Apakah AS sirik atas kemajuan Indonesia karena itu menambah tarif bea masuk 
barang dari indonesia? Kan katanya AS sirik atas kemajuan Tiongkok makanya bea 
masuk barang dari Tiongkok dinaikkan. Hehehe... Sent from my Verizon, Samsung 
Galaxy smartphone
-------- Original message --------From: "Sunny ambon [email protected] 
[GELORA45]" <[email protected]> Date: 2/24/20  5:02 AM  (GMT-08:00) To:  
Subject: [GELORA45] Kadin Minta Pemerintah Lobi AS Agar RI Tetap Dapat GSP 
 



  


    
      
      
      
https://www.sinarharapan.co/ekonomi/read/13813/kadin_minta_pemerintah_lobi_as_agar_ri_tetap_dapat_gsp
  Kadin Minta Pemerintah Lobi AS Agar RI Tetap Dapat GSPSenin , 24 Februari 
2020 | 17:4AKARTA - Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P 
Roeslani meminta pemerintah untuk melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat 
(AS) agar fasilitas pengurangan bea masuk atau Generalized System of 
Preferences (GSP) dapat dipertahankan.Rosan mengatakan hal tersebut terkait 
kebijakan Kantor Perwakilan Dagang AA atau US Trade Representative (USTR) di 
Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) yang tidak lagi memasukkan Indonesia sebagai 
negara berkembang.“Belum tahu (GSP dihapuskan atau tidak) tapi kita harapkan 
ada lobi-lobi dari pemerintah agar GSP ini bisa dipertahankan atau separuh 
dipertahankan atau berubah dari segi tarif,” katanya di Jakarta, Senin 
(24/2/2020).Rosan menuturkan pemerintah juga bisa menerapkan sistem imbal balik 
kepada AS agar mendapat bea masuk lebih ringan, seperti meminta AS untuk 
membeli garmen lebih banyak dan sebagai balasannya maka Indonesia mengimpor 
kapas lebih banyak.“Mungkin saja karena perdagangan AS kan enggak hanya fair 
trade, tapi resiprokal antara kedua belah pihak. Contohnya minta AS beli garmen 
kita lebih banyak lalu, kita ambil kapas dari AS lebih banyak juga,” 
jelasnya.Sementara itu, Direktur Utama PT Pelindo IV Persero Farid Padang 
mengatakan dalam menghadapi GSP yang akan dihilangkan, maka pemerintah melalui 
Dirjen Pajak Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dapat mengeluarkan insentif pajak 
bagi eksportir.“Caranya adalah Dirjen Bea Cukai atau Dirjen Pajak mengeluarkan 
insentif pajak untuk eksportir,” katanya.Farid menyebutkan opsi lainnya adalah 
dengan mengenakan atau meningkatkan Pajak Dalam Rangka Impor (PDRI) terhadap 
produk AS sebagai bentuk kompensasi dari bea masuk yang selama ini hilang 10-20 
persen, karena Indonesia masuk G20.“Bisa saja jumlah impor dari AS yang selama 
ini datang yang devisa untuk dia, lalu kita melakukan itu juga karena dia 
melakukan itu. Bukan berarti perang tapi kita juga bangga bahwa kita masuk 
dalam G20,” katanya..Selain itu, menurut Farid pemerintah juga harus cekatan 
dan segera mencari pasar lain untuk menggantikan AS seperti berbagai negara di 
Eropa dan Afrika Selatan serta Bangladesh.“Tadinya ekspor komoditas ke AS kita 
harus cari yang baru sehingga mungkin di sana tidak memberlakukan itu supaya 
kita bisa memperoleh bea masuk seperti di sana,” katanya.Direktur Keberatan 
Banding dan Peraturan (KBP) Ditjen Bea Cukai Rahmat Subagio mengatakan 
penghilangan fasilitas GSP bagi Indonesia merupakan sebuah risiko sehingga 
pemerintah harus efisien dan meminimalkan pengeluaran.“Itu risiko kita 
ditingkatkan dari negara maju pasti dulunya bea masuk di nol kan sekarang kena. 
Kita harus efisien karena enggak bisa atur negara lain jadi kita harus bisa 
meminimalkan biaya yang dikeluarkan di sini,” jelasnya.Rahmat melanjutkan 
pihaknya kini sedang mengembangkan National Logistic Ecosystem (NLE) untuk 
menurunkan biaya logistik agar para eksportir dapat lebih bersaing.“Kita 
sekarang buat namanya NLE untuk menurunkan biaya logisitk agar bisa bersaing di 
sana. Kalau mengenai insentif kita hanya eksekusi karena semuanya di 
Kementerian Perdagangan,” katanya. (E-3)


    
     

    
    


Kirim email ke