Hahaha... saya sirik? Kalo perusahaan2 mau dibawa pergi dari sini pabriknya, 
saya mah seneng. Biar polusinya diluar saja jangan di amrik. Saya juga dah 
pensiun ga nyari kerja lagi. Anak2 sudah mantap kerjanya ga pernah nganggur. 
Mau apa lagi? 
-------- Original message --------From: "ChanCT [email protected] 
[GELORA45]" <[email protected]> Date: 2/24/20  3:51 PM  (GMT-08:00) To: 
[email protected], marthajan04 <[email protected]>, Sunny ambon 
<[email protected]> Subject: Re: [GELORA45] Kadin Minta Pemerintah Lobi AS 
Agar RI Tetap Dapat GSP 
 



  


    
      
      
      
  
  
    Dari pernyataan dibawah ini,
        jelas yang SIRIK atas kemajuan Tiongkok adalah Marthajan
        sendiri, ...!!! Karena AS selama Trump berkuasa lebih 3 tahun
        ini belum juga berhasil menarik kembali perusahaan-perusahaan
        yang beroperasi diluarnegeri, khususnya di Tiongkok, ... jadi,
        meronta-ronta menemukan jalan mengais-ngais keuntungan yang
        masih bisa didapatkan! Weleeeh, sampai-sampai Indonesia pun
        harus digolongkan negara MAJU! Hahahaa, ...
      
    
    
    On 24/2/2020 下午11:34, marthajan04
      [email protected] [GELORA45] wrote:
    
    
    
      
       
      
          
            Apakah AS sirik atas
                kemajuan Indonesia karena itu menambah tarif bea masuk
                barang dari indonesia? Kan katanya AS sirik atas
                kemajuan Tiongkok makanya bea masuk barang dari Tiongkok
                dinaikkan. Hehehe... 
            
            
            
            
            
            
            
              Sent
                from my Verizon, Samsung Galaxy smartphone
            
            
            
            
            
            
              -------- Original message --------
              From: "Sunny ambon [email protected] [GELORA45]"
                <[email protected]> 
              Date: 2/24/20 5:02 AM (GMT-08:00) 
              To: 
              Subject: [GELORA45] Kadin Minta Pemerintah Lobi AS
                Agar RI Tetap Dapat GSP 
              
              
            
             
            
              
https://www.sinarharapan.co/ekonomi/read/13813/kadin_minta_pemerintah_lobi_as_agar_ri_tetap_dapat_gsp
 
                
                
                 
                
                Kadin
                  Minta Pemerintah Lobi AS Agar RI Tetap Dapat GSP
                Senin
                  , 24 Februari 2020 | 17:4
                
                  
                
                    AKARTA
                      - Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin)
                      Indonesia Rosan P Roeslani meminta pemerintah
                      untuk melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat
                      (AS) agar fasilitas pengurangan bea masuk atau
                      Generalized System of Preferences (GSP) dapat
                      dipertahankan.
                    Rosan
                      mengatakan hal tersebut terkait kebijakan Kantor
                      Perwakilan Dagang AA atau US Trade Representative
                      (USTR) di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) yang
                      tidak lagi memasukkan Indonesia sebagai negara
                      berkembang.
                    
                    “Belum
                      tahu (GSP dihapuskan atau tidak) tapi kita
                      harapkan ada lobi-lobi dari pemerintah agar GSP
                      ini bisa dipertahankan atau separuh dipertahankan
                      atau berubah dari segi tarif,” katanya di Jakarta,
                      Senin (24/2/2020).
                    Rosan
                      menuturkan pemerintah juga bisa menerapkan sistem
                      imbal balik kepada AS agar mendapat bea masuk
                      lebih ringan, seperti meminta AS untuk membeli
                      garmen lebih banyak dan sebagai balasannya maka
                      Indonesia mengimpor kapas lebih banyak.
                    “Mungkin
                      saja karena perdagangan AS kan enggak hanya fair
                      trade, tapi resiprokal antara kedua belah pihak.
                      Contohnya minta AS beli garmen kita lebih banyak
                      lalu, kita ambil kapas dari AS lebih banyak juga,”
                      jelasnya.
                    
                    Sementara
                      itu, Direktur Utama PT Pelindo IV Persero Farid
                      Padang mengatakan dalam menghadapi GSP yang akan
                      dihilangkan, maka pemerintah melalui Dirjen Pajak
                      Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dapat mengeluarkan
                      insentif pajak bagi eksportir.
                    “Caranya
                      adalah Dirjen Bea Cukai atau Dirjen Pajak
                      mengeluarkan insentif pajak untuk eksportir,”
                      katanya.
                    Farid
                      menyebutkan opsi lainnya adalah dengan mengenakan
                      atau meningkatkan Pajak Dalam Rangka Impor (PDRI)
                      terhadap produk AS sebagai bentuk kompensasi dari
                      bea masuk yang selama ini hilang 10-20 persen,
                      karena Indonesia masuk G20.
                    
                    “Bisa
                      saja jumlah impor dari AS yang selama ini datang
                      yang devisa untuk dia, lalu kita melakukan itu
                      juga karena dia melakukan itu. Bukan berarti
                      perang tapi kita juga bangga bahwa kita masuk
                      dalam G20,” katanya..
                    Selain
                      itu, menurut Farid pemerintah juga harus cekatan
                      dan segera mencari pasar lain untuk menggantikan
                      AS seperti berbagai negara di Eropa dan Afrika
                      Selatan serta Bangladesh.
                    “Tadinya
                      ekspor komoditas ke AS kita harus cari yang baru
                      sehingga mungkin di sana tidak memberlakukan itu
                      supaya kita bisa memperoleh bea masuk seperti di
                      sana,” katanya.
                    
                    Direktur
                      Keberatan Banding dan Peraturan (KBP) Ditjen Bea
                      Cukai Rahmat Subagio mengatakan penghilangan
                      fasilitas GSP bagi Indonesia merupakan sebuah
                      risiko sehingga pemerintah harus efisien dan
                      meminimalkan pengeluaran.
                    “Itu
                      risiko kita ditingkatkan dari negara maju pasti
                      dulunya bea masuk di nol kan sekarang kena. Kita
                      harus efisien karena enggak bisa atur negara lain
                      jadi kita harus bisa meminimalkan biaya yang
                      dikeluarkan di sini,” jelasnya.
                    Rahmat
                      melanjutkan pihaknya kini sedang mengembangkan
                      National Logistic Ecosystem (NLE) untuk menurunkan
                      biaya logistik agar para eksportir dapat lebih
                      bersaing.
                    “Kita
                      sekarang buat namanya NLE untuk menurunkan biaya
                      logisitk agar bisa bersaing di sana. Kalau
                      mengenai insentif kita hanya eksekusi karena
                      semuanya di Kementerian Perdagangan,” katanya. (E-3)
                  
              
            
          
          
      
      
      
      
    
  



    
     

    
    


Kirim email ke