang telah menyelesaikan SLA
nya ? Tempat-tempat di universitas negeri sangat terbatas dan juga
dijalankan pembatasan atau sistim jatah bagi etnis Tionghoa yang ingin
melanjutkan studinya di universitas-universitas tersebut.
Pada 1958 atas desakan pimpinan Baperki, akhirnya Siauw Giok Tjhan
memutuskan untuk mendirikan Universitas Baperki. Pada 1958 dibuka
Akademi Fisika dan Matematika yang bertujuan mendidik guru-guru sekolah
menengah. Pada September 1959 dibuka fakultas Kedokteran Gigi disusul
pada November rahun yang sama Fakultas Tehnik jurusan sipil,mesin dan
elektro. Kemudian pada tahun-tahun berikutnya didirikan Fakultas
Kedoktertan,Hukum,Ekonomi dan Sastra. Rektor pertamanya Dr. Ferdinand
Lumban Tobing dan para dekannya antara lain Ir.Pudjono Hardjoprakoso
(FT), Prof.DR. Ernst Utrecht (FE), Prof. Lie Oen Hock SH. (FH), Dr. Be
Wie Tjoen (FKG), Prof.DR.Tjan Tjoe Siem (FS) dllnya. Pada 1963,
Universitas Baperki berganti nama menjadi Universitas Res Publica
disingkat URECA yang berarti untuk kepentingan public atau umum dan
diambil dari pidato Bung Karno di muka sidang Konstituante 1959 yang
berjudul “Res Publica, sekali lagi Res Publica”. Rektor baru Ny.
DR.Utami Suryadarma diangkat menggantikan Dr.Lumban Tobing yang
meninggal pada 1962.
Dalam waktu singkat jumlah mahasiswanya bertambah dengan cepat, di
Jakarta saja mencapai hampir 6000 ribu orang pada 1965 yang datang dari
seluruh Indonesia. Banyak murid-murid lulusan sekolah Tionghoa yang
tidak dapat melanjutkan studinya ke universitas-universitas negeri atau
ke luar negeri, ditampung di Ureca. Mereka disyaratkan untuk mengambil
ijazah SMA secara extrane pada tahun berikutnya.
Pada 1962, Yayasan Pendidikan dan Pengajaran Baperki mendirikan
Universitas di Surabaya dengan fakultas-fakultas Tehnik, Hukum dan
Farmasi dipimpin oleh Prof.Gondowardojo, rektor Universitas
Airlangga.Disusul fakultas Kedokteran di Semarang dan fakultas lainnya
di Medan.
Sistim yang diterapkan di Universitas Res Publica adalah kombinasi teori
dan praktek. Pelajaran ideologi negara menjadi kurikulum wajib tingkat
persiapan di setiap fakultas dan Siauw Giok Tjhan sendiri menjadi
dosennya. Kepada setiap mahasiswa ditanamkan rasa kebangsaan yang
tinggi, demikian juga rasa kecintaan dan memiliki (sense of belonging)
universitasnya. Mungkin hanya Ureca yang mengharuskan setiap
mahasiswanya, terutama dari fakultas Tehnik untuk bekerja bakti
membangun gedung universitas dan asramanya sendiri.
Karena ketika itu sedang terjadi kesulitan pangan,maka pihak pimpinan
universitas mengajak para mahasiswanya untuk menanam jagung di halaman
universitasnya yang luas. Pada masa-masa tertentu mahasiswa-mahasiswi
Ureca aktif melakukan kerja bakti memperbaiki jalan-jalan yang rusak di
ibu kota. Ketika itu menjadi pemandangan yang biasa apabila kita melihat
gadis-gadis Tionghoa mahasiswi Ureca mengendarai mesin giling
memperbaiki jalan-jalan di Jakarta yang rusak akibat hujan dan banjir.
Para mahasiswa diberi kebebasan untuk aktif berorganisasi baik intra
maupun extra universiter sesuai dengan pilihan politiknya. Dewan dan
Senat mahasiswa menjadi mitra atau partner pimpinan universitas dalam
mengendalikan dan mengembangkan kehidupan kampus. Mahasiswa Ureca
memelopori penghapusan sistim perpeloncoan yang sudah usang dan tidak
manusiawi, peninggalan kolonial Belanda dan mengisi acara-acara Mapram
dengan acara-acara yang lebih bermanfaat seperti ceramah-ceramah, kerja
bakti, olah raga dsbnya.
Dewan Mahasiwa juga aktif ambil bagian dalam kegiatan Resimen Mahajaya,
olah raga dan di bidang kesenian. Pada awal 1965 berhasil dibentuk team
kesenian yang berhasil mementaskan drama dan kesenian yang kemudian
melakukan tour ke Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan sukses.
Pada 1964, Departemen Perguruan Tinggi dan Imu Pendidikan (PTIP)
menyamakan ijazah Sarjana Muda Tehnik, Kedokteran Gigi,Ekonomi dan Hukum
Ureca dengan lulusan universitas negeri. Pada 1965, lulusan fakultas
Tehnik dan Kedokteran Gigi Ureca diakui sebagai sarjana penuh.
Namun Ureca akhirnya menjadi korban kerusuhan dan dibakar pada 15
Oktober 1965, sebagai ekses bencana G30S. Dengan tuduhan menjadi antek
PKI dan Peking,Ureca telah menjadi korban kesewenang-wenangan tanpa
berdaya dan mengetahui apa kesalahannya. Mahasiswa Ureca di bawah
pimpinan Go Gien Tjwan dengan heroik dan gagah berani mempertahankan
kampusnya ketika diserbu, dijarah dan dibakar gerombolan liar yang
dibantu militer. Dengan penuh linangan air mata mereka menyaksikan
kampus yang dicintainya, yang bersama-sama dibangun dan dibimbing Siauw
Giok Tjhan, seorang pemimpin Tionghoa yang arif bijaksana menjadi
tumpukan puing yang sangat mengenaskan.
Ureca akhirnya diambil alih oleh Yayasan Trisakti di bawah pimpinan
orang-orang LPKB yang dibantu jenderal Nasution dan merubah namanya
menjadi Universitas Trisakti yang tetap eksis sampai sekarang. Sampai
hari ini masih menjadi tanda tanya besar, seperti juga sekolah-sekolah
dasar dan menengah Baperki yang berjumlah ratusan di seluruh Indonesia,
apa yang menjadi dasar hukum pengambil alihan tersebut, padahal negara
kita katanya negara hukum. Banyak sekolah-sekolah Baperki yang telah
disulap menjadi ruko-ruko dan perkantoran tanpa jelas status hukumnya. (den)