https://www.mongabay.co.id/2020/03/05/protes-masyarakat-banyuwangi-belum-yakinkan-gubernur-jatim-cabut-izin-perusahaan-tambang-emas/
Protes Masyarakat Banyuwangi Belum Yakinkan Gubernur Jatim Cabut Izin
Perusahaan Tambang Emas

oleh Petrus Riski [Surabaya]
<https://www.mongabay.co.id/byline/petrus-riski-surabaya/> di 5 March 2020



   -

   *Protes warga Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran,
   Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, ke Gubernur Jawa Timur agar mencabut izin
   perusahaan tambang PT. Bumi Suksesindo [BSI] dan PT. Damai Suksesindo [DSI]
   belum berbuah manis.*
   -

   *Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral [ESDM] Provinsi Jawa Timur,
   Setiajid, mewakili Pemerintah Jawa Timur, mengatakan pihaknya tidak bisa
   langsung memenuhi tuntutan warga. Evaluasi dengan mengirimkan tim khusus
   terhadap dugaan pelanggaran akan dilakukan.*
   -

   *Menurut Setiajid, berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang
   Pertambangan Mineral dan Batubara, perusahaan yang terbukti melakukan
   pelanggan akan memperoleh sanksi, diawali teguran administrasi. Pemerintah
   Jawa Timur siap menjadi fasilitator mempertemukan perusahaan dengan warga
   dan pendamping.*
   -

   *Nur Hidayat, juru bicara dan perwakilan warga tolak tambang mengatakan,
   penentuan izin perusahaan tidak pernah dibicarakan pemerintah kepada
   masyarakat setempat. Tiba-tiba sudah ada konsesi dan rumah warga dimasukkan
   dalam wilayah izin tambang emas tersebut.*



Warga Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten
Banyuwangi, Jawa Timur, mengakhiri unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Jawa
Timur, setelah perwakilan mereka bertemu Gubernur di Gedung Negara Grahadi
di Jalan Gubernur Soerjo, Surabaya, Jumat [28/2/202] petang.

Warga menuntut pencabutan izin usaha pertambangan [IUP] PT. Bumi Suksesindo
[BSI] dan PT. Damai Suksesindo [DSI], karena dinilai melakukan pelanggaran
peraturan dan merusak lingkungan.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa pun menemui 10 perwakilan
penolak tambang emas di Gunung Tumpang Pitu dan Gunung Salakan itu. Mereka
didampingi perwakilan Walhi Jawa Timur dan LBH Surabaya. Pertemuan dihadiri
juga Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, Sekretaris Daerah
Provinsi, serta pejabat terkait.

Usai pertemuan, keterangan pers disampaikan oleh Kepala Dinas Energi dan
Sumber Daya Mineral [ESDM] Provinsi Jawa Timur, Setiajid. Dia mengatakan,
pihaknya tidak bisa langsung memenuhi tuntutan warga, tapi akan melakukan
evaluasi dengan mengirimkan tim khusus terhadap dugaan pelanggaran.

“Pencabutan mungkin tidak kami lakukan, tapi evaluasi dijalankan,” jelasnya.

*Baca: Protes Tambang Emas: Cari Keadilan, Warga Banyuwangi Kayuh Sepeda ke
Surabaya
<https://www.mongabay.co.id/2020/02/16/protes-tambang-emas-cari-keadilan-warga-banyuwangi-kayuh-sepeda-ke-surabaya/>*



Spanduk tolak tambang dibentangkan di pagar depan Kantor Gubernur Jawa
Timur. Foto: Petrus Riski/Mongabay Indonesia



Inspektur tambang dan tim pengawas tambang Jawa Timur akan diturunkan ke
lapangan. Menurutnya, pengawasan operasional telah dilakukan Kementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan [KLHK], sehingga kecil kemungkinan terjadi
pelanggaran.

“Apakah ada permukiman yang kena eksplorasi? Apakah ada kawasan untuk
evakuasi bencana? Semua akan dilihat,” terangnya.

Upaya Gubernur Jawa Timur menerima perwakilan warga guna menerima masukan
dan informasi sebanyak mungkin, karena ada juga yang pro-tambang di
Banyuwangi.

Menurut Setiajid, berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang
Pertambangan Mineral dan Batubara, perusahaan yang terbukti melakukan
pelanggan akan memperoleh sanksi, diawali teguran administrasi.

“Pemerintah Jawa Timur siap menjadi fasilitator mempertemukan perusahaan
dengan warga dan pendamping,” ujarnya.

Sebelumnya, warga Dusun Pancer dan sekitar telah melakukan aksi kayuh
sepeda [*ngonthel*] dari Banyuwangi ke Surabaya, 15 hingga 19 Februari
2020. Mereka melakukan aksi pertama di depan Kantor Gubernur Jawa Timur
pada 20 Februari, dilanjutkan mogok makan pada 21 Februari.

