WSJ Masih Belum Minta Maaf
http://indonesian.cri.cn/20200225/648f34a3-941b-604a-9e31-10141607cf0e.html
2020-02-25 11:24:33
53 karyawan Wall Street Journal (WSJ) belakangan ini mengirim e-mail
bersama kepada lapisan pimpinan WSJ agar WSJ membetulkan judul artikel
komentar yakni*/China Is the Real Sick Man of Asia/*yang menyebut
Tiongkok sebagai 'orang sakit Asia yang sejati' dan meminta maaf kepada
pihak terkait. Mereka mengatakan, ini bukan masalah editor tersendiri,
bukan juga masalah kategori antara laporan berita dan artikel komentar,
ini adalah judul yang salah dan secara mendalam menyinggung banyak orang
termasuk warganegara Tiongkok. Namun juru bicara WSJ pada tanggal 22
bulan ini menyatakan bahwa pendirian pihaknya tidak berubah.
Menanggapi hal tersebut, juru bicara baru Kementerian Luar Negeri
Tiongkok Zhao Lijian dalam jumpa pers kemarin (24/02) menekankan,
Tiongkok tak mau bungkam ketika menghadapi penghinaan. Dia
mempertanyakan, WSJ mempunyai kesombongan untuk mencaci-maki orang,
mengapa tidak mempunyai keberanian untuk meminta maaf. Di dunia terdapat
satu koran yang namanya WSJ saja, WSJ berkepala batu, maka harus memikul
resiko yang setimpal, tak masuk akal untuk menolak tanggung jawabnya
dengan alasan independensi antara laporan berita dan artikel komentar.
Artikel komentar internasional China Media Group CMG yang dikeluarkan
kemarin mengatakan, pada saat krusial penanggulangan wabah sekarang,
perbuatan WSJ padahal menyampaikan suatu sinyal yang berbahaya yaitu
opini dan perbuatan Rasisme yang ditujukan pada Tiongkok atau orang
keturunan Tionghoa di AS dan sejumlah negara Barat sedang aktif kembali.
Ini tidak saja mengganggu upaya penanggulangan wabah global dewasa ini
dan juga akan menjadi bahaya laten kepada perdamaian dan pembangunan dunia.
Pada tanggal 9 bulan ini, penulis aslinya artikel*/China Is the Real
Sick Man of Asia/*/,/seorang sarjana diplomasi golongan konservatif AS
Walter Mead melalui twitternya mengatakan, mengenai artikel yang dirilis
melalui koran di AS, penulis tidak berhak menulis atau memeriksa
judulnya, soal judul perlu dibahas dengan editor. Sedangkan WSJ
mengatakan dengan tegas, bagian berita dan bagian komentar WSJ
dioperasionalkan secara independen, sementara WSJ melepaskan tanggung
jawabnya dengan alasan kebebasan opini.
53 karyawan WSJ dalam surat bersama menyatakan, judul yang salah ini
secara mendalam menyinggung banyak orang, tidak saja orang Tiongkok.
Lapisan pimpinan WSJ seharusnya mempertimbangkan direvisinya judul itu,
dan meminta maaf kepada para pembaca koran, narasumber , rekan serta
orang yang tersinggung.
Komentar CMG mengatakan, lapisan pimpinan koran tersebut harus mawas
diri, sedini mungkin memberikan balasan kepada para karyawan yang
menulis surat tersebut, Tiongkok dan komunitas internasional, jangan
menghancurkan reputasinya sebagai koran yang mempunyai sejarah seratus
tahun dan kehilangan moral dasar karena sikap yang berkepala batu.
Periset fakultas politik internasional Universitas Fudan Shen Yi
mengatakan, artikel itu dengan jelas mencerminkan rasa sombong yang
diwarnai rasisme dengan istilah yang bernada penjajah Barat. Artikel
seperti ini lolos dari pemeriksaan editor WSJ, memperlihatkan rasa
kecemasan sejumnlah elite AS terhadap Tiongkok, mereka berharap agar
virus dapat menghalangi kebangkitan kembali Tiongkok.