https://www.jawapos.com/ekonomi/18/03/2020/ketika-nilai-tukar-rupiah-dan-ihsg-ambles-di-tengah-wabah-korona/


*Ketika Nilai Tukar Rupiah dan IHSG Ambles di Tengah Wabah Korona*

EKONOMI <https://www.jawapos.com/ekonomi/> 18 maret 2020

*JawaPos.com* – Nilai tukar rupiah menembus Rp 15 ribu per dolar Amerika
Serikat (USD) kemarin (17/3). Tepatnya di angka Rp 15.187,50. Indeks harga
saham gabungan (IHSG) juga ambles dengan finis di zona merah.

Analis pasar modal Hans Kwee menilai pandemi virus korona baru (Covid-19)
menjadi penyebab. Banyak investor asing yang menarik diri dari pasar modal
dan lebih memilih safe haven untuk menyimpan aset.

’’Kita tidak bisa mencegah (investor, Red) asing keluar. Mengingat, jumlah
orang yang terinfeksi Covid-19 di dalam negeri juga meningkat,’’ kata Hans
kepada Jawa Pos kemarin.

Wajar, lanjutnya, jika kemudian kondisi pasar modal dan keuangan tanah air
terpukul. Sejak perdagangan pasar modal dibuka, IHSG terkoreksi 61 poin
atau 1,3 persen di posisi 4.629. Indeks LQ45 melemah 14 poin (1,9 persen)
ke posisi 717. Pada pukul 15.02, Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat
memberhentikan perdagangan sementara (trading halt). Sebab, IHSG terpantau
merosot 5 persen ke posisi 4.456. Hingga penutupan, IHSG finis di 4.456,75
atau turun 233,91 poin.

Menurut Hans, untuk menyelamatkan pasar modal Indonesia, dibutuhkan peran
investor lokal. Diharapkan, mereka tidak ikut-ikutan latah menjual saham.
Yang harus dilakukan adalah tetap tenang. Seharusnya momentum saat ini
dimanfaatkan untuk belanja saham. Memetakan emiten yang memiliki kinerja
cemerlang untuk membeli saham mereka.

’’Ketika nanti harganya kembali naik, saham bisa dijual. Pengalaman saya di
setiap krisis selalu mendatangkan keuntungan,’’ ungkap pria yang juga
menjabat direktur PT Anugerah Mega Investama tersebut.

Sementara itu, ekonom Indef Bhima Yudhistira Adhinegara memprediksi kondisi
pelemahan rupiah saat ini berlangsung hingga beberapa waktu ke depan.
Prediksi itu didasarkan pada beberapa kondisi yang terus memicu sentimen
negatif.

Bhima menyebut kebijakan Bank Sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) yang
kembali menerapkan program quantitative easing (QE) sebagai salah satu
faktor pemicu pelemahan nilai tukar. Sebagaimana diketahui, AS kembali
menerapkan QE senilai USD 700 miliar. QE adalah kebijakan moneter
nonkonvensional yang dipakai bank sentral untuk mencegah penurunan suplai
uang saat kebijakan moneter standar mulai tidak efektif.

“Nah, QE ini dilakukan ketika kondisi mendekati resesi. Ini nggak beresnya
di situ. Jadi, kondisi ini persis seperti (krisis) 2008–2009, kondisi yang
sedang nggak bagus,” ujarnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : han/dee/c14/ttg

   -

Kirim email ke