*Baca: Kala Warga Banyuwangi Tolak Tambang di Gunung Salakan
<https://www.mongabay.co.id/2020/01/26/kala-warga-banyuwangi-tolak-tambang-di-gunung-salakan/>*



Aksi mogok makan warga Pancer, Banyuwangi, menuntut pencabutan izin usaha
pertambangan PT. BSI dan DSI. Foto: Petrus Riski/Mongabay Indonesia



*Tidak puas*

Nur Hidayat, juru bicara dan perwakilan warga tolak tambang, mengaku tidak
puas dengan hasil pertemuan ini.

“Kami ingin izin dua perusahan tersebut dicabut. Terus terang kami kecewa
karena Gubernur tidak bersikap tegas. Soal *review,* Gunung Tumpang Pitu
itu sudah rusak, kami ingin diperbaiki seperti semula,” ungkapnya.

Penentuan izin, menurut Hidayat, tidak pernah dibicarakan pemerintah kepada
masyarakat setempat. “Tiba-tiba sudah masuk konsesi begitu saja, rumah kami
pun dimasukkan. Hari ini mau dicabut saja kok pakai dikaji,” paparnya.

Konflik tambang di Gunung Tumpang Pitu, serta baru-baru ini di Gunung
Salakan, mengancam sekitar 1.500 kepala keluarga atau 6.000 jiwa yang hidup
di Dusun Pancer dan sekitar. Warga, kata Hidayat, akan tetap mempertahankan
lingkungan hidup mereka.

“Kami tidak tahu, apakah nantinya terancam digusur atau tidak. Kami memilih
untuk bertahan,” tegasnya.

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia [Walhi] Jawa Timur,
Rere Christanto menegaskan, pemerintah harus segera melakukan peninjauan
kembali IUP perusahaan yang diduga telah melakukan pelanggaran. Bila
terbukti bersalah, harus dicabut izinnya.

“*Review* tetap dijalankan, apakah pelanggaran-pelanggaran itu bisa
berujung pencabutan dan sebagainya. Hak dan wewenang ada di Gubernur tentu
saja. Kita berharap, Gubernur sungguh-sungguh bertindak atas apa yang
dilaporkan warganya,” katanya

“Kami ingin mempertahankan ruang hidup untuk anak cucu kami. Apalagi yang
sekarang itu di lingkup [Gunung) Salakan, tempat evakuasinya tsunami. Kalau
sampai ditambang, kemana kami berlindung,” ungkap Siwi Lestari, warga Dusun
Pancer.

*Baca juga: Jatam: Batubara Masih jadi Lokomotif, Oligarki Terus Bayangi
Sektor Tambang
<https://www.mongabay.co.id/2020/01/14/batubara-masih-jadi-lokomotif-oligarki-terus-bayangi-sektor-tambang/>*



Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur menemui warga Pancer yang menolak
tambang emas. Foto: Petrus Riski/Mongabay Indonesia



*Diterjang tsunami*

Walhi Jawa Timur mencatat
<https://regional.kompas.com/read/2019/01/06/07522391/melacak-tragedi-jumat-pon-jejak-keganasan-tsunami-di-banyuwangi?page=all>,
kawasan
Banyuwangi selatan pernah diterjang tsunami, lokasi yang sekarang menjadi
area pertambangan. Bila IUP perusahaan tidak dicabut, Walhi memperkirakan
akan lebih banyak korban jiwa meninggal dunia bila tsunami kembali terjadi.

“Catatan kami, tahun 1994, di kawasan yang sekarang menjadi lokasi
pertambangan pernah diterjang tsunami hingga menelan korban 200 jiwa lebih.
Jika pertambangan ini diteruskan, izin 11.000 [hektar] untuk BSI dan DSI,
tentunya potensi bencana meningkat,” ungkap Mohammad Afandi, Kepala Divisi
Advokasi, Walhi Jawa Timur.

Senior Manager Corporate Communication, Merdeka Copper Gold, Tom Malik
mengatakan, rencana eksplorasi tambahan PT. DSI di wilayah IUP di tujuh
bukit di Banyuwangi selatan, merupakan kelanjutan operasional pertambangan
yang telah dilakukan dua tahun terakhir. Warga sekitar melakukan aksi
penolakan selama dua bulan terakhir, dengan mendirikan tenda dekat lokasi
pertambangan. Merdeka Copper Gold merupakan induk perusahaan PT. BSI dan
PT. DSI.

Tuduhan warga penolak tambang mengenai aktivitas tambang emas yang
mencemari lingkungan dan air, berkurangnya sumber mata air, serta merusak
benteng pertahanan tsunami, dibantah Tom Malik.

Tom mengatakan, berkurangnya sumber mata air akibat aktivitas tambang
tidaklah berdasar. Air yang digunakan untuk operasional berasal dari enam
waduk tadah hujan yang dibangun di sekitar pertambangan. Sedangkan
kekhawatiran terjadinya bencana akibat hilangnya Gunung Tumpang Pitu dan
Salakan, tidak dapat dibuktikan kebenarannya.

“Pengurangan tinggi bukit memang akan terjadi, namun tidak mengikis habis
dan menyisakan sekitar 200 m dpl dari 380 m dpl saat ini. Hanya berkurang
100-an meter. Kami terbuka untuk mendiskusikan masalah ini,” tandasnya.

Kirim email ke